Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Kekasih Menyentuh Seksendok Kari-ku, dan Aku Melempar Panci Selamanya

Seksendok kari yang mematikan cinta. Menelusuri kekurangan, wilayah pribadi, dan pengkhianat kecil di atas piring yang tak pernah dimaafkan.

obsesi-makananpsikologi-batasanlarangan-cintanafsu-dan-pengkhianatanpsikologi-makan

"Ini panas, hati-hati," ucap Junyeong, tapi Jisu tak peduli dan menancapkan sepotong besar tonkatsu. Sepasang sumpit berkilat meluncur di atas kecap khusus buatanku, menggunting tepat bagian yang hendak kucicipi. Dentang minyak meledak. Dalam sekejap, semua suara sekita mati. Itu milikku. --- ## Wilayah Tersembunyi di Mulut Makanan bukan sekadar gizi. Sejak kecil, apa yang dimakan kakak tak pernah sampai kepadaku; ibu sering menyerahkan piringku padanya. "Bagilah, itu sopan," selalu terdengar seperti dusta yang menenangkan kelaparan. Maka kupelajari menyembunyikan piring agar tak tersentuh siapapun—di balik tutup tertutup, di balik rak paling dalam, bahkan di bawah lidah. Bahkan dari kekasih. Obsesi bermula dari kekurangan, bukan lapar. Ketika pertama kali bertemu Jisu, ia menyerobot kimchijjigae buatanku, berkata, "Kenapa ini seenak ini?" Kala itu tak kusadari bahwa saat retak itulah aku menyerahkan tahta paling rahasiaku. --- ## Ayam Tae Yeon, Harga Se Gigitan Setelah pacaran dua tahun, Tae Yeon dan aku akhirnya menempati kost bulanan bersama. Malam pertama, ia memesan salmon salad. Tanpa lauk lain, hanya saus manis miliknya. Aku memesan pizza Super Supreme keju crust. Saat hendak mencabut sepotong, Tae Yeon menunjuk ujung jari ke arahku. Gigitan satu saja. Masih tertahankan. Tujuh per sepuluh detik ketika bibirnya menempel adonan, kuputar ulang ribuan kali di kepala: tersisa tujuh potong untukku. Sambil mengunyah ia berkata, "Kejunya luar biasa," dan aku tak sanggup menyentuh pizza itu lagi. Hanya cola set yang kusesap. Sejak itu Tae Yeon beberapa kali ‘menyicip’ makananku. Dada ayam bumbu, sepotong daging dalam mi, bagian roti paling berjejak selai stroberi. Aku makin sering memesan porsi berlebihan, terlalu banyak untuk dua orang. Ia bilang manja setiap kuminta "jangan sampai tersisa". Bukan tersisa—terbuang. --- ## Kari Jisu, Gigitan Terakhir Aku dan Jisu genap 1 tahun 3 bulan. Jumat malam, sepulang kerja aku menebus diri dengan menggodok kari. Bawang bombai kucincang ujung pisau menari, kentang dan wortel kuserong rapi. Semua sempurna hingga bubuk kari ditebar. Aroma menusuk, ketika Jisu membuka pintu. Tertiup bau, ia segera angkat tutup panci. Belum lima belas menit, sumpitnya menyentuh kari—menggulai kuah krim dan mencuri kentang terbesar. "Wow, mantap," senyumnya lebar. Aku tertegun. Tutup panci di tangan, pandangan menerawang. Kuah merah menetes hingga pergelangan, panas, namun amarah lebih menyala. Itu kumemasak untuk diriku. Tanpa dosa ia berkata, "Enak," lalu menuju ruang tamu. Aku menggendong panci, berjalan pelan ke wastafel. Langsung kumembuang isinya ke tempat sampah. Uap kari panas melelehkan plastik tutupnya. Ia mengetuk pintu dapur: "Ayo makan kari." Aku tak mampu menjawab. Dalam perut bukan lapar, melainkan sesuatu tajam berputar seperti anak panah. Yang kujaga bukan makanan—aku. --- ## Isi Piring, Kedalaman Nafsu Psikoanalis Winnicott menulis bahwa ‘campur tangan berlebihan’ menjadikan objek kasih sebagai wilayah diri. Gigitan kekasih lebih dari rasa lapar: ia merampas kekurangan yang kusembunyikan. Makan adalah menelan; dirampas adalah lenyap. Lewat makanan kita menelan bayangan diri: cinta ibu, pengakuan ayah, iri saudara. Di balik satu loyang pizza tersembunyi sejarah keluarga yang tak kasatmata. Saat kekasih menggigitnya, sejarah itu berpindah tangan. Maka gigitan itu pengkhianat mematikan. --- ## Pertanyaan Se Dalam Kelaparan Kini, tiap kumenyendoki ayam goreng sebungkus sendirian, aku tak pernah menghabiskannya. Menghindari sentuhan tangan lain, kubuang sepotong lebih dulu. Alih-alih ajaran berbagi rata, tumbuh keyakinan: hanya mulutku yang berhak. Bagaimana denganmu? Saat kekasih menatap piringmu, sanggupkah kau berbagi satu gigitan? Ataukah kau tegas menutupnya—lalu menumpahkan semuanya? Dan saat itu, kau memilih cinta atau kelaparan?

← Kembali