00.23, saat dia mengangguk “Dia masih menghubungiku.” Minji meneguk anggur merah. Cairan merah delima itu meluncur ke tenggorokan, lalu menjilat jantungku. Sambil menikmati ujung telunjukku yang meluncur di punggung tangan miliknya, aku menelan bulat pikiran ini tindakan gila. Lantai dua bar, lampu neon di luar jendela menodai udara lembap dengan biru. Napasnya terlalu dekat hingga membuat telingaku gatal. “Tadi malam pun dia datang. Lewat pesan singkat.” Bibir Minji semerah delima. Bukan gincu, melainkan darah yang mendidih. Saat ia menunduk, aku tahu. Ini bukan sekadar pengakuan, ini kontrak untuk kita berdua terjun ke neraka. ## Suhu nafsu terpendam Kenapa aku ingin sekali menyentuhnya? Meski masa lalu Minji terngiang jelas, mataku malah tertancap pada lekuk lehernya. Fakta bahwa ia pernah menjadi milik orang. Fakta bahwa kini pun ia masih milik orang. Ketidaklengkapan itu menusukku setajam silet. Seperti nikotin, racun yang menggoda. “Kau juga begitu, kan? Yang kira sudah selesai, ternyata belum.” Ia benar. Kita berpegangan pada ujung benang cinta yang kira sudah putus. Hanya saja, aku memegang Minji, sedangkan ia memegang sosok lain. Saat bibirku menyentuh tempat tangan pria lain pernah singgah, aku sudah menjadi pelanggar hukum. ## Dua tahun Heui-jeong, dan tiga bulan setelahnya Heui-jeong berusia 29, Account Executive di biro iklan. Dua musim semi lalu, ia bertemu pria bernama Min-woo. Kencan pertama mereka di bar anggur Mangwon-dong. Malam itu Min-woo berkata: “Aku masih memikirkan mantanku.” “Tidak apa?” Heui-jeong mengangkat bahu, tapi dalam hati ia berseru ini sudah kacau sejak awal. Namun mereka terus bersama. Enam bulan, setahun, setengah lagi. Min-woo semakin jarang menyebut mantannya, tapi Heui-jeong tahu. Belum selesai. Lalu tiga bulan lalu. Heui-jeong mengucapkan putus. Min-woo menerima tanpa perlawanan, seolah ia telah menunggu. “Tapi tadi malam… dia datang ke depan rumah.” Heui-jeong mengaku pada temannya. Jam dua pagi, Min-woo berdiri di depan pintu. Setelah tiga bulan. “Tak tahu. Seharusnya aku tak bertemu…” Ia pura-pura tak melihat. Tapi sudah terlambat. Begitu memutar kunci, tangan Heui-jeong gemetar. Mengapa kulitku merinding seperti rayap yang lapar? ## Hyun-su dan Ji-ah, empat tahun mereka Hyun-su berusia 32, pendiri start-up. Ji-ah adalah senior di klub kampus. Empat musim panas lalu, Hyun-su menyatakan cinta. “Aku masih memikirkan mantan pacarku.” Jawaban Ji-ah sederhana: “Tidak apa. Aku akan menang.” Ia benar-benar menang. Setidaknya di permukaan. Selama dua tahun Hyun-su hanya memandangnya. Tapi begitu pembicaraan pernikahan muncul, Ji-ah tiba-tiba lenyap. Tak ada pesan, tak ada telepon. Setahun kemudian Ji-ah menghubungi lagi. “Maaf. Dulu aku takut. Kupikir ada sesuatu yang belum usai.” Hyun-su tahu. ‘Sesuatu’ yang Ji-ah maksud adalah mantan pacarnya. Pria yang masih bersemayam di sudut hatinya. “Tapi… sekarang tidak apa.” Hyun-su kembali bertemu setelah setahun. Seakan memulai lagi. Tapi salah. Ini bukan memulai kembali cinta usai, ini meneruskan cinta yang tak pernah usai. Aku mengisi kekosongan yang ditinggalkannya, lalu saat dia kembali aku akan tersisih. ## Manisnya larangan Mengapa kita kembali terpikat pada cinta yang kira sudah selesai? Karena ada kemungkinan belum usai. Fakta bahwa masa lalu lawan masih hidup di masa kini. Ketidakpastian itu membuat kita gila. Campuran rasa bersalah karena merebut orang yang sudah memiliki dan sensasi menggairahkan. Meski tahu dia tidur dengan pria lain, justru itu yang membuatku lebih menginginkannya. Psikolog menyebutnya ‘kelangsungan nafsu yang tak terselesaikan’. Konsep efek Zeigarnik. Peristiwa tak selesai terekam lebih tajam daripada yang sudah berakhir. Cinta pun begitu. Keyakinan bahwa cinta usai sebenarnya mungkin belum usai mengusik nafsu gelap kita. ## 03.47, kamarku kini Saat ini juga, barangkali kau sedang memikirkan seseorang. Yang kira selesai. Tapi kau tahu. Belum usai. Meski kini ia mungkin tengah berada di peluk orang lain, kau masih ingat aroma tubuhnya. Maka kutanya. Maukah kau memulai lagi cinta yang kira sudah selesai? Ataukah akan terus menggenggam ujungnya selamanya? Ataukah besok fajar kau akan gemetar di depan rumahnya?
← Kembali