Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Ibu Mertua di Atas Ranjang Pengantin: Yang Dicabiknya Bukan Laken, Tapi Taboo

Di malam pertama, ibu mertua mencabik sprei putih bersih. Baru kusadari, citra ‘menantu sempurna’ tak sekuat larangan yang membuncah.

dunia-ibu-mertuatabunafsumalam-pertamaibu-mertua

Malam pertama, 00:24 Menseo berlutut di samping ranjang, gaun pengantin setengah terlepas dari bahunya. Lipstik merah menggelinding dari lututnya—bukan yang di bibir, tapi bekas yang tadi menempel di bibir bawahnya. Suaminya sedang mandi di kamar mandi. Hanya gemercik air, aroma sabun, dan detak jantung Menseo yang mengisi kamar.

Kukira malam pertama akan istimewa. Dengan hati-hati Menseo mengangkat pojokan sprei, menatap wajahnya yang tercermin di kain linen putih. Tercetak bekas lipstik berbentuk dua buah bibir kecil bundar. Satu dari suaminya, satu darinya. Ia menggenggam sprei dengan satu tangan, lalu menorehkan ciuman ketiga dengan lipstik di tangan satunya. Tiga bekas.

00:31, pegangan pintu berputar

Ibu mertua membuka pintu tanpa mengetuk. Pintu kamar pengantin tidak dikunci. Menseo baru tersadar. Ibu mertua tak mengenakan piyama; masih mengenakan gaun hitam yang dipakai saat menyambut tamu siang tadi. Menseo menekan gaun pengantin ke dadanya, bukan karena takut terlihat, tapi karena takut jantungnya meloncat keluar. Ibu mertua terdiam, melangkah menuju ranjang. Langkahnya tak berat; justru terasa sudah biasa, seperti kamar itu memang miliknya.

Ini malam pertama kami, Bu. Ibu mertua menggenggam sprei—kiri dan kanan—lalu mencabiknya. Sekali, dua kali, tiga kali. Kain terdengar seperti daging yang robek. Menseo merasa tubuhnya ikut tercabik. Potongan sprei yang berbekas lipstik jatuh ke tengah. Ibu mertua mengambilnya, membentangkannya. Dua bekas milik suaminya, satu milik Menseo. “Lipstikmu menempel di sini.” Suaranya rendah, namun menggelegar di seluruh kamar. Menseo terdiam, hanya mengangguk. Ibu mertua melipat potongan itu, menyelipkannya ke dalam saku, lalu keluar. Saat pintu tertutup, bunyi kunci beradu pelan. Baru kini Menseo sadar bahwa ia dikunci dari dalam.

00:42, suaminya keluar

Dengan handuk mengepalkan rambut basah, suaminya muncul. Ia tak melihat sprei yang robek; Menseo menutupinya dengan tubuhnya. Suaminya mencium pipi Menseo. Ia mencium aroma—sisa shampo, sabun, dan aroma ibu mertua yang tercampur.

“Spreinya kenapa…” Menseo berkata. Suaminya mengerutkan kening tak paham. Menseo menggeleng, seolah tak apa-apa. Ia ditidurkan di atas sprei yang sobek. Menseo menutup mata. Ia tak merasa tubuh suaminya, melainkan tatapan ibu mertua yang menindihnya. Seolah ibu mertua mengusap-usap tubuhnya. Ia sadar: bukan dirinya yang menjadi ibu mertua di masa muda, melainkan dirinya yang tak akan pernah menjadi ibu mertua.


Empat tahun lalu, pertemuan pertama

Ketika pertama kali bertemu, Menseo tahu bahwa ibu mertuanya adalah tipenya. Selalu sempurna: tak ada helai rambut berantakan, pakaian rapi, tutur kata lembut. Menseo teringat ibu kandungnya: bau alkohol, riasan luntur, air mata. Ibu mertuanya adalah kebalikannya. Empat tahun, Menseo menyayangi ibu mertua. Bangun pukul enam pagi menyiapkan lima jenis lauk, mencuci pakaian dalam ibu mertua dengan tangan. Ia ingin menjadi anak perempuannya. Tapi itu mustahil—ibu mertua sudah memiliki anak perempuan, dan Menseo adalah menantu. Lalu Menseo mencoba menjadi kekasihnya. Bukan anak, tapi seperti kekasih: memandangnya, melayaninya, ingin memiliki segalanya: masa lalu, kini, hingga masa depannya.

“Aku melakukan ini karena aku suka ibu.” Kata Menseo pada suaminya. Dusta. Ia mencintai ibu mertuanya, dan cinta itu adalah nafsu: ingin monopoli, ingin memiliki seluruhnya.

Tiga minggu lalu, ruang pengacara

Menseo sedang menjalani proses perceraian. Ia berkata pada pengacaranya:

“Sebenarnya saya bercerai dari ibu mertua, lewat suami saya sekarang.” Ia paham: empat tahun mencintai ibu mertua, lalu takut kehilangan sang ibu, akhirnya kehilangan suaminya juga. Perang dengan ibu mertua ternyata perang dengan dirinya sendiri—terperangkap di antara perempuan yang ingin ia jadi dan perempuan yang tak ingin ia jadi. “Bukankah Anda marah bukan pada ibu mertua, melainkan pada diri Anda yang menolak menjadi seperti dia?”

← Kembali