Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Sepuluh Tahun Hidup Poli, Saat Hierarchi Terbongkar Bahkan Aku Tak Berani Bernapas

Di samping ranjang ia menyebut nama kekasih lain—saat itu hierarchi rahasia 10 tahun hidup poli terkuak. Bahwa dalam perselingkuhan pun, nafsu tak pernah menolak persaingan.

poliamorikuasapapan skornafsuperingkat
  • Kini, sang kekasikah yang paling utama menurutmu? Pukul tiga pagi yang mencekam, hanya lampu samping ranjang yang dinyalakan. Minwoo melepaskan genggamannya di pergelangan tanganku. Tidak, ia melontarkannya. “Yujin tidurnya lebih lama daripada kamu…” Sekuntum kata itu membuat bulu kudukku berdiri. Yujin. Akhiran -ie yang biasa dipakai untuk teman akrab menunjukkan celah sapaan yang jauh berbeda dariku. Sepuluh tahun. Selama sepuluh tahun aku meyakini kita semua setara. Berbagi jadwal, check-in perasaan, laporan seks aman—sebuah negara kesepakatan yang sempurna. Namun pada detik itu, hierarchi telah naik ke puncak bahasa. --- ## Lembah Tersembunyi di Dada > “Poli itu soal kebebasan, bukan kompetisi.” Itu dusta yang kujulurkan pada diri sendiri. Poliamori adalah Olimpiade. Medali emas untuk ‘kekasih paling sedikit cemburu’, perak untuk ‘penjadwal paling fleksibel’. Dan perunggu—mungkin—jatuh pada ‘orang yang paling diam memiliki’. Aku peraih perunggu. Kekasih lain Minwoo: Yujin, Sujin, Do-hyun—ketika namanya masih tiga, aku baik-baik saja. Tapi angka selalu bertambah. Setiap kekasih baru masuk, diam-diam kuperbarui papan skor. - Siapa yang lebih sering membuatnya tertawa. - Siapa yang lebih lama begadau dengannya. - Siapa yang mengantarkannya ke rumah sakit saat demam. Dan aku, selalu di peringkat tiga besar. --- ## Tempat Tidur Yujin, Tempat Tidurku 24 Desember 2022, malam Natal. Minwoo dan aku menginap di Airbnb. Gang belakang Hongdae, rumah dengan neon yang tak tidur hingga subuh. Ketika Minwoo mandi, dua sikat gigi di atas wastafel menangkap mataku. Sikat biru milik Minwoo, dan sikat merah muda pucat. Inisial pada gagang sikat itu: Y.J. Yujin. Ternyata ia juga di sini semalam. Minwoo bilang ia sudah mengganti seprai, tapi bantal masih tercium aroma sampo wanita. Aku menghirupnya dalam-dalam, berpikir mungkin aku hanya meminjam tempatnya. Setelah mandi, Minwoo memelukku dari belakang. Bibirnya di tengukku berbisik. “Yujin akhir pekan ini ke Busan. Jadi aku bisa…” Ia tak menyelesaikan kalimat. Tapi jelas maksudnya: ‘selagi Yujin tak ada’ ia akan habiskan waktu denganku. Detik itu sudut mataku terasa perih. Karena dulu aku pula yang berkata hal itu padanya. --- ## Buku Harian Do-hyun Do-hyun, kekasih lain Minwoo. Ia sudah tujuh tahun berpoli, dan punya buku harian setebal riwayat asmara. Entah kebetulan atau sengaja, aku pernah membuka laptopnya. Berkas teks tanpa judul. 12 Maret 2023. > Hari ini aku nonton bareng Minwoo, tiba-tiba dia terima telpon dari Sujin. ‘Ketemu sekarang’. Aku nunggu di lobi bioskop 40 menit. Terus Minwoo kembali, bawa satu pop corn. Dia minta maaf, tapi pop corn itu barangkali milik Sujin yang tadi. Aku tak sanggup memasukkannya ke mulut. Setelah membacanya, anehnya aku merasa Do-hyun ‘menang’. Ya, kau juga menunggu 40 menit. Bahkan penantian itu terasa seperti bagian dari hierarchi. Aku tak pernah membuat Yujin menunggu saat aku bersama Minwoo. Itu bukti bahwa Yujin berada di posisi lebih tinggi dariku. --- ## Mengapa Kita Tertarik Padanya Poliamori bukan komunisme. Ia adalah pasar bebas. Hukum kelangkaan masih berlaku. Siapa yang lebih dicintai, siapa yang lebih dulu dipanggil, siapa yang diperkenalkan ke orang tua—semua bergerak dengan harga tersirat. Psikolog Adam Blake berkata, “Pasangan poli menyangkal cemburu, tapi justru sangat mahir mengukurnya.” Begitu pula aku. Kecepatan balasan chat Minwoo, jenis emotikon, urutan ‘like’ di fotoku—semua adalah skor. Dan aku tetap berkata kita setara sambil menghitungnya. Sebab begitu kusadari itu dusta, aku takkan sanggup bertahan. --- > Pernahkah kau menjadi urutan pertama dalam daftar seseorang? Atau justru tetap di posisi kedua, sambil tahu mungkin akan selamanya di situ, namun tetap bertahan?
← Kembali