“Sebelum bertemu denganmu, aku hanya memikirkan dia, tapi sekarang hanya kamu.” Malam itu, saat kami masih dalam euforia awal menjalin cinta, aku duduk di ujung ranjang sambil mencengkeram kaleng bir. Satu baris itu menancap di telinga hingga menerjang ke tulang belakang. Ada sesuatu yang meresahkan. Kenapa harus menyebut ‘dia’? Kenapa menggunakan kata ‘memilih’? Seperti aroma kemenangan yang dipamerkan oleh pemenang perang sambil melambaikan trofi.
Bola mata yang terpotong di dalam foto
Ketika kita menebas masa lalu seseorang, barulah kita merasa lega. ‘Dia tak memeluk masa lalu perempuan itu’ berarti ‘aku lebih berharga’. Namun dari tempat yang dipotong, darah mengucur. Tatapan mata perempuan itu tempo dulu, kotak hadiah yang disembunyikan, ujung sweater yang tersingkap di kursi belakang—semua itu muncul dan mencengkeram jantung. Mengetahui semuanya justru merenggut kita berdua.
Kisah pertama | Yuri, 29 tahun, Daejeon
Yuri menangis sejadi-jadinya di toilet bar anggur kecil di Yeonnam-dong saat itu. Tae-min, kekasihnya, berbisik dengan wajah berlumur mabuk: Aku benar-benar melepaskannya sejak bertemu denganmu. Percayalah.
Mantan Tae-min adalah senior di klub kampus. Hanya melihat fotonya saja, Yuri tahu si perempuan itu tinggi dan punya lesung pipi kanan yang mancung saat tersenyum. Setiap malam Yuri mengetik ‘lesung pipi’ di Google. Ia membayangkan wajah Tae-min tenggelam ke dalam lesung itu hingga napasnya tercekat. Akhirnya ia menemukan nomor tersimpan ‘Sunbae’ di ponsel Tae-min dan memblokirnya. Lalu, dalam satu tarikan napas ia membuka notepad dan mengetik: ‘Aku berbeda dari masa lalunya. Aku lebih bersinar.’
Namun sejak hari itu, setiap kali Tae-min menyingkirkan poni Yuri, yang terbayang adalah senyum berlesung pipi itu. Ia menyandingkan setiap sentuhan Tae-min dengan sentuhan si senior. Lalu ia bergesek lebih liar; hanya dengan begitu ia merasa bisa membuktikan bahwa dirinya ‘baru’.
Kisah kedua | Hye-jin, 33 tahun, Gwangalli, Busan
Dua bulan menjelang pernikahan, di hari pertunangan, Hye-jin mendengar ibu mertuanya berkata:
Kalau bukan kamu, anakku sudah mengajak perempuan lain pulang. Tapi dia lebih menyukaimu, jadi dia putus.
Hye-jin menurunkan gelas sampanye dari tangannya. Perempuan lain? Putus? Malam itu ia bertanya pada tunangannya, Ji-hoon. Siapa yang dimaksud? Mantan pacarmu? Ji-hoon tak menjawab; ia menekan kepala Hye-jin ke dadanya.
Itu cuma masa lalu. Yang penting kini kau ada di sini.
Sejak saat itu, Hye-jin membongkar laci di rumah Ji-hoon. Ia menemukan tumpukan tanda tangan, foto Ji-hoon bersama seorang perempuan di Jeju, satu lembar tiket bioskop mereka. Ia merobek tiket itu. Sambil merobek, ia membelai pinggirannya seolah terhipnotis. Mengapa Ji-hoon tak membuang tiket ini? Ia menyusun kembali potongan-potongan yang sobek, lalu menangis sejadi-jadinya.
Di hari pernikahan, Hye-jin meletuskan kembang api untuk masa lalu Ji-hoon. Ia memilih lagu daerah sebagai pengiring, dan menolak Jeju sebagai destinasi bulan madu. Setiap pilihan itu adalah balas dendam terhadap masa lalu yang ‘diputuskan’ Ji-hoon.
Mengapa kita tergila-gila pada kalimat itu?
Inti kalimat itu adalah kuasa memilih. Tatkala seseorang berkata, “Aku memilihmu,” di hadapan masa lalu pasangan, kita menjadi hakim yang menakar bobot seseorang. Masa lalu itu bukan lagi manusia hidup, hanya selembar foto yang diambil. Kita menempelkan wajah kita di atasnya. Bagian yang tak ada dirimu, kuisi dengan diriku.
Namun di saat itu kita sudah berada di posisi kalah. Sebab pasangan kita bukan lubang untuk mengisi bekas ‘dia’, melainkan cinta ‘yang diperbarui’ yang harus terus-menerus diverifikasi. Kita dipaksa membuktikan diri tanpa akhir. Setiap hantu masa lalu muncul, kita harus tertawa lebih terang. Harus memeluk lebih hangat. Jika tidak, kita takut kembali menjadi ‘dia’.
Dalam balapan aneh ini, sesungguhnya kita berkelahi dengan diri sendiri. Nafsu ingin mencabut ‘masa lalu’ dari pasangan yang masih menyimpannya. Tapi masa lalu itu seperti tato yang sudah tertanam di kulitnya tak bisa dilepas. Maka kita mencangkokkan daging baru di atas tato itu. Jika daging itu tumbuh, akankah menutupi tato? Ataukah tato itu justru menekuk daging baru?
Apa yang sedang kau pilih sekarang?
Dia berkata:
Aku hanya memandangmu sekarang.
Yang tersirat bukan penghapusan masa lalu, melainkan pemanggilannya. Apa yang kau rasakan saat mendengarnya? Senyum kemenangan, atau ketakutan yang mendingin? Mungkin kau sudah tahu: bahwa dia yang tak memeluk masa lalu, pada akhirnya bisa memutuskan masa depan yang lain.
Maka kutanyakan: kini sedangkah kau berdiri di rak buah pilihan seseorang, di atas masa lalu siapa? Dan di rak itu, siapakah yang sebenarnya ingin kau hapuskan?