Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Video yang Kulihat Tanpa Seizin Suami, Mengapa Aku Jadi Seorang Voyeur?

Dini hari di ruang tamu, aku menangkap suami menonton sesuatu secara diam-diam. Saat itu pula tanpa sadar aku terjerumus dalam lembah voyeurisme. Pengakuan istri-istri yang mencuri peta nafsu yang saling disembunyikan suami-istri.

pernikahanvoyeurismetabunafsumenikah

Jam 2.47 dini hari, sisi tempat tidur terasa dingin. Setelah ke kamar mandi, kulihat cahaya dari ruang tamu seolah merembes. Kulambatkan langkahku. Melalui celah pintu, terbayang punggung suami, dengan earphone menempel, tenggelam sendirian. Di layar laptop, dua perempuan saling mencengkeram rambut dan memaksa lutut menekuk. Aku tak tahu siapa yang merekam adegan itu, namun potret itu membelokkan langkahku.


Malam ketika ia lenyap

Kubuka sedikit pintu kamar mandi dan mengintip. Tangan suami menari di atas mousepad, napasnya makin berat. Seharusnya aku tak melihat ini. Tapi mataku tak bisa lepas. Gerak tubuh perempuan itu, ekspresi wajah, erangan yang nyata. Saat itu, kata secara diam-diam memenuhi kepalaku.

Apakah aku yang menyelinap menonton, ataukah aku yang menonton suami yang sedang diam-diam menonton?


Autopsi nafsu

Kami sudah tujuh tahun menikah. Seks yang dulu dua kali seminggu kini menyusut menjadi sekali-dua kali sebulan. Bukan berkurang, lenyap. Namun suami ternyata mengisi sendiri kekosongan itu. Dan saat aku mengintipnya, rasa bersalah "aku juga mengintip" kalah oleh rasa "aku juga ingin melihat". Ini bukan sekadar pengkhianatan. Ia sedang menggambar sendiri peta nafsu yang kami sembunyikan satu sama lain. Dan aku mencuri pandang pada peta itu.


Kisah nyata 1: Tontonan larut malam Sujin

Sujin (35) adalah ibu rumah tangga. Saat suami dinas luar, ia sendirian. Bulan lalu, saat merapikan laptop suami, ia menemukan folder tersembunyi. Nama filenya: "work_backup". Dibuka—lebih dari 60 GB video. Video pertama menampilkan perempuan duduk di ranjang, menelepon. Entah siapa yang mengintip, perempuan itu tak tahu. Sujin menonton sampai habis. Keesokan harinya, begitu suami berangkat dinas, ia kembali mencari video itu.

Apakah karena diam-diam menonton terasa lebih rahasia, ataukah aku ingin meniru suami yang menonton diam-diam?


Kisah nyata 2: Pengalaman Ji-young

Ji-young (32) mengambil ponsel suami saat ia tertidur larut. Kunci layar sidik jari. Dengan hati-hati, ia tempelkan jari suami. Terbuka. Masuk ke akun media sosial tertutup: 200 diikuti, 3 pengikut. Salah satu mengunggah video: dua perempuan di kamar mandi bar, saling menaikkan rok. Ji-young mengunduhnya. Dua hari kemudian, saat suami mandi, ia putar video di TV. Dinaikkan volumenya. Suami keluar, bertanya suara apa itu. Ji-young menjawab, "Tak tahu. Apa yang kau tonton hingga begitu?" Saat itu, keduanya diam-diam mengakui bahwa mereka saling mengintip.


Mengapa kita tergoda?

Saat menikah kita berjanji "berbagi". Tapi nafsu tak bisa dibagi. Maka suami mengisinya diam-diam. Dan saat aku diam-diam menontonnya, aku pun terisi sendiri. Nikmat mengintip adalah bukti bahwa "aku punya nafsu itu juga". Bukan video yang disembunyikan suami, melainkan bagian diriku yang tak bisa kami bagi. Dan saat mencurinya, aku memastikan bahwa aku punya nafsu yang sama.


Pertanyaan terakhir

Apakah kau kini juga diam-diam menonton sesuatu? Dan terbayang bahwa seseorang diam-diam menontonmu—mengapa itu justru membuat jantung berdebar?

← Kembali