Malam itu, satu teguk anggur dari gelas berubah menjadi kunci penjara
Lounge hotel Yeouido. Saat aku hendak meletakkan gelas, jari-jarinya menyentur punggung tanganku. “Kita masukkan kontrak apartemen minggu depan, ya?”
Di detik itu, tenggorokanku terasa terbakar. Ini kencan pertama kami.
Ketika speedometer nafsu berputar liar
Mengapa terburu-buru sekali? Yang ia inginkan memang aku. Tapi yang dibutuhkan adalah bukti fisik dari potensi. Foto pre-wedding, boks bayi, grup chat bersama agen properti—baru setelah itu nafsunya mereda.
Aku bukan objek cinta, melainkan kertas tempat cinta ‘dicetak’ menjadi nyata.
Jadi tujuh hari cukup. Durasi minimal untuk menelannya habis. Jadwal sprint yang ia rancang begini:
Hari 1–2 : Perkenalan keluarga & pertemuan orang tua
Hari 3 : Booking gedung + bayar paket bulan madu
Hari 4 : Surat pernyataan melahirkan dalam 3 tahun (cap basah dari firma hukum)
Hari 5 : Kontrak rumah baru & berkas pinjaman bank
Hari 6 : Tiket liburan hamil ke Vietnam
Hari 7 : Karantina di hotel—lalu disantap dengan lahap
Suji, 31 tahun, rekor yang tak pernah ia capai
Suji bercerita: “Awalnya aku terbang. Tersesat pikir kalau aku istimewa.”
Pria itu tampak sudah siap. Di genggamnya kotak cincin, di tasnya folder ‘Koleksi Foto Anak Kita’ yang sudah tersimpan di cloud. Foto pertama yang ditunjukkan padanya bukan USG janin, melainkan wajah calon putri yang sudah disatukan via Photoshop.
“Namanya Minsu. Anak pertama kita, akan kita temui dua tahun enam bulan lagi.”
Saat itu Suji merasa perutnya membesar. Seolah anak yang belum ada dijaninkan tiba-tiba ada di sana.
Mengapa Jaehyik begini
Jaehyik, 34 tahun, karyawan konglomerat tahun keenam. Sementara rekan-rekan satu angkatan satu per satu ‘menyelesaikan’ hidupnya, jadwalnya sendiri tertunda. Pernikahan bagaikan ujian; semakin telat, nilai semakin turun dan lembar soalnya makin kosong.
Ia lalu menganggap pacaran sebagai skill. Menyelesaikannya dengan cepat = nilai tertinggi. Kecantikan pacaran bukan lagi ‘lama’, melainkan ‘tepat’.
Ketika atasannya berkata di upacara resepsi: “Jaehyik sangat ahli mengelola proyek,”
—terdengar melalui pengeras suara—
Hye-won—di ruang tunggu pengantin (diperkenalkan empat hari sebelum resepsi)—menggenggam erat rok gaunnya. Ia belum tahu kenapa ia menjadi ‘modal nol’.
Mengapa kita tergoda pada kecepatan ini
Zaman ini tiada yang sanggup melihat seseorang ‘sampai habis’. Geser sedikit, orang berikutnya sudah menunggu; cinta dengan orang di depan jadi barang kadaluarsa singkat.
Maka Jaehyik memasang tali pengaman: cepat menikah, lebih cepat punya anak. Meski cinta memudar, ‘fakta’ tetap utuh.
Atau mungkin begini: jika tak segera diikat, dia akan lari. Pernikahan kan seperti borgol cinta. Sebelum cinta hilang, bangun penjara abadi.
Besok kamu mungkin sudah duduk di hadapan kontrak
Berapa banyak Jaehyik yang sedang mengelilingimu? Apakah saat ini kamu adalah tenggat yang tak bisa ditunda bagi seseorang?
Saat kecepatan disalahartikan sebagai kepastian, cinta telah menjadi racun. Dan racun itu kelak akan mengubah masa depan seseorang menjadi penjara.