Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Hari ke-123 Radio Diam… Akankah Notifikasinya Berdering?

123 hari usai putus, profil dikunci, notifikasi mati. Apakah ini benar-benar berakhir, atau justru awal taruhan dalam sunyi?

radio diamjejak digitalkecanduan ketidakpastianhasrat kembali
Hari ke-123 Radio Diam… Akankah Notifikasinya Berdering?

Hook Ketika gagang pintu diputar, aroma-nya masih tersisa. Bukan bau rokok, melainkan campuran kulit jok mobil tua dan parfum manis yang menempel di kursi belakang taksi yang sering ia naiki. Saat pintu tertutup, jam biasanya berdering. 23:41. Tepat saat turun dari lift terakhir, selalu ada pesan ‘Sudah sampai?’ Kini tinggal sunyi. Tiga bulan penuh.


Notifikai layu yang bicara

Grup Kakao dibisukan, Instagram dikunci. Beberapa hari setelah putus, ia unggah satu story—foto kembang api, satu hati di bawahnya. Entah untukku atau bukan, jari tetap mengetuk dua kali. Hati itu lenyap bagai mimpi, tinggal notifikasi yang berkata terlambat. Sejak itu, kebiasaan baru muncul tanpa sadar: buka–rapikan aplikasi–segarkan setiap menit. Harapan dan kebencian bercampur, sehingga kelopak mata berkedut.

‘Apakah saat ini ia juga sedang menggulir namaku?’


Autopsi nafsu

Setelah putus, kehausan akan keheningan lawan bicara ibarat candu pada kasus tak terselesaikan. Karena tak ada akhir, otak terus menulis skenario.

  • Seandainya malam itu naik kereta?
  • Seandainya aku lebih dulu meminta maaf?
  • Seandainya aku tak menyebut kalimat itu? Semua asumsi bermuara pada hasrat kembali. Ingin kembali ke hari itu, sekali lagi, lalu sekali lagi. Fakta bahwa semua telah usai terlalu sederhana; kita menantikan plot twist yang rumit.

Cerita yang terasa nyata

Kasus 1. Hyewon & Dohyun

Hyewon masih ingat hari ujian SIM Dohyun—hari ke-184 pasca putus. Ia menggali situs pemerintahan yang tak pernah ia sentuh hanya untuk memastikan. Lulus atau tidak, tak tahu. Namun ketika hari itu tiba, matanya memburu satu taksi hitam di KakaoT—Seoul 3ru 7215—mungkin yang juga dipakai Dohyun. Ia membuka ponsel setiap kali membayangkan foto SIM baru diambil. Jika foto profil Dohyun berubah, barangkali itu isyarat: ia sudah siap kembali menyetir.

Kasus 2. Yujin & Sejin

Yujin belum pernah menghapus nomor Sejin, mantan dua tahun lalu. Bukan sekadar memblokir—ia ganti ponsel. Namun seminggu sekali, di log panggilan muncul nama Sejin selama satu detik. Bukan panggilan masuk, bukan panggilan keluar, cuma tulisan. Sebuah sindrom bernama pseudotelefonía. Itulah penyakitnya. Tak ada panggilan sungguhan, namun mata selalu menemukan nomor itu.


Mengapa kita terpikat

Psikolog menyebutnya kecanduan ketidakpastian. Ketika peluang 50:50, otak penjudi mencapai titik paling aktif. Sunyi pasca-putus berada tepat di sana—di antara kepastian berakhir dan harapan kembali. Lalu kita tenggelam dalam koleksi jejak—tangkapan layar obrolan lama, nama pengguna yang lenyap, story yang tiba-tiba jadi privat. Semua reruntuhan terlihat seperti potongan puzzle yang masih bisa dirakit. Otak menghapus batas. Walau kemungkinan bertemu lagi hanya 1%, beban emosi yang tergantung pada 1% itu setara 99%.


Ketukan di pintu yang masih terngiang

Tengah malam, usai mandi, layar ponsel tiba-tiba menyala—belum terbuka kunci. Aku menyangka pesan terakhirnya melayang di atasnya.

‘Apakah ini benar-benar terakhir?’ ‘Atau ada bab berikut yang hanya aku tak tahu?’

Lampu jalan di luar padam. Subur gelap yang tak kasih jalan. Kubalikkan kepala, di laci samping ranjang, lip balm yang ditinggalkannya masih ada. Kubuka tutupnya, ujung hidungku gatal. Aroma ceri manis, rasa yang mewarnai bukan bibir, melainkan kenangan.


Tiba-taku terpikir: di detik ini, akankah ia juga menghirup aroma yang sama sepertiku?

← Kembali