Mijeong menelan tangisnya di tangga Pengadilan Keluarga Seoul. Saat stempel cap segel diaktakan, Sujin yang tersenyum di hadapannya berkata satu kalimat.
“Kau tahu, aku masih tahu kau membara untukku.”
Kalimat itu membuat stempel merah di pergelangan tangan Mijeong tergelincir. Noda merah menyebar di atas kertas, lalu tiba-tiba ia sadar. Yang tersisa bukanlah rasa kekalahan yang menyedihkan, melainkan nafsu yang masih hidup menjadi abu panas.
Batu bara di atas ranjang sobek
Malam pertama pasca-cerai, Mijeong mengoyak bagian tengah ranjang kosong. Sisi kanan tempat Sujin biasa berbaring masih bertompok hitam di setiap sudut. Sehelai rambut, bekas lipstik, bahkan aroma tubuh yang meresap. Ia mengambil gunting dan mengetuk kasur.
Apakah aku memelihara tanpa sadar? Ataukah menyembunyikannya sampai akhir?
Begitu gunting diletakkan, Mijeong meletakkan tangan di tempat Sujin berbaring tadi. Seolah suhu tubuhnya masih tersisa. Atau barangkali panas itu berasal dari dirinya sendiri.
Nafsu tumbuh dari bekas
Meski perceraian usai, Mijeong masih melihatnya dengan jelas. Jaket kulit yang pernah dipakai Sujin, satu lembar foto bersama, bahkan panci yang mereka beli berdua. Semua sudah dibuang, tapi di kepalanya masih terang.
Nafsu bukanlah benda, melainkan uap yang menguap dari kekosongan.
Sejatinya bukan rasa kalah, melainkan obsesi yang bernanah.
Psikolog berkata: emosi mematikan seperti ini adalah sisi lain cinta. Di tempat kita akhirnya tak sanggup mencintai, bukan penyesalan karena tak pernah cinta yang tersisa, melainkan amarah karena akhirnya tak bisa memiliki.
Dua orang, dua kubangan lumpur
Kasus 1. ‘Seorin’ dan ‘Dohyun’
Seorin mengetahui alamat apartemen baru Dohyun usai cerai. Ia meminjam rekaman CCTV lobi parkir bawah tanah. Setiap malam ia memotret mobil Dohyun. Untuk menangkap ‘saat Dohyun berciuman dengan kekasih barunya’.
Kalau aku diam, yang kotor hanya hatiku.
Hingga suatu hari, dompet Seorin ditemukan di dalam mobil Dohyan. Untuk membuka pintu dibutuhkan penggandeng kunci pintar, dan di dalam dompet terselip kamera mini. Dohyun mengajukan gugatan, tapi Seorin tersenyum.
Kini kau pun tak akan melupakan aku.
Kasus 2. ‘Taeu’ dan ‘Harim’
Taeu memantau akun Instagram Harim 24 jam. Setiap foto yang diunggah Harim, ia hapus komentarnya lalu tulis lagi. Alasannya ringkas: ‘Tak tahan melihatnya tersenyum buat orang lain’.
Suatu malam, Taeu melapor anonim ke kantor pacar baru Harim. Laporan palsu soal penggelapan uang perusahaan. Saat Harim menelpon sambil menangis, Taeu berkata:
“Kini kau pun menangis karena aku. Adil, kan?”
Mengapa kita membara sampai akhir?
Psikolog Raymond Lay mengatakan: inti dari perpisahan bukanlah kehilangan, melainkan balas dendam diri yang menyempit. Karena kita ingin menyangkal ‘diri yang tak lagi utuh’ yang tertinggal saat sang kekasih pergi, kita membuat kehancuran jadi lebih besar.
Sejatinya, ini kerinduan untuk menyelamatkan diri yang terluka.
Akta cerai di atas meja terasa dingin, tapi nafsu kita panas. Selama panas ini belum reda, tak seorang pun bisa mencapai akhir yang sesungguhnya.
Yang tersisa adalah bara hitam
Dua setengah tahun usai perceraian, Mijeong masih mencari kabar Sujin. Melalui medsos, gosip teman, bahkan ‘kebetulan’ lewat kafe yang sama. Ia berbisik:
Sebenarnya aku tahu betapa kotornya diriku. Tapi yang kotor bukan aku, melainkan bayanganmu yang tak kunjung pudar.
Nafsu menempel seperti debu berminyak di dinding. Dibersihkan pun tak luntur. Mijeong tahu, satu-satunya cara memadamkan kotoran ini: menunggu bara ini habis terbakar seluruhnya.
Malam ini, kau mengingat hubungan yang sudah berakhir. Yang muncul di benak: kesedihan, atau amarah yang masih membara?
Jejak hitam di atas ranjangmu itu, apakah benar bekas mereka, ataukah sisa nafsu yang belum kau lepas?