Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Dia Tahu Cara Mencekik Leher Pria Sambil Tersenyum

36 tahun, menelan cemburu hingga tenggorokan namun tetap tersenyum anggun. Dia mengubah kontrol menjadi permainan.

cemburumenahanpermainan-kuasahubungan-dewasakekuatan-takterlihat
Dia Tahu Cara Mencekik Leher Pria Sambil Tersenyum

Pukul 23.47, bar belakang Coex Gangnam. Wajahku di cermin kaca terlalu tenang, sampai aku sendiri tak suka.

—Nona cantik sekali malam ini, pakai apa?

Tangannya yang menelusuri rambut wanita di sampingnya tertancap di sorot mataku. Aku mendorong gelas anggurnya ke atas pelan sambil tersenyum.

‘Membunuhnya, atau menjadikannya lebih menarik?’


Duri yang Ditelan

Cemburu memang begini. Kemampuan merasakan dua hal sekaligus: dorongan membunuh dan kenikmatan luar biasa.

Selama 36 tahun, otot menahan sudah melekat di tubuh. Tahun pertama aku menangis. Tahun kedua aku berteriak. Tahun ketiga aku mengintip ponselnya diam-diam sampai tanganku kaku.

Lalu, tiba-tiba, muncul titik di mana cemburu bisa diubah jadi ‘permainan’.


Lipstik yang Lenyap

Musim gugur lalu, kafe brunch di Rodeo Apgujeong. Lawan mainku, pacar enam tahun, ‘Jae-hoon’. Hari itu pesta selamat datang untuk rekan kerja baru, ‘Chae-won’. Chae-won sangat menyukai gayaku.

—Nona, gayanya keren sekali. Aku juga ingin jaket kotak-kotak seperti itu, merek apa?

Jae-hoon menjawab.

—Itu mahal. Gila kau.

Aku mengangguk dan menatap sepotong ayam yang tersisa di piring salad.

Keesokan harinya di depan cermin kamar mandi. Lipstikku lenyap. Merah gelap, matte, hadiah ulang tahun dari Jae-hoon. Pasti kini berada di bibir orang lain.

‘Tahan saja.’

Yang muncul justru pikiran: ‘Bagaimana menyaksikan mereka dengan cara yang lebih memikat?’


Gaun Sutera Hitam

Tiga minggu kemudian, ulang tahun Jae-hoon. Aku muncul mengenakan gaun sutera hitam. Di belakang leher, pita sedikit terurai.

—Wah, nona kenapa hari ini?

Chae-won berseru. Aku tersenyum.

—Hari spesial.

Satu gelas, dua gelas. Saat Jae-hoon ke kamar mandi, aku membuka dompet koin di atas meja. Di belakang kartu kredit Chae-won. ‘Kartu kredit bodong.’

Pelan kukembalikan kartunya. Ketika Jae-hoon kembali, aku meletakkan tangan di atas lututnya.

—Chae-won, boleh lihat kartu Anda?

Chae-won tergagap menerima dompetnya. Jae-hoon menangkap situasi.

—Ada apa?

Aku tersenyum tipis.

—Begini, ada rumor. Mau memastikan orang yang bisa dipercaya.


Mengapa Kita Berdiri di Titik Ini

Wanita dewasa tidak ‘menutupi’ cemburu, melainkan ‘menggunakannya sebagai alat’.

Psikolog Nathaniel Branden mengatakan, "Cemburu adalah sinyal ancaman terhadap harga diri," namun aku menambahkan, "Kemampuan mengubah ancaman itu jadi permainan yang terkendala.”

‘Fakta bahwa perhatiannya tersedot ke orang lain’ memang tak nyaman. Namun, ketidaknyamanan itu bisa ditingkatkan jadi ‘strategi menggali lebih dalam’.


Adegan Terakhir

Beberapa hari lalu, Jae-hoon lagi mengirim pesan "lembur”.

Aku membeli dua kaleng bir di minimarket depan rumah. Kutinggalkan satu file rekaman di depan pintu. Di dalamnya, percakapan semalam dengan teman-temannya.

‘Hyung, pacarmu menakutkan. Tatapan matanya…’ ‘Tapi aku tetap suka. Merasa terpenjara, tapi juga sangat bebas.’

Kududuk di sofa ruang tamu dengan recorder di tangan. Dadaku terasa hangat.

‘Menahan bukan sekadar menelan, melainkan menghitung saat untuk meludahkannya kembali.’

Kuminum bir pelan. Aku bertanya-tanya, ‘Apakah saatnya sekarang, atau ini hanya pembukaan permainan baru?’


Berapa kali kamu ‘melewati begitu saja’ sampai kini? Dan setiap kali itu, apakah kau merasa sesuatu di dalammu makin mengeras?

← Kembali