Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Apapun yang Kau Lakukan Tak Mengapa: 17 Keinginan Tersembunyi di Balik Kalimat Itu

'Aku mencintaimu' tak separah 'apapun yang kaulakukan tak mengapa'. Kita telusuri api tabu dan jurang nafsu yang mengguncang jiwa.

tahap awalketidakpastianpengakuanobsesinafsu terlarangpsikologi
Apapun yang Kau Lakukan Tak Mengapa: 17 Keinginan Tersembunyi di Balik Kalimat Itu

Di belakang kantor, di pojok merokok, waktu untuk menghisap satu batang selalu terasa kurang. Jam dua pagi setelah kereta terakhir lewat, Min-su menyalakan rokoknya sebelum aku sempat meneguk bir. — Ternyata memang tak bisa berhenti ya. — Kau juga sama saja. Hening sesaat yang tak tertahankan. Min-su menghembuskan asap ke arahku sambil berkata: — Apapun yang kaulakukan, tak apa-apa. Aku nyaris berhenti bernapas. Itu adalah izin yang lebih biadab daripada kata cinta. --- ## Bom waktu sebelum ciuman Aku mencintaimu adalah kontrak yang jelas. Apapun yang kaulakukan, tak apa-apa adalah kobaran api yang membakar kontrak itu. Yang pertama menuntut tanggung jawab. Yang kedua menumpulkan semua tanggung jawab ke pundakku. > Saat itu aku tahu, itu bukan berarti ‘Aku akan menjaga agar pilihanmu tak melukaimu’. Melainkan ‘Kau boleh menyakitiku, meninggalkanku, menipuku, dan aku akan bertahan, silakan lakukan apa saja.’ ## Kisah nyata pertama: Maret 14 milik Yuri Yuri, 29 tahun, account executive di perusahaan desain. Malam White Day, ia duduk di bangku taman Fountain dengan pria yang baru 60 hari menjadi kekasihnya. — Sebenarnya… hari ini aku bisa bertemu orang lain juga. — Oh ya? — Kupikir kau akan marah. — Bisa jadi aku marah… tapi apapun yang kaulakukan, tak apa-apa. Malam itu Yuri pulang ke apartemennya. Cokelat yang tumpah di seprai masih belum mencair sepenuhnya. Ia merapikan rambut Yuri sambil berbisik: — Kau masih bisa memikirkan orang lain sekarang. Aku sanggup menahan diri. Dia sungguh-sungguh. Itu yang membuatnya semakin menakutkan. Sebelum April usai, Yuri meninggalkannya. Namun kalimat itu terus bergema di telinganya. --- ## Kisah nyata kedua: Parkir bawah tanah milik Hyun-woo Hyun-woo, 31 tahun, konsultan di perusahaan multinasional. Malam ia hendak bercinta pertama kali di mobil dengan gebetannya, petugas keamanan menangkap mereka di parkiran basement. Senter yang menyinari jendela, sang gebetan berkata: — Kita berdua selesai. — Tidak. — Kau harus turun juga… bagaimana? — Apapun yang kaulakukan, tak apa-apa. Aku turun sendiri. Hyun-woo dibawa ke ruang satpam sendirian. Denda Rp 1 juta. Petugas ragu mau melapor ke kantor atau tidak. Di depannya, Hyun-woo membaca pesan singkat: Benar-benar tak apa kalau aku lenyap? Sejak hari itu ia tak pernah bertemu wanita itu lagi. Tapi karena kalimat itu, ia terus mengintip media sosialnya. ## Cara melahap larangan Mengapa kita begitu tergila-gila pada ‘izin’? Sebab pada akhirnya itu cara tercantik untuk menyerahkan diri. > ‘Lewati batasanku saja’ pada dasarnya sama dengan ‘hilangkanlah aku’. Dan kita paling bergairah saat menyaksikan seseorang menyerahkan seluruh dirinya. Para psikolog menyebutnya disosiatif permission. Mereka yang tumbuh dengan batas orangtua yang tak konsisten, terpikat pada izin yang tak pasti. Semakin tidak pasti, semakin memabukkan. Seperti Russian roulette. --- ## Mengapa kita terpikat Aturan yang sudah pasti membosankan. Kata cinta adalah kontrak. Namun apapun yang kaulakukan, tak apa-apa adalah kobaran api yang membatalkan kontrak. Kalimat ini seketika melumpuhkan semua benteng pertahanan yang kau bangun. Kau boleh menyakitiku, kau boleh mengkhianatiku, karena pada akhirnya aku yakin bisa bertahan. Ini bukan cinta. Ini adalah pemusnahan. Dan kita paling tergetar saat menyaksikan seseorang rela binasa demi kita. Lalu kita salah mengira getar itu sebagai cinta. --- Jika memang ada orang yang rela kau lakukan apa pun, sadarilah: bukan karena dia mencintaimu sepenuhnya, melainkan karena dia membenci dirinya sendiri. Kapan kau akan menyadarinya?

← Kembali