Gerakan yang sedikit pun tak asing, seperti membuka pintu kulkas. Di detik sebelum pintu kereta bawah tanah menutup, ujung jari menyentuh tombol home iPhone-mu, dan aku sudah siap meneguk semua rahasamu. Kunci terbuka. Kotak masuk. Instagram. Galeri foto. Sampai folder sampah yang sudah terhapus pun tak luput. Sejam lalu kau masih di pelukanku, karena itu aku ingin terus percaya kau tetap milikku.
Malam Aku Mencuri Sidik Jimu
Tanpa sadar, aku mendaftarkan sidik jari kau.
Pukul 03.47 dini hari minggu lalu, saat kau tertidur lelap. Napasmu yang dekat terasa berbahaya. Di sela ibu jarimu yang sedikit terbuka, aku sudah menjadi pelaku. Dua kali aku tekan. “Sidik jari tidak cocok.” Ketiga kalinya layar bersinar. Dalam sekejap aku berhadapan dengan hal-hal yang bukan milikku.
“Kemarin juga ketemu kan :)” “Hari ini agak telat, ya” “Tapi yang paling kusuka tetap kamu”
Akhir Pekan Min-seo dan Jae-hyuk
Setiap Sabtu pukul 15.00, Min-seo pasti masuk ke kamar mandi Jae-hyuk. Saat Jae-hyuk mandi, Min-seo memeluk ponselnya seperti memeluk tubuh sendiri. Di balik pintu, suara air mengalir. Kali ini apa yang akan kutemukan? Jarinya hafal urutan ketukan: KakaoTalk – obrolan terbaru – 48 jam terakhir. Ia membaca ulang yang sudah dibaca, berharap ada yang baru terhapus. Tiga minggu lalu ia menemukan pesan “Aku hanya mencintaimu” dari ‘Youn-hee kantor’. Malam itu Min-seo menempelkan bibir di belakang leher Jae-hyuk. Jae-hyuk tak tahu bahwa ciuman lembut itu ternyata cap pencopotan bukti.
Ia Memutar CCTV di Ruang Tunggu
Hye-jin menemukan ‘dia’ di ponsel pacarnya bulan lalu. Bukan, tepatnya menemukan jejaknya: foto pacarnya main sepak bola. Langit cerah tanpa awan, foto itu diambil oleh ‘dia’. Tak tahu siapa, tapi Hye-jin tahu. Dari sudut foto saja cinta terasa.
Sore itu Hye-jin menghapus foto itu dari ponsel pacarnya. Lalu ia memutar CCTV di ruang tunggu. Tapak hak 3 cm miliknya melangkah di layar pengawas. Fotonya lenyap, tatapannya makin tajam.
Yang Kita Cari Bukan Bukti Cinta
Yang kita butuhkan hanyalah kepastian. Atau lebih tepatnya, lembar penentu akhir. Mengapa? Kenapa setiap kali membuka ponsel kekasih jantung kita berdetak hendak meledak?
Ada yang menyebutnya obsesi. Tapi sebenarnya lebih gila lagi. Dengan nama cinta kita menguntit orang yang kita sayangi.
Mengikuti jejak langkah mereka, mendengar napas mereka, membayangkan diri kita yang tak ada di sana mereka. Cinta sejatinya soal percaya. Tapi kita lebih terbiasa mengonfirmasi.
Setelah Kunci Terbuka
Aku masih mengingat malam itu. 17 kali kubuka ponselmu. Setiap kali jantung berdebar, jari gemetar. Tapi bila dipikir, yang kucari bukti kau menipuku. Yang kucari adalah bukti bahwa cinta itu nyata.
Maka kutanya: ketika kita menggeledah ponsel satu sama lain, apa yang sebenarnya kita cari?
Atau, kenapa kita terus mencurigai untuk mendapatkan kepastian cinta?