“Selembar nota di ambang pintu, terang dalam cat merah: UNICORN BERBAHAYA”
Joo-hye bisa saja merobek nota itu. Tapi ia malah menjilat cat merah yang menempel di punggung tangan. Rasa metalik menusuk ujung lidah. Rasanya enak. Tidak, ia tahu itulah ‘masalahnya’.
Bolehkah kubuka? Pintu itu tersembunyi di ujung tangga berlapis es tipis di bawah gedung apartemen, di belakang pintu darurat. Pegangan besi dipenuhi bunga salju halus seperti bulu. Saat ujung jarinya menyentuh, salju itu meleleh perlahan seolah ingin melahap jarinya. Joo-hye merasa bukan pintu, tapi tangannya sendiri yang menarik dirinya masuk.
Kehausan binatang jalang yang lepas kendali
Mengapa kita tak bisa menoleh walau sadar akan bahaya. ‘Kau juga tahu, ini bukan sekadar rasa penasaran.’
Unicorn. Tak ada makhluk biologis semacam itu. Tapi objek yang ‘tampaknya mustahil digapai, akan hancur jika disentuh’ bermacam-macam rupanya. Pria beristri, guru, atasan, tunangan teman—namanya berbeda-beda, tapi seluruh tubuhnya bertuliskan cat merah.
Di balik pintu ini menantimu wujud yang tak sanggup kautahan. Pintu itu berdiri di antara nasib yang akan ditolak dan nasib yang tak bisa ditolak. Jurang di antara keduanya kita sebut nafsu.
Seminggu kemudian, Joo-hye sedang melepas jasnya
“Boleh kuturunkan celananya dulu?” lawannya bungkam. Ia malah mendekati jaket yang tergantung dan melepas plastik tanda nama. KIM JUNHO, MD. Tanda nama rumah sakit. Saat ia membuka apron Joo-hye, tatapan lembut di foto tanda nama masih bersinar baik. Joo-hye tak memanggilnya ‘unicorn’. Ia adalah dokter kulitnya. Delapan tahun. Sejak pemeriksaan pertama, ia sudah menembus titik paling sensitif di tubuhnya. Pemandangan saat ia menggigit pensil sambil membaca kata-kata ‘bekas gelembung’ ‘gatal’ di lembar anamnesis tertanam di kepala selama delapan tahun. Selama itu Joo-hye menikah, lalu bercerai. Ia menyaksikan kelahiran anak pertama sang dokter. Keduanya selalu berada dalam ruang ‘klinik’. Suatu hari, setelah periksaan, amplop cokelat yang biasa diberikan berisi secarik kertas hitam.
Pintu darurat bawah tanah, jam 9 malam. Saya sediakan obat yang tak bisa dibeli dengan lima puluh juta won.
Obat itu sama sekali bukan obat.
Unicorn kedua, Do-hyun hanya berciuman
Do-hyun bertugas di bagian ‘Etika’ di lembaga di bawah Kementerian Kebudayaan. Sehari-harinya seperti membersihkan kaca jendela. Kasus penggelapan, kekerasan seksual, pelecehan di kantor—sepanjang hari ia menggosok bagian kotor manusia berulang-ulang. Sepulang kerja, di jalur 3 bawah tanah stasiun Gwanghwamun, pengeras suara mengumandangkan: “...Penumpang, kereta ini berhenti 200 meter setelah stasiun akhir. Silakan turun.” Do-hyun tak turun. Ia melihat seorang wanita di balik caca marica lampu di balik kaca. Wanita itu memiliki bekas luka sabit. Do-hyun mengenalinya; ia telah melihatnya ratusan kali di materi pelatihan etika. ‘Korban pelecehan seksual di tempat kerja, A.’ Namanya disensor, tapi Do-hyun tahu namanya.
Sejak itu, Do-hyun mulai melewati stasiun akhir. Setiap kali wanita itu mengenakan pakaian berbeda. Celana ketat, jas putih perawat, seragam olahraga. Ia tampak menunggu seseorang. Saat Do-hyun mendekat, wanita itu berkata, “Permisi…” Matanya bagai foto yang hanya menyisakan hitam pekat di tengah.
“Kalau turun di sini, seharusnya tidak boleh, kan?” katanya. Do-hyun mengangguk. Lalu melangkah lagi.
Para ahli saraf menyebutnya ‘ilusi dopamin’
Tabu terbagi dua. Tabu primer—yang dilarang masyarakat. Tabu sekunder—yang kita sendiri cap ‘tidak boleh’. Unicorn berdiri di persimpangan keduanya.
- Kekacauan sosial sudah bisa diprediksi.
- Kekacauan pribadi sudah dimulai.
Tetapi alasan kita tetap membuka pintu ada di tempat lain. Kita takut ‘diri sendiri akan hancur’.
Pada akhirnya unicorn tak menginginkan dirimu, tapi serpihanmu. Setelah kau serahkan, kau tak lagi utuh. Tapi sebagai gantinya kau menerima hadiah saat meleleh perlahan.
“Siapa yang harus kugenggam”
Saat Joo-hye menutup pintu dan naik, ia melihat suaminya di ujung koridor. Suaminya memegang amplop rumah sakit. Di dalamnya selembar foto. Punggung Joo-hye yang duduk di kursi. Bibir pria menempel di tengkuknya. Di balik foto, tulisan pena merah tegas:
YOU KNEW.
Do-hyun tetap di dalam kereta di stasiun akhir. Seorang rekan yang mencarinya naik. Detik sebelum pintu tertutup, kartu yang diulurkan menyentuh dadanya. Surat pemanggilan komite etik.
Bisa kututup pintunya? Atau harus kututup? Tidak, akukah yang ingin menutupnya?