Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Aku ingin membalikkan dan memasukkanmu ke dalam diriku

Gumaman lirih ‘membalik ke dalam’ dalam mabuk. Satu gerakan tabu mengungkap hasrat terpendam—beranikah kita jadi diri sejati?

tabumembalikkanmalammabukbisikanhasrat

"Aku ingin membalikkan dan memasukkanmu ke dalam diriku" katanya

"Hei, kau… mendengarnya tadi?" Aku, separuh mabuk, separuh terpejam, menggigit cuping telinganya. Hidung kami bertemu, uap alkohol bercampur. Di tengah kehangatan itu, dia berbisik lembut ke telingaku.

Membalikkan ke dalam. Sekali saja, mau?

Wajah kami di cermin bar bergelombang seperti kain lecek. Aku tak pernah mendengar istilah itu. Ke dalam? Ke mana? Apa yang dibalik? Namun tatapannya telah menembusku. Seolah ia tahu jawabannya lebih dulu, tanpa bertanya.


Seperti membalikkan barang, saat kita membalikkan diri sendiri

Setiap dari kita, di titik tertentu, terasa ingin membalikkan dunia terbalik. Padahal yang harus dibalik barangkala bukan dunia, melainkan diri sendiri.

Membalik ke dalam (inside-out) ialah mengeluarkan isi hati ke permukaan. Bagian paling sensitif, yang ingin disembunyikan, yang tak boleh terlihat siapa pun.

Ketika kita percaya bahwa yang kita sembunyikan takkan dicemooh olehnya, manusia pun rela membalikkan diri.

Ini bukan sekadar telanjang. Ini hasrat agar kekurangan, kehinaan, dan dorongan liar kita disentuh pelan. Seperti membalikkan kantong kain yang kosong, kita menampakkan titik paling rapuh dan berbisik, "Apakah ini pun bisa dicintai?"


Kasus pertama: Jungwoo dan Jian, kamar 1207 hotel

Jungwoo pertama kali memperagakan ‘membalikkan ke dalam’ pada Jian.

Hotel Gangnam, kamar 1207. Tirai tertutup rapat, mereka di ujung ranjang. Jian gugup; Jungwoo mencengkeram tali kulit di tangan.

"Tutup mata, ya?"

Saat Jian menutup mata, Jungwoo perlahan membuka kancing kemejanya. Tapi bukan untuk melepasnya. Setelah semua kancing terbuka, ia membalikkan kemeja ke dalam.

Kulit yang basah keringat tampak. Kilas balik—ia pernah benci pada pantulan dirinya di cermin kamar mandi.

"Ini wujud yang kusembunyikan. Bau keringat, bau daging mentah dari tubuhku—semua terbongkar. Masih… tak apa?"

Jian membuka mata sekilas, lalu menutupnya lagi. Ia ulurkan tangan, menyelinap ke balik kemeja yang terbalik. Menyentuh tubuh Jungwoo, meredam keresahannya.


Kasus kedua: Minseo, sebotol Merah yang mengosongkan pintu

Minseo, 31, akun eksekutif di agensi iklan. Jumat malam, mabuk lebih dulu setelah pesta kecil bersama tiga kolega. Begitu membuka pintu apartemen, pacarnya Hyeoksoo menyambut.

"Kau bau alkohol."

Hyeoksoo menarik Minseo ke ruang tamu. Ia buka kancing blus Minseo sambil berkata, "Cerita siapa yang kau temui malam ini. Kalau tidak, kubalik semuanya."

Minseo melawan. Hyeoksoo tetap membalikkan blus itu—punggung Minseo telanjang.

Dadanya tiba-tiba sesak. Ia memang tak minum sendirian, dan sedikit demi sedikit mulai menyukai seseorang.

Hyeoksoo mencium punggungnya, berbisik, "Cerita semuanya. Baru aku bisa memelukmu lagi."


Sumber gerak hati yang menarik tabu

Mengapa kita ingin memperlihatkan bahkan yang paling kita sembunyikan?

Psikolog menyebutnya struktur ganda identitas: di luar utuh, di dalam tersembunyi rapat. Namun ketika kita ingin menunjukkan diri sejati, kita memilih hukuman pembalikan.

Pembalikan ini bisa berupa rasa sakit fisik atau pengakuan mental. Yang terpenting: ingin tetap dicintai meski sudah terbalik. Kita hanya butuh satu orang yang mengakui bahwa wajah sosial yang terlepas dan isi hati yang terbongkar tetap layak dicintai.


Kini, apa yang kau ingin balikkan?

Berpikirlah sejenak. Rahasia tak terucap, aib tak terhapus, sesuatu yang bila ketahuan bisa mengakhiri segalanya.

Jika kau punya keberanian memperlihatkannya pada seseorang, akankah kau lakukan? Atau kau akan kubur selamanya tanpa pernah terbalik?

← Kembali