Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Kalau Bukan Menikah, Putus Saja: Ultimatum Racun dari Wanita Lebih Tua di Usia 20-an Ku

Kata perpisahan seorang wanita 29 thn pd cowok 20 thn: nikah atau selesai. Cinta yg manis tapi menghisut, sampai mana batas kekuasaan dlm hubungan?

ultimatumwanita-lebih-tuaobsesipria-usia-20paksaan-menikahkekuasaan-hubungan

Aku belum sempat melepas ikat rambut cebolku saat itu, hanya duduk di ujung ranjangnya. Di luar jendela, lampu jalan kuning pukul empat pagi berkelip pelan; dalam kamar, asap rokok bercampur bau harum tubuhnya menguap pekat. Ia, mengenakan daster tipis, menodongkan ponsel dan berkata satu kalimat: “Menikah atau kita berhenti di sini.”


Bisikan Tersembunyi

‘Umur dua puluh tahu apa sih. Kau hanya merasa manisnya cinta yang kuberi.’

Ia berusia 29 tahun. Ketika aku baru saja gagal dalam ujian akuntan dan tengah mencoba lagi, ia menjemputku—berpakaian seragam kantor. Aku hanya membaca buku pelajaran, tapi setiap katanya membuatku melayang. Bahkan lukanya terasa manis. Ciuman beraroma alkohol, wajah letih yang berkata ia sedang bercinta. Mungkin ini bukan perpisahan, melainkan...


Hasrat Sejatinya

Kenapa pilihan jatuh pada ‘menikah’? Sesungguhnya itu bukan tawaran, melainkan akhir dari rencana panjangnya. Kini kusadari, ia seolah meneliti cara menelankanku utuh. Di kumpul-kumpul, di depan teman-temanku ia menyebutku “adik”, lalu bila hanya berdua ia meremas lembut tanganku:

“Kau tak bisa apa-apa tanpaku, kan?”

Di awal, kata itu menggigit manis. Merasa dibutuhkan. Namun kemudian menjadi rawa. Aku menyerahkan padanya pekerjaan, uang, masa depan. Jadi ‘menikah’ bagi-nya adalah puncak penguasaan: cara menjadikan diriku miliknya selamanya.


Dua Kisah Nyaris Nyata

Minsu, 25 tahun

Minsu sedang S-2. Pacarnya, MD kecantikan berusia 31, tiba-tiba mengajak libur tengah persiapan seminar. Di kamar hotel ia berbisik: “Kalau kau menikah denganku, semua akan baik. Tinggalkan kuliah, urus toko saja.” Malam itu Minsu kembali ke lab dan menghapus seluruh data risetnya. Sebulan kemudian ia menelepon untuk putus.

“Dia tak mencintaiku, dia mencintai masa depanku.”

Jian, 22 tahun

Jian baru keluar dinas, kerja sambilan di minimarket. Pacarnya 27 tahun, mengecek rekeningnya tiap hari. Ia memberi dompet bermerek, lalu berkata: “Kalau DP rumahku kelar, langsung menikah. Rumah orangtuamu dijual berapa?” Di ruang konseling Jian menangis:

“Ia ingin aku bukan aku, melainkan penerus keluarga kaya.”


Mengapa Manusia Tergoda Obsesi

Anak tanpa ayah kadang dewasa terlalu cepat, anak tanpa ibu terlalu lambat. Kita saling menutupi kekosongan, namun akhirnya hanya saling mengembalikan lubang yang lebih besar. Ketertarikan pria muda pada wanita lebih tua bukan sekadar kompleks; itu haus akan sesuatu yang belum dimiliki: pengalaman, stabilitas, kekuatan finansial, tatapan hangat seperti ‘ibu’. Namun bayarannya adalah meletakkan potensi diri sendiri. “Aku baru dua puluh, belum tahu jadi siapa.”


Kata yang Tersisa

Akhirnya kukatakan padanya: tidak sanggup. Ia memalingkan wajah, menggenggam tas, pergi. Tiga bulan kemudian, di pernikahan teman, kami bertemu. Ia tak menyapa. Di matanya masih tersisa api.

“Di usia dua puluh, akukah yang menjaga masa depanku, atau malah melepaskannya?”

Kalau kau di posisiku? Jika seseorang menawarkan cinta dengan jaminan seluruh hidupmu—dan cinta itu seperti racun manis menetes di tenggorokan—maukah kau meneguknya sampai habis, atau kau pecahkan gelasnya?

← Kembali