Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Sujin, Saat Menjawab Telepon Aku Menjadikannya Seperti Binatang

Setelah perselingkuhan panjang dengan Sujin, istri Minwoo, aku menelponnya. Satu kalimat saja menjadikan kami tiga orang binatang.

perselingkuhanbalas dendam17+thriller psikologishomoseksual
Sujin, Saat Menjawab Telepon Aku Menjadikannya Seperti Binatang

0. Di layar terkunci muncul nama ‘Istri’. Sujin.

“Aku tidur dengan suamimu. Tolong hentikan hubungan kalian.”
Sekejap napasku putus. Sinyal terputus. Jari membeku. Layar dingin menyentuh pipi. Kata yang tak bisa diulang merobek udara.


1. Minwoo sejak hari pertama memang suami orang.

Di kumpul-kumpul kantor, dia memamerkan foto Sujin berputar di tangan semua orang. Rekan satu tim, satu proyek, satu lembur yang kita bagi. Ketulusannya perlahan menjelma racun, dan aku ingin mencicipinya.
Pertama kali bertemu Sujin hanya berdua usai arisan klub malam. Minwoo pulang duluan, kami berbagi satu payung. Tetes hujan mengetuk atap terpal, bau sampo dan hujan bercampur mendidih. Sejak malam itu, di balik tengkuk Minwoo selalu ada ciuman Sujin.


2. Sebulan lalu, lantai basement tiga parkiran.

Di balik sekat gelap, mata Sujin di kursi penumpang berkilat. Di situ terpantul wajah Minwoo. Karenanya kudekap lebih dalam, lebih dalam, bibir bertaut. Dari lehernya tercium aroma Minwoo. Aku ingin mengikis sisa aromanya dengan ujung lidah.

Hari ini benar-benar terakhir.
Kalimat itu adalah sumpah tersembunyi, sekaligus sinyal permulaan yang lebih gelap. Lembur Minwoo adalah pintu ruang bawah tanah kami. Kepercayaan adalah gembok paling kokoh yang menyimpan rahasia.


3. Setelah habis satu botol, kugenggam ponsel.

“Aku sedang tiduri suamimu. Tolong hentikan hubungan kalian.”
Diam panjang. Saat telepon mati, tersenyum tulus Minwoo terbayang. Tepuk bahunya setiap kali menyerahkan proyek. Suara kepercayaan yang pecah pasti sungguh pilu. Apa sebenarnya yang kukejar? Menginginkan seluruh Minwoo? Atau hanya ingin berdiri di atas pecahan kepercayaan yang remuk?


4. Jam dua pagi, sedan hitam Minwoo masuk.

Kaca sedikit turun. Minwoo duduk di kursi penumpang. Matanya tidak terpejam. Ia menatapku. Kami saling memandang. Ia tenang. Sujin pasti sudah bercerita. Atau, ia sudah mendengar panggilanku. Minwoo pelan menyalakan mesin. Mobil melaju perlahan. Aku menatap punggungnya. Segera lenyap dalam gelap.


5. Kugenggam ikat rambut sutra hitam yang tergeletak di kursi penumpang.

Tinggal Sujin di mobilku. Minwoo belum tahu. Bahwa istrinya pernah duduk di sini. Ku-start mesin. Begitu keluar ke jalan, kulihat mobil Minwoo. Berhenti di lampu merah. Bayangan punggungnya samar. Lampu hijau. Minwoo menyalakan lampu sein kanan. Aku ikut. Ia belok kiri. Aku ikut. Kami saling mengejar. Minwoo menarikku. Akhirnya mobilnya kembali ke parkiran. Aku ikut masuk.
Minwoo turun. Ia mendekat. Aku mundur.

“Berhenti.”
Satu kata. Aku mengangguk. Minwoo kembali ke mobilnya. Aku pun pulang. Mobilnya melaju lagi. Aku menatap punggungnya. Lenyap dalam gelap. Di dalam mobil, kugenggam erat ikat rambut itu.
Minwoo percaya padaku, dan aku mengkhianati kepercayaannya. Sujin mencintaiku, dan aku memanfaatkannya. Apa yang telah kujadikan diriku? Apakah ingin menjadi bayang-bayang Minwoo? Atau justru ingin menampakkan diri dalam bayang-bayangnya?
Mobil meluncur pelan ke dalam gelap.

← Kembali