Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Malam Saat Aku Melecehkan Darah Bangsanya, Tiada Penyesalan

Putri keluarga bangsawan, sensasi gemetar saat kusobek. Rasa terlarang yang pernah kauimpikan.

nafsudarah-bangsaterlarangobsesihubungan-awal

“Kamu memang tak tahu?” tanya gadis itu.

Dia mengetuk-ketuk rokok panjang di tangan kirinya dengan jari kanan.
Sebuah kalimat terlarang. Sekali, hanya sekali masuk ke dalam mulut, semua menjadi sirna.
Aku tak sanggup menjawab.
Yang kulakukan hanya menatap setetes darah merah mawar mengalir di atas ujung hidungnya.
Malam ini dia telah memecahkan sesuatu.
Atau lebih tepatnya, akulah yang memecahkannya.


Bintik merah di atas putih

Kami berada di ruang istirahat dalam rumahnya.
Dingin seperti ruang penyimpanan anggur berusia dua abad.
Di luar jendela, tukang kebun turunan-menyangka masih mengasah pahat kayu sepanjang malam.
Di kebun itu, sekuntum mawar yang ditanam buyutnya tak boleh dicabut sedikit pun.

  • Aku bukan milikmu, tak seorang pun boleh menyentuhku.
    Itulah yang membuatku lebih ingin.
  • ……

Dia bicara, tapi aku memilih memegang ujung lidahnya.
Lidah yang ramping, putih, lidah para bangsawan.
Di setiap milimeter masih tersimpan rasa yang dijaga ayah, kakek, buyutnya.
Kugigit pelan.
Seberapa pelan? Cukup untuk meneteskan sebutir darah ke atas gabus anggur yang selalu dibanggakannya.
Klek.


Aroma darah keturunan

Mengapa harus dia?
Setiap pagi kubayangkan wanita-wanita biasa yang kutemui di KRL.
Tas gendul menurun, tumit sepatu hak hitam tergores aspal.
Mereka cantik, tapi dia berbeda.

Pukul 08.15, bangun di lantai 45 gedung Jakarta menatap Gunung Salak.
Perempuan yang hidup dengan gen, marga, nenek dari neneknya,
bahkan anak dari anaknya kelak berada di genggamannya.
Namun mataku malah tertambat pada lehernya yang jenjang.

Setiap orang pernah memimpikan.
Kegembiraan mencemarkan sesuatu yang mulia.


Cerita yang terasa nyata 1 — Gian dan 26 hariku

Gian berusia dua puluh enam.
Ayahnya bos besar pabrik farmasi, ibunya mantan pemain nasional bisbol.
Pertama kali bertemu di klub.
Dia sendirian di rooftop bar, menyesap Bloody Mary—merah seperti darah sejati.

  • Merokok?
  • Tidak, hanya di bibir. Aku suka baunya.

Selama 26 hari setelahnya kami saling menggerogoti.
Di atas tungku perapian perpustakaannya,
di meja abad ke-18 yang dilelang ayahnya dua tahun lalu,
hingga di gudang bawah rumah tua tempat pelayan meninggal.

Kata Gian, “Kau memandangku seperti cangkir teh yang retak.”
Kujawab, “Tidak, aku ingin melepaskanmu.”

Dia tersenyum, menggaruk bekas suntikan di dahinya—sedikit saja.
Darah mengalir.
kujilat.
Asin, entah mengapa air mataku turut bercucuran.


Cerita yang terasa nyata 2 — Hayun dan satu-satunya malam

Hayun pengacara, tiga puluh dua.
Dengan suara membaca putusan hakim dia berkata,
“Aku bisa menuntutmu. Pemerkosaan.”

“Lalu kenapa tidak?”
“Aku tak mau. Aku ingin kau menuduhku saja.”

Kami bertemu di atap kantornya.
Lantai 38.
Dia masih mengenakan jaket blazer.
kusingkap kaus kaki hitamnya satu per satu.
Di pergelangan kakinya bintik kecil—bekas tes genetik.

“Buyutku bangsawan,” katanya.
“Dan aku telah merebahkan putri bangsawan di atas beton dingin.”

Malam itu Hayun bertanya, “Apa yang kau inginkan?”
Kupikir, Aku hanya ingin memusnahkan sekejap semua yang kau miliki.


Mengapa kita tertarik pada ini

Para psikolog menyebutnya fenomena parikh-man.
Nikmat merampas sesuatu yang seharusnya tak bisa dirampas.
Bukan sekadar iri.
Kita ingin menyentuh sesuatu yang mustahil milik mereka.

Contohnya:

  • Jaringan sempurna yang lahir bersamanya
  • Kekayaan yang tak bisa dikumpul seumur hidup
  • Nama keluarga yang tak goyah

Kita ingin memegang, menghantam, mencemarkanya—agar kita pula terkena percikan ke-mustahilan itu.


Apa yang ingin kau cemari

Kumasih menyimpan setetes darah Gian di dompetku.
Mengering, mengeras seperti cokelat.
Kadang kukeluarkan, kumasukkan ke mulut.
Asin, entah mengapa air mata mengalir.
Namun tiada penyesalan.

Kalau kau, pada detik ini, merasakan dorongan untuk mencabik seseorang, ingatlah:

Kau ingin bermain-main dengan darah siapa?
Dan bagaimana orang yang memilikinya akan memandangmu?

← Kembali