“Tunggu di sini ya, aku sebentar lagi kembali.”
Di bawah lampu merah muda pekat ruang pemulihan, Jisu masih bersila di lantai dengan jubah rumah sakit menutupi tubuhnya. Sepuluh menit lalu, kekasihnya masih di sisinya; kini, dingin berbisik: “Sepertinya kamu perlu istirahat lebih lama.” Lalu lenyap. Sebuah operasi pembuluh darah kecil saja, bukan operasi jantung.
Jisu menggenggam teleponnya gemetar. Belum diblokir. Pesan terakhirnya terbaca, tak dibalas.
Tapi aku tak boleh keluar. Siapa tahu kapan kamu kembali.
Suhu tubuh yang merosot
Ruang tunggu ternyata panjang. Kursi merah kusam, lampu neon berkedip seolah bernafas. Jisu memeluk erat tas kulit cokelatnya. Di dalamnya masih ada rompi rajut milik kekasihnya. Aroma chamomile yang biasa tercium dari lehernya masih menghantu.
Perawat menengok: “Sudah boleh pulang, Bu.” Jisu menunduk. “Tunggu sebentar, masih pusing.”—padahal tak ada yang sakit. Ia hanya harus di sini. Meski tahu kekasihnya mungkin tak pernah kembali.
Ruang tunggu ini, kamar siapa?
Kita sering menari di atas sisa kepergian seseorang dengan gaya lirih.
Apakah ia tahu aku masih di tempat ini?
Pertanyaan itu kini bukan lagi duka, melainkan kekuatan unik. Tinggal di ruang yang ditinggal bukan sekadar kerinduan. Ini euforia gelap yang dirasakan yang bertahan: percampuran nafsu milik dan rendah diri.
Ketika sang kekasih kembali, bukti yang ingin ditampilkan bukan “Aku baik-baik saja tanpamu,” melainkan “Aku tak bisa tanpamu”—sumbangan patuh yang kejam.
Kini aku menjadi kursi paling pojok di kamarmu. Tersisa untuk memperlihatkan untuk siapa aku menunggu.
Cerita pertama: Lemari Sejin
Ketika suaminya dinas luar kota, Sejin tidur dengan pintu lemari terbuka. Bukan pakaian bersih, melainkan yang pernah dipakai suaminya: kemeja berbau keringat, rajut dengan ketiak yang mengelupas. Setiap hari Sejin meremasnya, menempelkan wajah ke dalam tumpukan kain, menghirup habis.
Sebelum suaminya pulang, ia menyemprot sedikit parfum ke dalam lemari. Ini bukti bahwa selama kau pergi aku tetap merawatmu. Suaminya tak tahu apa-apa; ia masuk, mencium Sejin seperti biasa. Namun Sejin tahu: ia telah menjaga tempat ini untuknya.
Cerita kedua: Dapur Minjae
Setelah mantan pergi, Minjae terus memakai cangkir kopi favoritnya. Ia mengingat detail kecil: satu sendok gula, adukan pelan, ujung bibir sedikit mengerucut. Setiap pagi ia menyeduh di atas sisa kenangan.
Suatu hari cangkir itu terjatuh pecah. Wajahnya pucat, mengumpulkan serpihan, menaruhnya di kotak kecil di sudut kulkas. Kini ia takkan pernah kembali. Tapi aku bisa membuktikan bahwa ia pernah ada di sini.
Mengapa kita tergoda pada kekejaman ini?
Psikolog menyebutnya ‘lampiran pasca-perpisahan (post-rupture attachment)’: ilusi bahwa dengan memiliki sisa-sisa mereka kita tetap menguasai.
Ini bukan sekadar belum move-on; upaya diam-diam untuk terus mengendalikan lewat puing hubungan. Seberapa banyak aku menyimpan reruntuhmu, sebegitu itu pula kau tak bisa benar-benar pergi.
Sejatinya kita takut: tak sanggup mengisi kekosongan dengan diri sendiri. Maka kita ubah sisa itu menjadi kamar kita. Lalu, ketika mereka kembali, kita perlihatkan pementakan rahasia: betapa setia kita menjaga tempat ini selama mereka pergi.
Ini bukan cinta, melainkan cara menjinakkan hantu cinta.
Aku berdiri di dinding paling dingin kamar yang kau tinggalkan. Menunggu hari kau kembali agar kulihat betapa lama aku menanti, betapa utuh aku menjaga jejakmu.
Apakah kau masih di kamar itu?
Akhirnya Jisu keluar dari ruang pemulihan. Namun di dalam tasnya rompi rajut itu masih tersimpan. Di rumah, dengan diam-diam, ia menggantungnya di pojok lemari. Setiap pagi, ia menepuk lembut bagian tengkuk rompi.
Tak penting apakah kekasihnya akan kembali atau takkan pernah. Yang penting: Jisu tetap penjaga kamar bekas kekasih itu.
Mengapa kita berlabuh di tempat yang ditinggalkan orang lain?
Mungkin karena kita takut tempat itu menjadi kamar kita sendiri. Maka di atas sisa mereka, kita menjinakkan diri. Dan suatu hari, ketika mereka kembali, kita ingin berkata: selama kau pergi, aku menjaga kamar ini untukmu.
Kau masih di kamar yang ditinggalkannya? Atau kamar dirimu dibangun di atas sisa jejaknya?