“Hari ini di mobil siapa?” “Hari ini di mobil siapa?” tanya Hyun-jin sambil mengoleskan lipstik di depan cermin kamar mandi. Aku menunda jawaban, membiarkan suara keran menutupi hening. Ini ranjang kelima, atau sudah keenam? Hubunganku dengan Kai diawali oleh kata ‘poli’ yang terasa bebas: kami tak saling memiliki, hanya saling menghargai. Namun setiap kali tubuhku melebur di tangan orang baru, yang kudapat bukan kelegaan, melainkan jerat yang makin dalam. --- ## Rasa Obsesi yang Tersembunyi Menyebut diri poli ternyata paradoks. Semakin banyak tubuh kukenali, semakin terpaku aku pada satu sosok. Wajah Kai kini jauh lebih dingin. Setiap kusemat foto ciuman dengan orang lain, ia menekan “suka”, tapi aku membaca bara membara di kedua matanya. Ini bukan sekadar cemburu. Aku menginginkannya. Aku ingin ia menderita karenaku. Hanya dari sana aku tahu hubungan kami masih hidup. --- ## Akhir pekan Ji-hye dan Min-su Ji-hye, desainer 32 tahun, membuka hubungan dengan suaminya Min-su sebagai bukti kepercayaan. “Kita cukup saling percaya, makanya bisa,” katanya dulu. Enam bulan kemudian, kalimat itu layu. “Tahu nggak, Min-su tadi malam tidur di ranjang keempat?” bisiknya di kafe, jari gemetar. “Dalam delapan tahun pernikahan kami…” Ia menceritakan bagaimana begitu Min-su pulang, ia langsung mencium tengkuknya—mencium bau parfum asing. Setelah Min-su tertidur, ia menyelidiki ponselnya, menemukan siapa ‘yang keempat’ itu. “Aku tak tahu. Saat kami sepakat poli, aku benar-benar ingin kebebasan. Tapi… makin Min-su mengejar orang lain, aku makin tak bisa lepas darinya.” --- ## Permainan Angka Hyun-jin dan Aku Hyun-jin, terapis pasangan 29 tahun yang kukenal di komunitas yang sama, mengaku paham benar arti ‘poli’. Namun malam pertama kami berbagi ranjang, ia ternyata sangat tenang. “Masih memikirkan Kai?” bisiknya ke telingaku. Aku terdiam. Saat jemarinya menjelajah, aku berusaha mengingat cara Kai menyentuhku. Hyun-jin tahu. Ia pun meneriakkan nama orang lain. Di atas tubuh masing-masing, kami menumpahkan fantasi tentang orang ketiga. Kami bilang ini bukan pengkhianatan, tapi itu bohong. Kami semua pengkhianat. --- ## Tujuan Nafsu pada Sesuatu yang Tabu Mengapa kita mengejar lebih banyak cinta tapi tak sanggup melepas satu orang? Ini bukan sekadar iri atau kepemilikan. Struktur poli membuat kita sembunyikan keinginan sejati: ingin memberi pada banyak orang sekaligus terpaku pada satu. Itu adalah tabu. Di bawah label poli kami melegalkannya, lalu tersangkut lebih dalam. Psikolog Esther Perel berkata, “Ujung setiap hubungan poli adalah saat mereka berhadapan dengan apa yang sebenarnya mereka inginkan.” Tapi kita menolak. Sambil berpindah ranjang, barangkali yang sebenarnya kita cari hanya satu tatapan. --- ## Pertanyaan Tanpa Jawab Tadi malam, Kai tahu aku bersama orang lain. Ia bertanya, “Ini yang ke berapa?” Aku tak sanggup menjawab. Karena angka itu toh tak penting. Yang penting: ke mana jujurku berbaring. Pada Kai? Hyun-jin? Atau entah di mana yang belum kutemukan? Di ranjang siapakah Anda membaca tulisan ini? Dan di sana, jujur Anda yang ke berapa? > Atau, yang ingin saya tanyakan: siapa sebenarnya satu-satunya obsesi Anda yang Anda sembunyikan di balik kata ‘poli’?
← Kembali