Selasa pukul 02.00, ponsel di samping tempat tidur bergetar. Satu pesan. Pengirimnya ‘Junhyeok (31)’, aku masih memanggilnya ‘orang itu’.
Capek, tapi kenapa harus kau yang duluan suka?
Makanya makin garing.
Kalimatnya terputus, tapi maksudnya jelas. Aku tak pernah menjadi pilihan pertama. Selalu terlambat, selalu alternatif terakhir seseorang.
Kenapa aku tetap memulai lagi, padahal tahu akhirnya begini.
Ruang bawah tanah nafsu
Pandangan pertama sepasang kekasih di jalan. Adegan ‘dia’ menoleh dalam film. Cuplikan ‘kejutan untuk seseorang’ di instastory. Semuanya membekalkan satu rumus pada kita.
Kau spesial. Kau harus dulu yang tergila-gila.
Namun tak scorang pun menerapkan rumus itu padaku. Maka kubalik rumusnya:
- Aku memang tak spesial.
- Agar tampak spesial, aku harus duluan bergerak.
- Tapi sambil bergerak, diam-diam berharap dia yang duluan menanggapi—kontradiksi.
Kontradiksi ini membuatku seperti pembunuh berantai. Saat kasir kafe langganan mengembalikan kartu member yang discan, aku menyentuh punggung tangannya sekejap dan bertanya, “Minggu depan nonton bareng, mau?”
Kesalahan fatal dimulai di sini. Dia cuma mengangguk sopan, tapi kukira itu ‘sinyal dia menginginkanku duluan’. Saat ilusi itu pupus, aku langsung membuang hubungan itu.
Miyeong, Junghoon, dan aku
Kasus Miyeong (27)
Miyeong adalah pelatih di gym dekat rumah. Saat latihan pertama, ia memegang pinggangku sambil berkata, “Jangan jadi orang yang menunduk. Tegakkan badan.”
Aku berpura-pura tegap. Aku menunggu ia menghubungiku duluan. 3 bulan. 6 bulan. 1 tahun. Ia malah berseling dengan anggota lain. Kenapa? Karena anggota itu duluan menyatakan cinta.
Kukira menunggu adalah hal wajar. Menunggu seseorang memilihku duluan.
Perselingkuhan dengan Junghoon (29)
Junghoon adalah senior di klub kerja. Setiap bertemu, ia tersenyum mata padaku. Aku yakin senyum itu adalah isyarat spesial.
Suatu Jumat, kami minum berdua. “Junghoon suka aku, ya?” “Hm? Ah, aku suka semua orang.”
Begitu mabukku reda, aku memblokir nomornya. Malam itu kusadari dia tak pernah menginginkanku duluan. Rasanya memalukan.
Mengapa terobsesi jadi pilihan pertama?
Para psikolog menyebutnya ‘kompleks pilihan pertama’. Orang yang sejak lahir bukan rencana, atau yang terlahir sebagai anak kedua/bungsu, selalu berada di belakang, mudah tertular ‘penyakit’ ini.
- Tindakan berlebihan reaktif: Karena takut lawan tak memberi respons, kita berlebihan mempersiapkan diri.
- Penolakan preemptif: Yakin takkan dipilih, kita malah memutuskan hubungan duluan.
- Rangkaian tipu daya: Karena takut tak pernah dipilih lagi, kita pura-pura duluan memilih.
Penyakit ini menjadikan cinta perjudian. Aku selalu all-in. Tapi lawan tak pernah call. Maka aku selalu kalah.
Selasa pukul 03.00, aku membuka blokir Junhyeok. Melihatnya daring, kukirim pesan:
Maaf, aku duluan buka kartu. Jadi makin garing.
Dia langsung membalas: Bukan karena kau duluan suka, tapi karena kau suka, aku jadi terasa spesial.
Tunggu. Saat ini, apakah aku sedang melewatkan sesuatu?
Tidak. Sudah terlambat. Aku tak pernah memilihmu duluan.
Kini, apakah kau ingin jadi yang pertama bagi seseorang? Ataukah, sambil menyangkal nafsu itu, kau sedang menghancurkan hubungan lain?