Di Atas Ranjang, Kata Pertama yang Terucap dari Bibirnya adalah "Tunduk"
Kletak, begitu pintu terkunci, hal pertama yang dilakukannya adalah menjatuhkan lampu tidur ke samping ranjang. Saat pergelangan tangan Mina tertekan di kepala ranjang, nafasnya menyeruak ke dalam gendang telinga. Sesak yang menusuk, seperti bergema dari balik telinga, bukan dari depan mata.
“Perlahan.”
Seolah tak ingin satu suku kata pun lepas, ia mengurai syal yang baru saja keluar dari tas Mina. Suaranya membuat ruangan terasa ikut menciut. Ujung syal menggeliat, udara dingin mengelitik tengkuk. Mina memejamkan mata lalu membukanya lagi. Saat terbuka, kamar terasa lebih gelap daripada saat tertutup.
Di pojok meja kafe, Mina menimang cokelat panas, meneguk lalu mengembalikan ke cangkir berulang kali. Gelas gemetar, cokelat menempel di bibir. Itu tangan yang biasa menepuk bahu dari belakang. Kini ia mencengkeram setapas rambut.
“Lagipula kamu tahu, kamu yang duluan menyukai aku.”
Jari-jarinya meluncur dari dahi Mina. Di kegiatan sosial, tangan itu selalu menepuk bahu pelan dari belakang. Kini ia tidak melepas. Mina berkedip. Setiap kali kelopak mata bertemu, air mata menetes lalu jatuh.
Dia memang tampak baik sekali.
Tips untuk barista kafe selalu 50 persen, satu kardus roti untuk tunawisma di stasiun. Emoji dua kali di kolom chat adalah kebiasaan. Karenanya Mina awalnya tenang. Ia percaya pria baik takkan melukai.
Tetapi kebaikan itu hanya pembungkus. Setelah kertas lembut dibuka, terselip rantai empati di dalamnya. Pemaksaan berulang: aku baik, maka kau pun harus baik padaku. Jika Mina sekali saja membantah, dia melipat mata dan berkata, “Aku sudah sebijak itu, tapi kau tak memikirkanku?”
Dengan anggukan kepala, kontrak selesai. Jieun tiga bulan lalu menerima lamaran dari senior kantor, Hyunwoo. Sambil berjalan di bawah sakura, Hyunwoo berkata, “Kalau pacaran, aku selalu mengutamakan pasanganku. Jadi Jieun-ssi cukup merasa nyaman, aku yang mengurus semua.”
Karena itu Jieun merasa nyaman. Mau ke mana, mau makan apa, film apa, semua diputuskan Hyunwoo. Tapi begitu pintu tertutup, Hyunwoo memberi instruksi makin spesifik. Hari ini pakai baju ini. Janji dengan teman sebaiknya dibatalkan.
Jieun menulis kode rahasia di buku harian. Kata “pura-pura baik” ia ganti dengan simbol “pejamkan mata”. Sejak itu tiap malam ia memeriksa jam. Membaca pesan terakhir dari Hyunwoo, lalu menandainya belum dibaca.
Mina memejamkan mata di atas ranjang yang berguncang. Tangannya kini menyesuaikan satu per satu jari kaki sambil berbisik pelan. “Kalau kau melawan, kau yang jahat.”
Lipatan seprai terasa sekejam kata itu. Pria baik berbahaya karena rasa pertamanya manis seperti anggur. Di balik karamel lembut terselip racun kewajiban.
Psikolog menamai tipe ini ‘penindas ramah’. Segala nafsu dikekang, lalu menuntut kepuasan pengganti dari pasangan.
Aku sudah berkorban, maka kau pun harus berkorban
Kalimat itu selalu terbelah dua. Setengah awal terselip di balik senyum, setengah akhir perlahan menonjol dari sorot mata. Inilah yang dikisahkan perempuan: Awalnya dia memang baik sekali. Lalu tiba-tiba berubah.
Benarkah dulu ia sangat baik? Atau kau berharap dia baik? Kapan kau mulai memaksa diri menafsirkan obsesi kecil yang terselip di balik senyum itu?
Saat ini, pria ‘baik’ di sisimu. Dengarkan lagi pengakuannya.
Aku akan melindungimu
Apakah barangkali itu salah ketik dari mengendalikanmu?
Mina menatap seprai. Bau silikon dingin menyeruak. Syal tergeletak di lantai. Lipatan seprai menusuk sela-sela jari kaki. Mina menghirup pelan. Bau silikon memenuhi paru-paru.