Pukul setengah empat pagi, yang kulihat di balik jendela hanyalah bahunya yang samar di antara asap rokok. Baru saja ia mendorong kereta bayi masuk ke rumah, membawa satu anak lalu berlari lagi menjemput yang lain. Sambil menenangkan buah hati yang masih menangis, terlintas sebilah pertanyaan: Lelaki itu… benar-benar bisa bertahan? --- ## Puting basah air mata dan pinggangnya yang makin bungkuk Putingku masih basah. Si bungsu tiap jam berganti menuntut susu, si sulung memanggilku bukan ‘mama’ atau ‘papa’, melainkan ‘bayi’. Apartemen 15 meter persegi ini jadi kandang kerbau kecil. Di tengah kekacauan itu, pinggang suamiku makin melengkung. Awalnya ia duduk di kursi sambil menggendong, kini ia sudah terlentang di lantai, menyeret tubuhnya ke samping anak. “Aku juga lelah” tak pernah keluar dari bibirnya—ia hanya membungkukkan badan. > ‘Dia juga mati perlahan sepertiku.’ > Saat itu aku tak lagi menyebutnya cinta, melainkan bunuh diri berdua. --- ## Bungkamnya yang menggema Sebenarnya aku mengharapkan. Ingin melihat punggungnya berteriak, “Aku menyerah!” ‘Iya, kau boleh hancur. Hanya begitu aku bisa hidup.’ Seberapa gelapkah aku. Tengah merawat dua anak hingga tulang remuk pun, kehancurannya ternyata membuatku terangsang. Ini bukan sekadar kelelahan. - Insting bertahan paling primitif: aku harus membunuhnya agar aku hidup. - Kepastian bengkok: kehancurannya baru membenarkan deritaku. --- ## Dua pemandangan yang terlalu nyata ### Lantai parkir bawah tanah, jam 01.12 Min-seok masih di dalam mobil. Mesin mati, kaleng susu bayi bergelinding di kursi penumpang. SMS istri: “Masih?” 30 menit lalu. Istri: Cepatlah pulang. Min-seok: Sebentar (lima menit itu kini dua jam berjalan) Ia tak ingin keluar. Begitu lift membawanya naik, ia tahu sofa di ruang tamu sudah basah air mata, dan tangisan anak akan meledak seperti speaker rusak. Maka ia tinggal… tertidur di mobil. Jam dua pagi, kaca berembun, ia baru sadar: ia hidup di peti bernama ‘ayah’. ### Kamar mandi, 16.46 Do-yeon duduk di kloset, si sulung mengetuk pintu. “Mama, adek pup.” Do-yeon ingin menjawab ‘Jadi?’ - ‘Jadi aku yang harus menyapu?’ - ‘Jadi aku akan dicintai seperti dulu?’ Tapi ia bangkit. Min-seok menoleh dari sofa, melihat Do-yeon lewat. Punggungnya… mayat yang masih bernapas. ‘Perempuan itu dulu kukasihi?’ Mulut Min-seok terasa pahit. --- ## Mengapa kami ingin kehancuran ini? Sepasang suami istri ibarat dua parasut yang jatuh ke titik sama. - Yang satu menyentuh tanah duluan, yang lain mendarat di atasnya. - Salah satu harus robek habis agar yang lain selamat. Parenting mempercepat kecepatan jatuh itu. Merawat dua anak, kami menjadikan pasangan umpan agar diri sendiri hidup. Kalimat ‘kau saja yang hancur dulu’ lahir dari sana. Aku masih ingat masa kecil, menonton ayah ibu saling membenci. Yang kurasakan waktu itu: ‘Cinta pada akhirnya memang membunuh.’ --- ## Jawaban yang belum terucap Masalahnya: kami berdua hidup. Lalu bagaimana yang selamat harus saling memandang? Kini Min-seok masih terlentang di sofa. Do-yeon mengantar anak tidur, lalu menatap punggungnya. > ‘Bagaimana kami saling mencintai?’ > Atau justru, ‘Bagaimana kami saling menghancurkan hingga tuntas?’ Belum ada jawaban. Hanya satu yang pasti: napas anak-anak makin berat setiap malam, dan pinggang Min-seok makin bungkuk. --- Apakah saat ini Anda sedang menatap punggung patah seseorang?
2026-03-25
Suami yang Terdampar di Lorong, Sisa Cinta yang Kulihat Hanyalah Mayat
Saat kehancuran parenting melanda, aku yang hancur merawat dua anak akhirnya hanya bisa menatap punggung suamiku yang layu. Itulah akhir kami.
← Kembali