Pukul 11 malam, di teras apartemen Climax. Ji-su menyeruput anggur perlahan. "Min-su-ssi, kenapa Anda begitu manis pada semua wanita?" Ia menengok, dan dalam 0,5 detik cahaya di gelas anggur menangkap kilatan matanya. > ‘Ah, ketahuan.’ --- ## Setiap kali ia tersenyum, sesuatu terjatuh Min-su memang manis pada siapa pun. Seperti kaca retak yang tetap memantulkan cahaya sempurna, senyumnya selalu terbentuk pada sudut yang tepat. Kepada rekan kerja perempuan ia menurunkan nada suara, kepada sahabat perempuan sentuhan kulit terasa wajar—terlalu wajar hingga mencurigakan Para pria tidak mengenalnya. Atau tepatnya, Min-su sama sekali tak peduli pada pria. Di acara kantor, saat menonton sepak bola, matanya selalu menatap satu arah. Arah tempat wanita berkumpul. --- ## Serpihan kaca pertama: ingatan Hye-jin ‘Ia memperlakukan saya secara istimewa.’ Hye-jin (28, pemasar) mengenang peristiwa enam bulan lalu. Beda divisi, sama-sama di perusahaan itu. Setiap pagi Min-su meletakkan Starbucks carrier di meja Hye-jin. Kopinya terlalu panas, tangan Hye-jin tersiram. Ah, maaf. Aku harus lebih hati-hati. Tidak apa-apa. Terima kasih. Besok aku bawakan yang dingin, ya? Mau? Dialog itu berulang selama tiga minggu. Hye-jin mulai tenggelam. Min-su tak pernah memaksa. Ia bahkan tampak menjaga jarak. Itulah yang membuatnya lebih berbahaya. Jumat malam, Hye-jin mabuk dan harus menginap di hotel dekat kantor. Min-su menemaninya. Aku baik-baik saja sendiri. …Benar-benar baik-baik saja? Satu detik hening, Hye-jin masih mengingatnya. Ada sesuatu di dalam hening itu. Namun tak terjadi apa-apa. Min-su berbalik di depan pintu. Keesokan harinya, Hye-jin mengetahui fakta mengejutkan. --- ## Serpihan kaca kedua: penemuan Seo-yeon Seo-yeon (26, desainer) mengira dirinya ‘sahabat perempuan’ Min-su. Setidaknya begitu ia rasakan selama dua tahun. Min-su berkata ia tak butuh pacar untuk Seo-yeon. Kamu istimewa, itu alasannya. Kalau jadi pacar, semua bisa rusak. Seo-yeon mendengar kalimat itu manis. Hubungan yang takkan rusak, bagaimana rasanya? Suatu hari, tanpa sengaja Seo-yeon melihat ponsel Min-su. Jendela KakaoTalk terbuka. > ‘Min-su, terima kasih hari ini. Senang bisa bertemu lagi besok.’ > ‘Aku juga. Hanya melihatmu membuat hatiku tenang.’ Pengirim: Ji-hye (30, perencana) Pesan serupa dikirim ke tujuh orang. Tangan Seo-yeon gemetar. Ternyata Min-su menyebarkan kebaikan secara massal. --- ## Kegelapan yang tak diketahui pria Mengapa hanya wanita yang tahu Min-su? Karena ia adalah arsitek nafsu yang rapi. Ia menghitung tepat ‘rasa istimewa’ yang diinginkan wanita. Suhu pas: tak terlalu dekat, tak terlalu jauh. Pria tak merasakan hitungan ini. Mereka menangkap senyum Min-su sebagai senyum biasa. Tapi wanita merasakannya. Senyum itu terlihat untukku, namun sebenarnya tertuju pada yang lain --- ## Mengapa kita terpikat pada kemunafakan ini? Psikolog Robert Greene berkata: manusia bereaksi paling kuat pada relasi yang tak pasti. Daya tarik Min-su ada di situ. Ia mempertahankan area ‘sepertinya menyukai, namun tak bisa dipastikan’. Wanita tenggelam makin dalam untuk menutup celah itu. > ‘Jangan-jangan bukan hanya aku?’ Keraguan seperti itu candu. Kita lebih terangsang pada peluang dicintai ketimbang dicintai sungguhan. --- ## Malam terakhir, tabir terbuka Ji-su menyaksikan kebenaran pada kencan terakhir mereka. Aku menyukai terlalu banyak orang. Karena itu tak bisa benar-benar memiliki siapa pun. Saat itu Ji-su sadar: keramahan Min-su adalah tameng pertahanan. Jika mencintai satu orang sepenuhnya, bisa terluka. Maka ia bagi-bagi sedikit pada banyak orang. Tak seorang pun benar-benar memiliki, sehingga tak seorang pun benar-benar hilang. --- Sekarang, di dekatmu ada Min-su. Orang yang hanya wanita tahu. Ketika kau menerima senyumnya, pernahkah kau yakin senyum itu memang hanya milikmu?
2026-04-08
Pria yang Hanya Diketahui Wanita, Benarkah Dia Murni?
Di balik senyum bening tersimpan nafsu. Kedekatan ‘Min-su’ yang hanya wanita tahu ternyata tameng melindungi hati. Percayakah Anda senyum itu khusus untuk Anda?
← Kembali