Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

“Aku lagi pindahan, ya” — Satu kalimat cabul yang meninggakan luka

Di malam terakhir pacaran lima tahun, ucapan Jaehyeon bukan cinta maupun permintaan maaf. Luka kejam perpisahan yang ditelan Yurihee, dan satu jawaban yang tersisa.

perpisahannafsudiam17+
“Aku lagi pindahan, ya” — Satu kalimat cabul yang meninggakan luka

“Maaf, aku mulai hari ini lagi pindahan.”

Kalimat yang Jaehyeon lemparkan masih terdengar di depan pintu, di ujung ranjang, di balkon. Yurihee mengulang-ulang kalimat itu sambal membuka dan menutup mata. Lima tahun waktu, habis hanya dengan satu baris itu.


Jam 11.47 malam, seprai masih panas. Jaehyeon memunggungi, dan Yurihee menatap punggung itu cukup lama. Cupingan di dahi masih basah. Belum lama, tiap kali bibir itu menyentuh kulit, napasnya tersengal; kini hanya sisa udara dingin berputar.

“Sekarang kita lagi ngapain, sih?” Suaranya tenggelam di seprai. Jaehyeon tak menjawab, hanya menunduk dan menempelkan bibir di dahi Yurihee. Ciuman pendek, tapi bercita-cita perpisahan.

Yurihee menempelkan wajah di leher Jaehyeon. Hembusan panas menggelitik kulit.

“Akhiri aja. Kumohon, akhiri.”


Di atas bak cuci, dua gelas anggur—salah setengah terbaring. Tetes air mengalir pelan di permukaan stainless, dan Yurihee menatapnya tanpa lepas. Barang-barang Jaehyeon yang tak dibawa masih berserakan: setengah botol sampo, handuk beraroma lemon, semua kini bukan milik mereka lagi.

Jaehyeon berdiri di balkon menghisap rokok. Saat Yurihee mendengar kata “lagi pindahan”, tiba-tiba tercium aroma di leher gadis itu. Seperti asap yang lenyap, aroma itu harus hilang juga. Namun pertanyaannya malam itu masih berputar di telinga.


Yurihee bersandar pada wastafel memanggil Jaehyeon. “Ini sisa anggur terakhir.” Jaehyeon datang, merangkul dari belakang. Gelas di tangan Yurihee gemetar pelan. Diam seraya. Tangan Jaehyeon melintasi pinggang, membuka ikat pinggang. Seteguk anggur turun di tenggorokan Yurihee. Jaehyeon menciumi tengkuknya. Ciuman pendek, tapi bercita-cita perpisahan.


Tangan Jaehyeon menuju ponsel Yurihee. Ia menahan pelan. Layar menyala, kunci terbuka. Percakapan terakhir di KakaoTalk bernama ‘Minseo’. Singkat, tapi penuh hati yang makin deras dan ajakan “ketemu malam”.

Yurihee menatap mata Jaehyeon.

“Kau punya orang lain?”

Yurihee berkedip sekejap lalu menjawab:

“Tidak.”

Satu kata. Apakah benar atau bohong, Jaehyeon tak tahu. Dan Yurihee pun tak tahu. Kata itu hanya mempertahankan mereka di sini, sekarang.


Saat cinta mendingin, yang tersisa adalah ‘kata’. Tapi kata tak lagi dipercaya. Saat yang dipercaya ternyata dusta, manusia membuat narasi baru untuk melindungi diri—"Saat kita mencintai memang nyata,” atau “Kalau aku minta maaf, rasa bersalahku lenyap.”

Yang sebenarnya diinginkan adalah pengampunan. Kata “maaf” adalah isyarat bahwa ia tak akan menanggung sepenuhnya beban cinta yang pernah ada.

Yurihee sadar kini hanya kata itu tersisa. Kata terakhir dari Jaehyeon, dan kata terakhir yang akan ia tinggalkan. Ia tahu kini bahwa kata itu bukan cinta.

“Kalau aku bilang aku mencintaimu, apakah semua dusta selama ini lenyap?”

Awal dusta baru? Atau sudah saatnya dusta itu berakhir?

Yurihee tersisa sendiri di kamar, mengulang kalimat yang Jaehyeon tinggalkan. Ia memikirkan kata yang sebenarnya ingin ia ucapkan.

← Kembali