훅 Aku berdiri di depan cermin kamar mandi. Saat hendak mengetatkan dasi, Hyejin mendekat dari belakang dan menarik ujungnya. Tanpa setitik ragu. Ujung jari wanita itu seolah mencekik leherku. Napasku tercekat. Namun aku mengangguk. Aku izinkan ia menarik lebih keras. Sorot matanya yang tersenyum tipis seolah bertanya, ‘Serius?’ Dasi itu menekan kulitku hingga menancap. Saat itulah aku tahu. Inilah yang dinamakan mendorong batas hingga ke ujung.
Anatomi Nafsu
Sejauh mana aku harus melangkah hingga kau menolak? Aku sungguh penasaran.
Ketika kita mendorong batas, sebenarnya apa yang ingin kita pastikan? Titik akhir sang lawan? Atau titik akhir nafsu kita sendiri? Keduanya bukan. Yang sesungguhnya kita coba verifikasi ialah: Sejauh mana kegilaanku masih diizinkan?
Ini bukan sekadar provokasi. Ini uji tuntas yang menggigit. Kau menginginkanku seberapa dalam? Aku sanggup menghancurkanmu seberapa jauh? Bukan angka, melainkan batas emosional yang kita ukur dengan kejam.
Cerita yang Terlalu Nyata
1. Pesan Yuri di KakaoTalk
Pukul 15.07. Satu baris pesan dari Yuri.
"Tadi aku tertarik dengan wanita di sebelahmu."
Aku membeku sejenak. Yuri—pacarku. Atau, belum resmi. Ia selalu begini. Caranya menguji batas unik. Di awal hubungan, ia pura-pura acuh jika aku berbincang dengan perempuan lain. Itu tanda ia belum begitu peduli. Tapi setelah enam bulan, ia berubah. Ia menggoyanganku duluan. Mengunggah foto kencan dengan pria lain. Aku menahan diri. Marah, lalu kembali menahan. Sejak saat itu Yuri menikmati responsku. Seberapa lama aku tahan. Seberapa gila aku bisa jadi.
"Oh, serius? Gimana rasanya?" jawabku.
Ia langsung menelepon.
"Benar-benar ingin tahu?"
"Iya."
"Cuma gandengan tangan. Tapi aku malah memikirkanmu. Lucu, kan?"
Saat itu aku tersadar. Kita sedang saling menguji. Yuri mengukur seberapa sakit ia sanggup lukai diriku. Aku mengukur seberapa dalam aku sanggup menelan rasa sakit. Ini bukan percintaan. Ini rekayasa kejam.
2. Malam Milik Minjae
Minjae adalah senior di klub kampus pascasarjana. Tiga tahun di atasku. Ia selalu menyuruhku melakukan sesuatu. Awalnya, minum. Satu botol lagi. Dua botol lagi. Sampai aku mabuk dan ambruk. Tapi itu belia akhir. Malam itu, setelah semua usai, Minjae berkata:
"Hei, aku tahu kau menyukaiku."
Detak jantungku tersentak. Kami tak mengucap apa-apa. Namun sejak saat itu Minjae makin gamblang. Ia tak memaksa jawabanku. Ia hanya memerintah. Melangkah makin jauh.
"Kalau sudah sampai sini, yuk lanjut sampai tuntas."
Saat ia mencengkeram pergelanganku, aku—mengejutkan—tidak menepisnya. Mengapa? Pertanyaan itu sendiri naif. Aku sudah berada di luar batas. Di wilayah imajiner yang diciptakan Minjae.
Mengapa Kita Tertarik pada Ini?
Manusia pada dasarnya menyukai batas. Dengan adanya batas ia tahu ‘apa yang mungkin’. Tapi ada nafsu lebih dalam: kenikmatan saat batas dihapus. Saat keinginanku tak lagi terbendung oleh siapapun. Para psikolog menyebutnya norm evaporation. Ledakan dopamin ketika melanggar larangan sosial. Seperti kegirangan anak yang menabrak larangan orang tua.
Namun ada jebakan. Saat melampaui batas, kita sekaligus mengonfirmasi ‘tingkat kelonggaran’ sang lawan. Titik di mana kita melesat melewatinya, lalu kembali lagi. Keseimbangan yang begitu tipis. Itulah yang membuat candu.
Sadar aku sanggup menghancurkanmu, sadar kau tak akan suka. Karena itu aku makin ingin melakukannya.
Pertanyaan Terakhir
Jadi, kini kau berada di titik mana? Berhenti di garis yang kira-kira masih disukai lawan? Atau sudah menjelajahi ujung yang kau sendiri nikmati? Apa yang sesungguhnya ingin kau pastikan di sana? Atau kau hanya ingin terus melangkah hingga akhir?