“Maaf, boleh saya?” Suaranya teredam dingin dalam kesopanan. Di dalam lift, hanya getar sepanjang tiga puluh sentimeter yang memisahkan kami. Ia menaruh kaki rapat, sedikit menengadahkan tumit, lalu menyapu ujung sepatuku dengan pantat kakinya. Sesaat. Seharusnya aku bisa berpura-pura tak melihat. Tetapi aku mengabadikan momen itu, frame demi frame. Seluruh telapak kaki, hingga lekuk kulit yang menyebar di bawah telapaknya. Aku minta maaf, ia tersenyum mengangguk. Nada yang wajar, tanpa sedikit pun pandangan yang melenceng. Ketika pintu terbuka, ia melangkah duluan. Aku mengikutinya, selangkah di belakang, seolah mengikuti jejaknya. Hanya dengan menjaga jarak yang sopan itu, aku sudah setengah bersalah.
Tatapan tenang, jejak yang makin dalam
Ia tak tahu. Saat ujung kakinya menyentuhku, aku telah menelannya utuh. Sopan santun bukan etika, melainkan perisai. Kita saling menunjukkan batas wilayah sejauh satu meter—kadang tiga puluh senti—seraya merindukan apa yang ada di dalamnya. Menyentuh ujung kaki sama rahasianya dengan menyingkap lemari pakaian tertinggi di rumah orang lain. Tetapi cukup dengan kata “maaf”, sentuhan itu lenyap tanpa bekas. Harus seperti tak pernah terjadi. Makanya, rindu itu melebar. Aku melihat pergelangan kakinya memerah tipis. Mungkin itu ilusi. Yang pasti, ia tak pernah lagi menengadahkan tumit. Aku pun begitu. Kami sama-sama menahan diri, tak melangkah sedikit pun ke wilayah lain. Dua hasrat yang tak bisa bersatu: pengekangan bernama sopan santun, dan kelaparan yang ingin melumat ujung kaki itu.
Malam itu, Suyeon telanjang kaki
Suyeon—ya, begitu kupanggil dalam diam—tinggal di seberang lorong, pintu paling ujung. Setiap hari kami bertemu di lift, namun tak pernah sekali pun memanggil nama. Kami berkomunikasi lewat isyarat mata. Saat pintu tertutup, kami tak saling pandang. Saat pintu terbuka, sengaja membiarkan bahu bersentuhan. Itu saja. Hari itu berlangsung sama. Suyeon mengenakan kaus kaki putih bersih; segera setelah pintu menutup, ia melucutkannya perlahan-lahan. Entah karena jari kakinya tertekan. Ia mengangkat telapak telanjangnya, sedikit mengguncang debu tak kasat mata. Aku melihat lekuk telapaknya: lekuk yang seperti genangan air hujan di bawah lampu, ombak kecil di celah-celah jari. Suyeon menangkap pandanganku. Ia tampak terkejut—atau tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Ia mundurkan kaki telanjangnya selangkah. Pelan, hati-hati. Adegan itu menimbulkan ilusi bahwa kami saling mendorong dan menarik secara bersamaan. Makin ia mundur, makin aku ingin melangkah maju. Tetapi aku juga mundur. Demi sopan santun. Ketika pintu terbuka, Suyeon mengenakan kembali kaus kakinya. Ia angguk padaku. Aku angguk balik. Setelah pintu menutup, aku mencari bekas telapak telanjang di lantai. Tiada apa-apa, hanya hawa dingin. Saat itu aku sadar: ia takkan pernah menunjukkan telapak kakinya untukku.
Minjae menghentikan ceritanya
Sebulan kemudian, aku bertemu Minjae, junior di kantor. Di parkiran bawah tanah menjelang pulang, ia memegang kaleng bir. Aku menghampirinya tanpa niat. Ia meneguk bir, lalu tiba-tiba bertanya: – Hyung, pernahkah melihat orang takut kepada kecanduan pada jari kaki? Aku diam. Minjae melanjutkan: – Pernah ada seseorang sangat sopan. Menunduk saat mata bertemu, minta maaf jika bersentuh. Suatu hari, orang itu menginjak ujung kakiku—hanya seujung kuku—lalu aku tahu: Orang ini tak ingin melepaskan ujung kakiku. Sejak itu, ia menghindariku. Mungkin ia melihat hasratnya sendiri. Minjae menghela napas: – Aku tak tahu hasrat apa yang dipendamnya; cuma ujung kaki yang tertindih. Tapi aku tahu, ia merasakan sesuatu padaku. Maka kami makin saling menjauh, atas nama sopan santun. Malam itu, di lantai lift, aku teringat Minjae. Suyeon, Minjae, dan aku—kita terperangkap dalam jaring bernama sopan santun. Hanya satu senti saja melewati ujung kaki, kita bisa saling melumat.
Mengapa kita hanya memandangi ujung kaki?
Pandangan manusia secara naluriah menukik ke bawah. Bayi pertama kali melihat ujung kaki ibu—kompas yang memberi tahu kemana langkahnya. Setelah dewasa, ujung kaki bukan lagi penunjuk arah, tetapi kita terus membacanya sebagai ujung wilayah paling sensitif. Sopan santun adalah tindakan saling menatap tepat di garis ini: hasrat untuk terus melangkah, namun tak pernah benar-benar melangkah. Menginjak ujung kaki berarti melumpuhkan pertahanan terakhir lawan. Satu senti saja, maka bukan lagi sopan santun, melainkan penyerbuan. Maka kita menelannya—ke dalam mulut, atau ke dalam mata—dan berkata: maaf. Psikolog menyebutnya persetujuan diam: saat ujung kaki saling menyentuh, kontrak rahasia terjalin. Kita berjanji takkan melewati ruang ini. Namun kontrak itu tipu daya. Hasrat yang menahan diri makin dalam; lapar yang hanya menunggu makin lebar.
Karena itu kita saling menatap—bukan lewat mata, melainkan lewat ujung kaki.
Hari ini pun aku menunggu lift
Setiap kali pintu terbuka, aku mencuri pandang ujung kaki seseorang. Apakah kaus kakinya melorot, tumitnya tergores. Pandanganku selalu ke bawah, kepalaku selalu tertunduk. Namun hasrat bernama sopan santun belum juga kurengkuh. Saat pintu menutup, aku menatap ujung kakiku sendiri. Apakah ada yang memandanginya? Lalu kembali aku menunduk. Maaf, gumamku. Namun di balik senyum itu, hasratku masih hidup.
Jadi, ujung kaki siapakah yang hingga kini kau belum juga berhasil telan?