Bunyi pintu yang tertutup bergema. Suami, yang tadi menyelinap keluar, meninggalkan ponselnya. Charger masih menempel, ia menghilam di tangga gelap, dan aku menoleh pada langkah yang menembus kekosongan. Seung-woo, yang sedang memutar gelas di sofa, tersenyum padaku. Seperti telah menunggu selamanya.
Saat Ia Tiada, Pegas Ranjang Ingat
Tempat tidur diam, tapi ia menyimpan. Lusa, kemarin, kemarin lusa. Ketiga malam suami dinas luar, Seung-woo datang terlambat. “Ngirit ongkos taksi,” katanya lalu rebah di sofa. Aku pura-pura tidur, tapi meraba bayang yang tercekat di ambang kamar. Boleh masuk? Pegas ranjang—tak tahu malu—mengerang pelan, meski tak tersentuh.
Apa sebenarnya kuharapkan? Agar ia tak masuk? Ataukah sebaliknya, aku merindukan ia melangkah?
Anatomi Nafsu, Tubuh Lebih Dulu Tahu
Tujuh tahun pernikahan. Yoon-hye mengira ia tahu semua tentang suaminya: bentuk jari kaki sampai kebiasaan tidur. Maka saat sang suami tiada dini hari, punggung Seung-woo berdiri tegak di depan kulkas terasa makin asing. Tiga senti lebih pendek, tapi bahu lebih lebar. Saat pinggangnya sedikit bungkuk meletakkan botol, Yoon-hye menahan napas tanpa sadar. Kenapa harus Seung-woo?
Masa kecil, suami dan Seung-woo berbagi kamar; bangun, kaki mereka bertemu di bawah ranjang. Kini kaki itu berada di meja samping ranjang Yoon-hye. Seung-woo pura-pura tak sengaja menyentuh punggung tangan. Sesaat, seluruh syaraf Yoon-hye bergetar. Baru ia tahu betapa lama gurun dalam dirinya.
Kisah Nyata 1 – Min-seo, 34 th
Min-seo ingat jelas saat pertama kali melihat Jae-hyuk, sahabat 20 tahun suaminya. Di kumpul-kumpul pasutri, Jae-hyuk datang terlambat lalu bersembunyi di belakang suaminya. Tatapnya ke Min-seo: “Ah, kau wanita itu.” Malam itu Min-seo terbaring, mengulang kalimat itu. Bobot kata wanita itu merembes perlahan di antara pahanya.
Beberapa hari kemudian suami dipanggil ke rumah sakit: pasien gawat. Ia mengira pulang sebelum subuh, tapi tak juga. Min-seo membuka mata lalu mengirim SMS ke Jae-hyuk: Belum juga pulang. Dinas? Jawabnya datang lama kemudian: Tidak, kayanya sarapan dulu. Besok sore kelihatannya baru balik.
Kata besok sore tiba-tiba menggigit belakang lehernya. Malam itu mereka cuma bertukar dua SMS lagi, namun tubuh Min-seo tak kunjung reda. Setelah suami pulang, ia masih membalik-balik pesan Jae-hyuk: Tidur nyenyak?
Kisah Nyata 2 – Ji-a, 37 th
Ji-a tergilas sejak Do-hyun—teman kuliah suami—pindah dekat rumahnya. Suaminya menemukan kost, Ji-a membantu membersihkan. Ia duduk di ranjang Do-hyun, menarik ujung seprai, dan tercium bau asing. Berbeda dari suamiku. Keringat di dahinya ia usap, tergoda tenggelam dalam aroma itu.
Do-hyun berbisik terima kasih, sekejap memegang pergelangan tangan Ji-a—rahasia. Di ujung jari itu Ji-a merasakan kembali getaran yang hanya dimiliki suami di awal pernikahan.
Beberapa pekan kemudian, larut malam, Do-hyun mampir “Wi-Fi mati”. Suami sudah lelap, Ji-a menyajikan kopi. Di bawah lampu dapur, mata Do-hyun berkilat kaca. “Kau baik-baik saja?” Ji-a tak menjawab, hanya menurunkan cangkir—kopi tumpah, mengalir di punggung tangan. Tak terasa sakit, tapi kelaparan yang tak terbendung. Do-hyun menyiapkan air dingin, memegang tangan Ji-a—getaran itu menyebar seperti pegas.
Mengapa Kita Terpikat
Pernikahan adalah batas. Teman suami berdiri di luar pagar. Kita tahu: tak boleh dilintas. Maka kian menggoda.
Punggung Seung-woo, SMS Jae-hyuk, ujung jari Do-hyun—semua menggoda di tepi kemungkinan. Psikolog menyebutnya efek reaktansi: makin ditekan, nafsu makin mengembang. Sahabat lama suami adalah yang paling akrab sekaligus larang mutlak. Celah tipis itu gila membuat kita.
Saat suami lelap, kita menghirup aroma temannya dan menutup mata. Tapi tak pernah melangkah. Tubuh hanya mengingat. Getar, gatal, dingin peluh. Menyimpan kilau itu selamanya.
Aku Tak Akan Mengetuk
Apakah ranjangmu juga pernah bergetar? Saat suami tiada, tersadar bahwa getaran itu bukan kekosongan semata. Benar, aku tahu.
Namun siapa kau bisikkan? Meski tahu nama itu bisa menghancurkan pernikahan, kenapa masih berputar di ujung lidah?
Di ambang, bayang itu masih melangkah. Apakah kau ingin ia masuk? Atau pergi? Mungkin… bukan keduanya. Yang kau inginkan mungkin hanya getaran itu sendiri.