Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Saat yang Harusnya Membara, Ranjang yang Menyisakan Lengan Kosong

Usia pernikahan 8 tahun: saat istri membara, suami telah mendingin. Kapan ranjang yang dulu membara mulai membeku?

nafsu-suami-istritabu-pernikahansuhu-ranjangcengkeraman-dan-penolakangagalnya-simultansitas
Saat yang Harusnya Membara, Ranjang yang Menyisakan Lengan Kosong

"Malam ini… bisa jadi?" Pukul 23.47, Inhye menambah sapuan lipstik di depan cermin kamar mandi. Rose-beige yang dibeli diam-diam minggu lalu, tanpa suaminya tahu. Bola matanya di cermin terlihat layu. Kalau malam ini juga aku diacuhkan, bagaimana? Kembali ke kamar, Seungjun sudah berbalik menjauh. Selimut ditarik sampai leher, matanya menempel pada berita ponsel. Sepuluh tahun lalu ranjang ini arang yang masih membara. Kini cuma batu dingin. Inhye mencoba membuka obrolan. Bagaimana kantormu akhir-akhir ini? Biasa. Capek. Aku juga. Baru pulang lembur tadi… Ah, terlalu lelah, yuk tidur saja. Lampu mati, Inhye diam-diam mengusap lengan Seungjun dengan jari. Seolah ada respon, tangan itu dengan cepat ditepuknya pergi. Seperti mainan robot yang kehabisan baterai. --- ## Wajah Luka yang Bernama Nafsu Ranjang pasutri adalah ruang sidang rahasia. Tapi setiap sidang selalu berakhir dengan voting pro-kontra. Selalu kurang satu suara pro. Nafsu adalah biaya kesempatan. Istri menunggu celah anak tertidur, suami menunggu celah setelah makan malam kantor. Kedua celah itu bukan titik bersua, melainkan titik lepas. Perbedaan jamnya: tepat tiga jam. Tiga jam adalah mantra yang membusukkan nafsu. > "Aku menginginkanmu ketika kau tak tersedia. Kau menginginkanku saat aku sudah tak menginginkanmu." Kalimat itu adalah kebenaran—atau kutukan—setiap pernikahan. --- ## Kapan kita mulai berpapasan di jalur yang berbeda? Kasus 1: Sujin & Jaehyuk, usia pernikahan 6 tahun Jaehyuk merasakannya pukul 14.00. Di ruang rapat, saat menyiapkan slide presentasi, tiba-tiba Sujin muncul di benaknya. Leher belakang Sujin saat mandi tadi malam terbayang jelas. Ia diam-diam mengetik pesan. Malam ini, aku ingin… dengan kamu. Sujin baru membaca pukul 19.00. Setelah menjemput anak dari TK, belanja, dan sambil menyiapkan makan malam. Ia menghela napas. Pagi tadi ia juga panas. Tapi kini ia lelah dengan tanah yang menempel di baju anak dan berat keranjang belanjaan. Diletakkan di toilet, ia membalas. Maaf, hari ini aku benar-benar hampir mati. Bagaimana besok pagi? Jaehyuk baru membaca pulang pukul 21.30. Ia sudah menutup hari ini. Besok punya lelahnya sendiri. Hari itu lewat dua kali tak bertemu. --- Kasus 2: Hayoung & Minsu, usia pernikahan 9 tahun Hayoung merasakannya suatu pagi akhir pekan. Anak-anak pergi ke rumah mertua. Ia gembira, tapi juga sedih. Rumah yang biasanya riuh kini sunyi, ranjang terasa menganga. Minsu sudah membuka laptop di sofa. Ia mendekat pelan. Akhirnya kita punya waktu berdua. Minsu tak lepas pandang dari layar. Ah, aku ada deadline… Aku cuma ingin kerja santai saja. Satu kalimat itu membuat tubuh Hayoung membeku. Ia tahu alasannya. Minsu terpanas sekitar pukul 15.00. Alasannya sederhana: rasa kantuk usai makan siang sudah hilang, kafein naik, anak-anak belum pulang. Tapi Hayoung saat itu sedang belanja, mengangkat jemuran, dan sibuk menyiapkan keperluan anak. Jarak itu makin lebar sejak dua tahun lalu. --- ## Mengapa kita terus terperangkap dalam lingkaran nafsu yang mustahil ini? Manusia mendambakan nafsu yang berbarengan. Tuntutan tak masuk akal: ketika aku ingin, kamu pun harus ingin. Tapi pernikahan bukan sekadar hidup dalam zona waktu yang sama, melainkan operasi penyetelan waktu beruntun. Saat nafsu tak bertemu kita menemukan dua hal: Pertama, nafsu pasangan adalah ekosistem berbeda. Ia membara setelah bangun pagi, aku membara saat malam sunyi. Kita menyalakan api di musim sepi satu sama lain. Kedua, baterai nafsu tak bisa diisi secara bersamaan. Saat satu penuh, satunya habis. Ini struktur kejam. Maka suami-istri menjadi tersangka saling menyakiti. Cengkeraman lahir di sini. Kamu harus ingin ketika aku ingin. Penolakan melukai. Lukai membuahkan balas dendam. Balas dendam berupa acuh. Acuh memunculkan nafsu baru. --- ## Sayang, siapa yang kau inginkan saat ini? Saat kau membaca tulisan ini, di mana orang di sisimu? Wajah yang terlelap, atau yang masih di sofa ruang keluarga, atau bahkan sedang tertawa dengan orang lain di tempat karaoke? Apakah ranjangmu masih hangat, atau sudah menjadi es? Siapa yang kau inginkan kini. Dan apakah dia juga menginginkanmu saat ini? Ketika waktu nafsu tak bertemu, kita akhirnya terbangun tanpa meraih apa-apa. Atau tertidur tanpa meraih apa-apa. Di sebelah ranjang yang kosong, alasanmu tak terbaring di sana adalah apa?

← Kembali