Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Sebelum Ayah Menutup Mata, Ia Sempat Kirim Pesan ke Kekasihnya

Di ruang perawatan yang menanti kematian, genggamannya bukan tangan suami, melainkan ponsel. Bisikan kesunyian kosong di balik pintu pernikahan.

kesunyian-pernikahankematianketidakhadirancinta-tersembunyikekacauan-pernikahan

“Ayah, aku sudah menikah…”

Detak pendek monitor jantung mengiris lorong, sementara langit kelabu tenggelam di balik jendela kaca. Ruang rawat 301, kelopak mata ayah sudah turun separuh. Tetesan infus, langkah perawat, lalu jari sang perempuan—meluncur di atas layar ponsel—mengetuk dua kali di gelapnya layar.

"Sudah sampai?" satu pesan singkat. Pengirimnya tak lain ‘Junhyeok’.

Selama suami ke toilet, 30 detik, celah itu adalah seluruh napasku.


Pintu tersembunyi di ujung lorong

Ayah masih hidup. Namun ia sudah memeluk surat kematian bernama pernikahan. Suami hanya mengulang kata "sakit”, mertua hanya menatap sambil berbisik: “jangan cuma mikirin anakmu.”

Maka yang dicarinya adalah pintu lain di balik pernikahan—ruang pesan rahasia di atas es tipis.

Pesan pertama dengan Junhyeok: 47 hari lalu pukul 02.17. “Tidak bisa tidur,” kalimat polos yang menggetarkan kesepian telanjang. Balasan datang dalam empat detik. “Aku juga.”


Perselingkuhan kecil selama 47 hari

Mirahe (35) pada awalnya sungguh ingin menjaga ayah bersama suaminya.

Minggu pertama. Suami mendengkur sepanjang malam, hanya mencari charger. Mirahe memegang tangan ayah sambil membuka email kerja di laptop.

Minggu kedua. Pesan tugas ringkas: “Besok malam ada makan kantor, pulang telat.” Malam itu, untuk pertama kali ia kirim satu foto kepada Junhyeok: tetesan infus ayah yang putus pukul 03.12 subuh.

Minggu ketiga. Di kursi ruang tunggu sebelah, Mirahe merekam suara ayah yang sekarat dan mengirimkannya kepada Junhyeok. Pesan suara singkat. Di ujungnya, mereka sama-sama membiarkan nafas membangkitkan gairah. Suami saat itu duduk di toilet, mengeluh perut sakit selama 20 menit.

Tidak terjadi apa-apa. Hanya saat menyaksikan kematian, kami saling memastikan kehadiran tanpa kata.


Detik paling panasnya

Hari ketika vonis akhir turun. Dokter berkata, “Satu, dua hari lagi.” Tapi Mirahe tetap mengirim pesan kepada Junhyeok.

“Kalau ayah menutup mata, aku juga akan ikut terpejam, kan?”

“Tidak boleh. Kau harus tetap hidup.”

Malam itu, suami bilang “lelah” dan pergi ke motel. Mirahe sendirian di ruang rawat. Ia tak melepaskan tangan ayah, namun tubuhnya merosot ke bawah ranjang.

Di gelap, untuk pertama kali, ia berbisik nama bukan suami sambil jari-jarinya bergerak. Nafas ayah terputus, napasnya ikut tersentak.


Mengapa di hadapan kematian pun kita masih memilih kesunyian?

Freud menyebutnya ‘dorongan kematian’. Namun yang lebih kuat adalah ‘kekosongan tak terhubung’. Pernikahan mengenakan topeng hubungan terdekat, tetapi di saat jiwa tertusuk—ruang rawat, kematian, pukul 03.17 subuh—kita diam menghadap dinding.

Institusi bernama pernikahan mungkin bukan menjaga, melainkan mengunci kita. Di dalam pintu yang terkunci itu kita mati sedikit demi sedikit, lalu mencari pintu lain.

Junhyeok bukan cinta Mirahe. Ia hanya celah agar dia bisa bernapas.


Kini, tangan siapa yang ingin kau lepaskan?

Ayah akhirnya menutup mata. Di hari pemakaman, suami bertanya, “Ada yang bisa kubantu?” Mirahe tak menjawab. Yang dicarinya bukan Junhyeok, melainkan tangan kosongnya sendiri.

Saat ini juga, apakah kau ingin melepaskan tangan seseorang? Atau kau sedang menggelap dalam genggam ponselmu, tanpa siapa pun memegang tanganmu?

← Kembali