Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Hari ini juga aku menghapus namanya satu huruf demi satu lalu menuliskannya kembali

Satu baris sehari. Buku catat tanpa nama yang tak bisa kulihatkan pada siapapun itulah yang membara dalam tubuhku.

obsesitaburahasiakecanduannafsu

“Masih terus menuliskannya?” Hari ke-312 sejak ia pergi, aku masih duduk di meja pojokan kafe, mencengkeram pena hitam dengan erat. Hanya selembar kartu kecil dan sederhana. Bagian atas tanggal, bagian bawah satu baris. Itu saja. Hari ini juga aku menghapus namamu satu huruf demi satu lalu menuliskannya kembali. Pelayan lewat sambil menatap sekilas. Jantungku terasa melorot ke dasar. Tak seorang pun tahu. Kartu ini ditujukan pada siapa, atau betapa panasnya satu baris ini menyalakan tubuhku sepanjang hari. --- ## Buku catat yang tak bisa kulihatkan pada siapapun Aku tak menyebut ini diari. Diari kan sejak awal ditulis untuk ditemukan. Kartu-kartu ini sebaliknya, tak akan pernah kulihatkan pada siapapun. Maka ia menancap lebih kokoh, lebih dalam, lebih menyakitkan. Kartu pertama dimulai secara kebetulan. Hari itu saat ia duduk di sampingku dalam acara kantor, “Hari ini aku tak bisa lepas pandang dari bekas cincin di punggung tangan kirinya selama satu jam penuh.” Satu baris. Malam itu, dalam mabuk aku berbaring di tempat tidur dan membaca kalimat itu lima kali. Ujung jari mati rasa. Dada mual. Lalu aku tertidur dalam kilauan cahaya. Keesokan paginya, aku mengingat punggung tangan itu lebih jelas dibanding hari sebelumnya. Saat itu kusadari: satu baris sudah cukup. Tak perlu menipu diri sendiri atau membuat alasan. Cukup jujur, tanpa terlihat siapapun. --- ## Surat berantai di atas meja Minseo Minseo, yang sudah bertunangan, setiap tengah malam pukul 02.13 menulis satu baris di memo magnet di atas kulkas. Saat jarum menunjukkan 02.12, ia sudah berkeringat dingin sambil merobek kertas printer menjadi ukuran pas. Lalu satu kalimat: “Hari ini aku kembali menyembunyikan syal yang tertinggal di samping ranjangku.” Setiap hari Minseo memindahkan syal itu tanpa sepengetahuan tunangannya. Ke dasar laci, ke dalam bantal, atau rak paling atas ruang ganti. Saat pagi tiba, ia kembali meletakkannya di samping ranjang. Tunangannya tertawa, mengira ia melupakan lalu menemukan kembali. Minseo tertawa juga, tapi getaran yang ia rasakan setiap malam memindahkan syal itu bukanlah lelucon. Suatu hari, Minseo tanpa sengaja tertidur setelah meninggalkan memo di atas meja. Keesokan paginya tunangannya menemukannya. “Ini apa?” Perut Minseo terasa terbakar. Tapi tunangannya hanya tertanya, “Menulis puisi ya?” Minseo mengangguk. Saat itu ia menyadari: kecanduan ini takkan pernah terbongkar seumur hidup. --- ## Rekaman Yoojin 00:00 Yoojin, 28 tahun, akuntan. Setiap tengah malam tepat pukul 00.00 ia membuka aplikasi rekaman ponsel dan berbisik satu baris. Ceritanya seputar wanita asing yang ditemuinya di kereta. “Hari ini wanita berjas merah muda di jalur dua tersenyum padaku, jantungku berdetak seperti meledak.” Ia tak pernah memutar rekaman itu. Hanya merekam. Yang ia dengar bukan suaranya sendiri, tapi rasa sela hari itu. Setelah selesai, langsung di-backup ke awan. Kata sandi adalah tanggal ciuman pertamanya. Ia percaya rasa bersalah kecil ini membuatnya lebih tajam menjalani hidup. --- ## Mengapa kita makin tenggelam Tindakan ini bukan sekadar catatan. Ia adalah tempat persembunyian fana yang didirikan di atas puing hubungan. Kita memampatkan perasaan yang tak terbalas, kata yang tak terucapkan, atau kata yang tak boleh terucap menjadi satu baris. Satu baris itu laksana benang labirin yang mengantarkan kita kembali ke situasi itu. Para psikolog menyebutnya ‘pengulangan bisu’. Keinginan yang tak terucap kembali lewat tubuh, tindakan, atau satu baris seperti ini. Yang penting, pengulangan ini justru tak pernah terselesaikan. Bahkan saat kita menjaga tabu, kita merasakan luka lebih dalam sekaligus kenikmatan lebih liar. --- ## Tiba-tiba, bagaimana denganmu? Malam ini, apakah kau juga menulis satu baris? Atau belum menulis, tapi satu orang terlintas di pikiranmu yang ingin kausuratkan? Jika ya, di detik ini apakah ujung jarimu terasa mati rasa oleh getaran lembut? Sebab getaran itu barangkali bukti candu paling rahasia yang belum pernah kauutarakan pada siapapun.

← Kembali