00.47, suara dari ujung tempat tidur
"Lagi ngapain, sih?"
Tubuhku langsung mengeras. Perlahan di balik selimut, sebuah tangan menjulur dan hampir saja merebut ponselku. Di bawah cahaya LED hijau, matanya berkilat seperti bulan sabit.
Malam ke-248 berulang. Ponselku yang tak pernah terkunci, padahal dia sudah lama tahu kodenya. Awalnya kukira candaan. Lagi chat sama siapa, nih? katanya sambil tersenyum—kini lelucon itu berubah menjadi penjara tersembunyi tiap malam.
Kamu takut aku tahu, ya?
Sejatinya, dia bukan ingin isi pesannya. Itu upaya sensor atas duniamu. Pernah kepikiran buat khianat aku, nggak?
Pertanyaan tajam itu menjelma duri, menusuk berkali-kali. Saat kamu tidur, mandi, atau bahkan tak mau bertatap mata, dia menjinjing kegelisahan: ‘Jangan-jangan ada momen aku tak tahu apa-apa soal kamu.’
Sejak itu tak ada yang tersisa. Kepercayaan lenyap masuk ke ponsel, cinta kehilangan bentuk dan menjelma mesin saling mengawasi.
Catatan penulis: "Cinta yang tak terbuka"
Jieun—pacar Hyunsu selama tiga tahun—cerita kalau tiap malam dia dipaksa menyerahkan ponselnya dua jam penuh. Awalnya dia percaya pada ‘jangan ada rahasia di antara kita’, lalu terbiasa menghapus semua obrolan. KakaoTalk-nya senyap seperti kamar kosong, DM Instagram pun dibiarkan hampa. Tapi Hyunsu tak pernah puas.
‘Kok nggak chat sama orang ini?’ tanyanya lagi, meski Jieun sudah bilang itu cuma teman biasa. Jieun berkata padaku:
"Yang dia cek bukan pesannya, tapi aku. Seberapa besar aku mencintainya, seberapa setia, seberapa bisa dipercaya. Padahal… aku sendiri bingung. Aku tak tahu siapa diriku sekarang."
Kenapa kita terjerumus pada obsesi kejam ini?
Manusia dilahirkan dengan nafsu menelisik dinding hati orang lain. Di ranah kasih, kita terbuai ilusi untuk memiliki sepenuhnya. Tapi kenyataannya, kamu tak bisa menutup diri sepenuhnya dariku. Maka kita menggunakan cara tak langsung: jejak digital di ponsel sebagai tes kesetiaan.
Ini bukan sekadar cemburu. Ini kegilaan akan kepemilikan: ingin mengatur setiap pikiran, obrolan, hingga tawamu. Wajah lain dari cinta.
Ketika kita meretas ponsel pasangan, sesungguhnya kita sedang memastikan rasa takut sendiri: ketakutan bahwa kamu bisa pergi.
Kini, sanggupkah kau pergi?
Malam tanpa dia, kau membuka mata di ranjang sepi. Ponsel di genggam, tapi tak ada yang tersisa. Sebenarnya yang ingin kau cek bukan ponselnya, bukan obrolannya, melainkan seberapa besar dia percaya padamu.
Namun kepercayaan itu sudah musnah, dan cinta berubah menjadi penjara.
Jadi, bagaimana kau melangkah ke depan?
Sanggupkah kau keluar dari penjara bernama cinta?