Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Sudah 4 Tahun Menikah, Tapi Kartu Kreditnya Tak Sebut Nama Ku—Apa yang Masih Kupegang?

Di tahun ke-4 pernikahan, kartu termahal di dompet suamiku tak mencantumkan namaku. Bukan sekadar lupa, itu celah terbuka di tengah hubungan kami.

kehidupan-pernikahangaris-batasrasa-milikiketidakpastian
Sudah 4 Tahun Menikah, Tapi Kartu Kreditnya Tak Sebut Nama Ku—Apa yang Masih Kupegang?

“Eh, pinjam kartu dong?”

Sabtu pagi, Jiyeon molor keluar kamar menggesek sandal. Di depan pemanggang roti, Suhyeok mencengkeram rambutnya sendiri sambil melirik sekejap. Dompet hitam. Kartu hitam. Dalam sekejap mata ia menggesekkannya, lalu dompet kembali tertutup. Bahkan dalam 0,8 detik itu pun nama di balik kartu tak sempat kulihat.

Sore harinya, Jiyeon menatap bayangannya di jendela. Ia melihat sosok tak bertuan—aku yang namanya tak tercantum di mana pun.


Wilayah Kecil di Dalam Dompet

Sudah empat tahun menikah. KTP, buku tabungan, kartu ATM—semuanya tak selebar dompet Suhyeok. Tak sepeser pun setebal kartu hitamnya. Namun ketika pertama kali kulihat bagian belakang kartu itu, hanya ada stiker bertuliskan “verifikasi fisik”; aku tak berkata apa-apa.

Ah, pasti lupa. Bulan depan pasti diubah jadi rekening bersama.

Satu bulan. Dua bulan. 1.460 hari. Stiker putih itu menguning, tapi nama Jiyeon tetap kosong.


Uang Tersembunyi di Lemari Es

Ketika Suhyeok dinas malam itu, Jiyeon mengintip balik freezer. Di antara plastik beku, lima lembar uang sepuluh ribu setengah meleleh. Sebelum menutupnya kembali, ia menuliskan satu kata di ujung jari—mengapa.

Uang itu pun tak mencantumkan namaku. Seolah memang dirancang untuk lenyap kapan saja.


Kisah Miyeong

Miyeong, 35 tahun, ibu dua anak. Suaminya direktur di perusahaan besar; semua pekerjaan rumah diambil alih pembantu. Namanya tak ada di daftar wali murid, pun tak tercetak di kantong belanja warung bumbu. Yang ada hanya kartu atas nama suaminya, otomatis menarik uang bulanan.

“Tapi kan tetap uang kita, ya?”

Namun Miyeong tahu: saat sang suami memberikan tas mewah hadiah poin kartu kredit, tali tas itu pun tak menyematkan namanya.

Ia mengajukan gugatan cerai sebelum tanggal di cincin kawinnya sempat pudar.


Kafe Kamar Yura

Yura, 29 tahun, desainer lepas. Empat tahun hidup serumah dengan pacar yang dicintainya. Suatu pagi, ia membuka notifikasi tagihan dari pemilik rumah dan dunia gelap di depan mata.

Kontrak: atas nama pacar. Listrik & PDAM: rekening pacar. Cicilan semua peralatan rumah pun atas nama pacar.

Yura lalu membuat “kafe kamar” di pojok kamarnya. Di balik dinding kaca transparan yang bisa dilihat pacarnya, ia menjadi barista sekaligus pemilik usaha kecil.

“Setidaknya di sini struknya menuliskan namaku.”


Mengapa Kita Tergila-gila?

Kartu tanpa nama bukan cuma alat finansial. Ia adalah zona mati terakhir dalam hubungan. Pernikahan, kontrak yang mengikat dua orang, sekaligus menggambar batas tegas masing-masing.

Saat namamu absen di kertas, itu isyarat bahwa kau belum sepenuhnya masuk.

Maka kita menggali lebih dalam.

Freezer, balik bantal, riwayat pembayaran HP. Jika di mana pun namamu tak ada, ketakutan bahwa kau tak pernah benar-benar eksis mencekik tenggorokan.


Cincin Tak Terdaftar di Laci

Diam-diam Jiyeon membeli cincin. Di dalamnya terukir: SH♥JY 2020.06.12. Cincin perak itu sempat ia pakai berkeliling, namun ketakutan—bagaimana jika Suhyeok tahu—mengembalikannya ke laci.

Itulah satu-satunya benda yang menempel nama mereka berdua.


Pertanyaan Terakhir

Saat ini, apakah namamu tercantum dalam dompet siapa pun, di atas tagihan, atau di SMS pembayaran?

Ataukah kau masih bersembunyi di balik lapisan es perasaan seseorang?

← Kembali