Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Pukul 02.29 Subuh Ketika Rahangnya Merosot

Ketika mitos ‘cowok cakep=penuh tipu’ terbongkar di atas ranjang, ia bukan hantu, melainkan dirinya sendiri yang terperangkap.

nafsuprasangkafisikranjangsubuh
Pukul 02.29 Subuh Ketika Rahangnya Merosot

“Lihat, matanya sempurna banget. Rasanya dia sedang menyembunyikan sesuatu.” Ha-gyeong tak bisa melepaskan ponsel yang diulurkan Soo-jin. Rahang Min-woo di layar tajam seperti silet yang baru diasah. Ribuan komentar, hati-hati bertebaran. Soo-jin menambah santai, seolah bukan hal penting.

“Cowok ganteng semuanya begitu. Jangan percaya.” Saat kalimat itu menyentuh telinga, tubuh Ha-gyeong membara. ‘Aku pasti berbeda.’


Sebulan kemudian, sebuah wine bar di Gangnam. Min-woo duduk di hadapan Ha-gyeong. Tinggi 185 cm, perusahaan asing, koleksi anggur merah lebih dari 200 botol—semua profil itu terbukti nyata lewat balik gelas. Begitu Min-woo pergi ke kamar kecil, Ha-gyeong buru-buru membuka KakaoTalk.

Ha-gyeong: Karena terlalu tampan jadi agak sebel Ha-gyeong: Tapi matanya tampak tulus, jadi bingung

Pintu terbuka. Min-woo kembali, lalu menepuk bahu Ha-gyeong dengan lembut. Ujung jarinya menyentil kulit yang langsung terasa perih. “Ada debu tadi.”

Malam itu mereka berdua di atas ranjang. Setelahnya, Min-woo terus mengelus kepalanya. Jari-jari lengket meluncur dari dahi hingga ke kelopak mata. Aroma samar menyeruak—sampo, keringat, dan sisa bau anggur merah yang asing. “Aku sebenarnya jarang pacaran. Orang-orang cenderung terluka.” Ha-gyeong tersihir oleh kalimat itu. ‘Aku yang spesial.’

Keesokan harinya, kontak putus. Namun rahang Min-woo terus berputar di kepala seperti napas semalam.


Sepuluh hari kemudian, ruang kuliah pascasarjana. Ha-gyeong menatap lengan atas senior, Soo-bin. Uratan pembuluh biru naik-turun di balik kancing kemeja. Soo-bin selalu menggulung lengan saat menjelaskan. “Di depan profesornya harus lebih hati-hati, makanya…” Kalimat itu membuat tubuh Ha-gyeong membara lagi. ‘Aku sedang menerobos larangan.’

Tumpukan makalah di atas meja laboratorium, napas yang datang dari belakang—film di kepala mulai bergulir. Nyatanya tak seindah itu. Soo-bin menyebarluaskan catatan kecil Ha-gyeong dengan kata “lucu” ke kawan lain. Harga diri tergores, selama berminggu-minggu Ha-gyeong hanya memandangi punggungnya.


Perlahan Ha-gyeong sadar. Rumus ‘cowok cakep=bajingan’ justru menjerumuskannya lebih dalam. Begitu menilai dari wajah, ia tak bisa menerima ketulusan yang datang. Di sisi lain, hasrat menembus tameng itu muncul terbalik. Ketika ilusi ‘aku pasti berbeda’ muncul, ia melaju di atas peta polusi psikologis yang ia buat sendiri.


02.29 subuh. Ha-gyeong terbaring sendiri di ranjang. Ia memperbesar lagi foto Min-woo di layar. Rahangnya seperti bayang yang terjatuh, membelah gelap. Ia tarik napas dalam. Aroma di seprai masih tersisa—sampo, keringat, sisa anggur merah—berkeliaran.

‘Kali ini pasti beda.’ Ia berbisik sambil menegakkan ibu jari kanan. Namun jari itu gemetar. Jurang antara menolak supremasi fisik dan tetap tergoda sorot mata—ibarat alkohol: kita bilang berbahaya, tapi tetap ingin teguk setiap malam.

Kalau cowok tampan itu benar-benar iblis, kenapa ia masih berharap sang jawara berpura-pura menjadi malaikat di atas ranjang?

Atau, pertanyaan sebenarnya begini: Apakah kau masih ingin percaya senyumnya sampai akhir?

← Kembali