“Jangan sentuh lagi.” Tengah malam, bar antrean tiga lantai di Yeonnam-dong. Min-woo perlahan meletakkan jari-jarinya di atas punggung tangan Soo-jin. Di bawah meja yang disinari cahaya seperti jam berdetik, ketika dua kulit bersentuhan, Soo-jin berbisik pelan. Kalimat pendek itu tersangkut di tenggorokan Min-woo seperti duri. Tapi kau tak melepaskannya, kan?
Ciuman di Atas Es Tipis
Mereka telah melewati titik kritis ketiga. Ciuman pertama di ujung jalur kereta bawah tanah nomor 2, ruang tunggu stasiun terakhir. Saat bibir mereka menyala padam seperti petir, tak ada yang tahu siapa lebih dulu. Hanya keduanya menutup mata, lalu membukanya lagi agar tak tenggelam terlalu dalam. Setiap kali ciuman usai, Soo-jin menengok ke samping. Seharusnya berhenti, tapi biar hari ini saja. Min-woo berlatih menafsirkan ekspresi itu. Getaran di ujung bola mata, lengkung bibir yang sedikit berubah. Perhitungan yang tak terbendung. Perempuan ini mencintai, tapi tak menginginkan cinta.
Suhu Nafsu yang Berbeda
Mencintai tapi tak mau disentuh pada akhirnya adalah menikmati keseimbangan. Judi halus yang menjaga jarak tetap antara suhu perasaan yang kau rasakan dan suhu kedekatan yang kau tunjukkan. Mereka memastikan keberadaan satu sama lain saat bangun pagi. Tapi menjelang siang, pesan makin singkat. Di malam, “rindu” berganti “apa kabar?”, “aku cinta” berganti “dingin ya hari ini?” Kita harus memanaskan tepat setengahnya. Seberapa pun kedinginan.
Namanya Na-young
Na-young, 33 tahun, mengelola bar anggur kecil di Apgujeong. Musim dingin lalu, saat salju turun dan ia menutup toko, ia minum sebotol demi sebotol tanpa kata dengan Jae-hyuk, fotografer tetangga. Ketika cahaya Seoul bergetar di balik jendela bertaburan bintang, Jae-hyuk meraih pergelangan Na-young. “Hangat di sini. Seseorang sedang menggambar dirimu.” Na-young diam sejenak, memandang punggung tangan Jae-hyuk, lalu meletakkan gelas. “Kalau aku jatuh cinta, semuanya akan runtuh. Kau tahu, bahkan bar ini.” Sejak hari itu mereka hanya berbagi ciuman sesekali. Jae-hyuk berkata lirih, “Kita selalu berciuman dalam salam tipis.”
Mengapa Kita Selalu Tergelincir?
Cinta modern melahirkan nafsu untuk tak pernah memiliki sepenuhnya karena memang tak pernah dimiliki. Semakin dekat, luka bisa makin lebar—semua tahu itu. Maka kita anggap jaga-jarak sebagai kebijaksanaan baru dalam bercinta. Psikolog menyebutnya tarian “menghindar-cemas”. Padahal keduanya cemas. Satu menyembunyikan kecemasan, satunya memamerkannya. Aku mencintaimu, tapi caraku mencintai diriku sendiri lebih besar. Kalimat itu terdengar lalu lenyap di tengkuk banyak kekasih.
Mereka yang Mencium Bayangan
Kembali ke Min-woo dan Soo-jin. Pukul 3 pagi, hijau April menetes di balik jendela, Soo-jin mencengkeram ujung selimut. “Mulai besok…” “…kita berhenti bertemu.” Mereka berbicara bersamaan, lalu terdiam bersamaan. Min-woo mengulurkan tangan lebih dulu, tapi Soo-jin sedikit melengos. Ciuman ringan di dahi. Tanpa menutup mata. Dalam jarak paling dekat, hati tetap tak di tempatnya.
Pertanyaan Terakhir
Pernahkah kau merasa, saat mencintai seseorang, “Jika aku mendekat padanya, aku sepertinya akan hancur”? Mengapa kita terlena oleh kemerosotan tanpa ujung itu, lalu menjauh? Atau justru menjauh lalu terlena? Ujung jarimu kini sedang mengukur suhu siapa?