Tangannya yang mencengkeram seprai terasa membara. “Mau nggak… itu… ujung kakiku saja… masukkan ke dalam mulutmu.”
Ketika itu, yang terlepas dari bibirku adalah tertawaan—bukan canda, bukan ejekan, melainkan teriakan pendek yang meledak bersama napas panas. Tawa itu menelan sekaligus seluruh kata yang melayang di dalam diriku.
Pupil Merah, Hari yang Pertama dan Terakhir
Sejak hari itu, dia tak pernah lagi menatap mataku. Pandangannya di atas kasur menjadi buram; yang terus bergerak hanya ujung jarinya.
Saat jari itu menyentil ujung kakiku, aku ragu—hasrat yang tampak itu milik siapa sebenarnya?
Yang diulurkannya hanya kaki, tapi yang kutemui adalah ketakutannya.
Tawa bermula dari sana. Tawa yang tak terbendung. Setiap kali aku tertawa, ia menengadah. Aku mengikuti kemerahan daun telinganya yang terselip di balik kepala yang dipalingkan, dan baru kusadari: yang ia inginkan hanyalah penyerahan semata.
Minji dan Jihun, Serta Satu Langkah
Minji berlutut di kaki ranjang. Setiap kali telapak tangannya mencengkeram seprai, tempat tidur itu bergetar pelan.
Jihun duduk di ujung kasur, kepalanya sedikit condong.
“Jihun, aku… ingin melihat ujung kakimu.”
Minji menggigit bibir. Kata itu membuat ruangan mencekam.
Jihun mengangguk. Tak ada jawaban, namun tubuhnya miring pelan.
Minji melangkah, lalu melangkah lagi, lalu mengecup kaki Jihun. Sentuhan ujung jarinya membuat Jihun menelan napas pendek.
“Begini… caranya?”
“Iya, Minji. Cukup… rasakan.”
Minji menunduk. Dahi menyentuh lutut Jihun, dan untuk pertama kalinya Jihun memejamkan mata.
Dengan jari, Minji mengusap punggung kaki, mencatat setiap getar yang Jihun rasakan. Ia mencubit lembut ujung jari kaki; Jihun menghembus napas sesuai irama.
Minji mengikuti hembusan itu, perlahan menurunkan kepala. Saat rambutnya menyapu punggung kaki, Jihun menghela panjang dan memanggil namanya.
Junho dan Dia, Serta Cermin
Junho selalu berkata padanya, “Jangan menatapku. Cukup… rasakan.”
Awalnya, dia tak mengerti. Hingga suatu hari, dengan ujung jarinya mengetuk kaki Junho, dia bertanya:
“Di sini… aku bisa merasakannya?”
Junho mengangguk.
Dia menunduk perlahan. Ketika helai rambut menyentuh punggung kaki, Junho menggigil kecil.
Dia merasakan getaran itu, satu tangan membelai pergelangan kaki, satu lagi mengusap punggung kaki.
Junho menengadah menatap langit-langit, mata berkaca.
“Ternyata… begini caranya.”
Dia meniup lembut ke ujung kaki Junho. Junho tertawa pelan sambil menghela napas.
Dia menurunkan kepala mengikuti tawa itu. Junho tak menatapnya, tapi dia merasakannya.
Hasrat yang Menyimpan Tabu
Tabu selalu liar. Yang dilarang membuat mata tak bisa lepas, dan kita ketagihan pada keganasannya.
Namun kecanduan itu bukan sekadar nafsu; itu perasaan rumit: rasa takut dan kerinduan yang terjerat bersama.
Kami tertawa bukan ketika tahu tabu tak bisa dipatahkan, melainkan ketika sadar bahwa kami harus memeluk tabu itu dan tetap hidup.
Kuburan di Ujung Tempat Tidur
Tempat tidur adalah kuburan kami. Di dalamnya kami saling menguburkan, lalu saling menggali lagi.
Namun kami telah saling kehilangan. Kami kehilangan diri kami sambil mencari diri kami.
Lalu kami menggantikan yang hilang itu dengan ujung kaki masing-masing.
Tawa yang meledak di ujung kasur bukan sekadar tawa. Itu rasa takut dan hasrat, penyerahan dan kerinduan yang bercampur.
Tawa itu menelan semua kata yang melayang di dalam diri kami.
Sekarang, kau menggantikan dirimu dengan apa?