“Dia itu, kan, yang tidur sama kamu minggu lalu?”
Detik gelas bir itu membeku, cahaya kabin bar malah makin hidup. Aku hendak menarik kakiku di bawah meja namun, sudah lebih dulu, mata Suyeon bergerak. Senyum 0,2 detik lebih lambat daripada kakak kandungku, Sujin. Senyum itulah masalahnya.
Aku mengingat malam itu. Satu potret di ponsel Sujin, titik kecil di tengah leher. Satu titik yang sangat pribadi melebar di depan mata Suyeon. Asap rokok mengerut, kabin menyempit. Hening mulai melangkah.
Saat kata 'keluarga' berubah racun
Aku menumpuk wajah Suyeon di atas wajah Sujin. Bentuk sama, suhu berbeda. Selisih tiga senti, setetes aroma pahit. Namun lekuk di ujung senyuman, irama nafas yang tertelan saat berciuman, semua sama. Tabu bukan meniru tubuh, tapi meniru kebiasaan.
Suyeon menempati kursi kosong Sujin. Seperti lampu pentas dinyalakan kembali sebelum adegan kedua dimulai.
Kasus 1. Minseo, 29 tahun, pemilik salon kuku
Di gang belakang Hongdae, Minseo bertemu dengan Jaemin yang harumnya seperti parfum kakaknya, Minjeong. Di pantry kantor desain, Minseo bicara duluan. “Eh, ini warna pilihan kakak, kan?” Jaemin meletakkan cangkir teh. “Jadi, ganti?” “Perlu?” Keduanya menelan tawa. Jam dinding pantry menunjukkan 23:47.
Minseo menemukan serpihan cat kuku Minjeong di punggung tangan Jaemin. Jaemin mengingat bentuk kuku Minjeong di ujung jari Minseo. Menyusun ulang puzzle yang sudah dikenal. Malam itu, di bawah lampu pantry, Minseo memandang cinta kakaknya untuk pertama kali. Bukan mencuri, tapi inspeksi teliti.
Kasus 2. Sejin, 31 tahun, bartender
Di ruang VIP klub Gangnam, Sejin terjebak dengan Do-hyun, mantan pacar adiknya, Yejin. Do-hyun mengulurkan tangan tanpa kata, Sejin menjawab dengan tegukan bir. Musik makin bergema, ruang di antara mereka makin sempit.
“Sudah berapa lama putus sama Yejin?” “Seminggu?” “Kalau aku?” “Pertama kali hari ini.”
Do-hyun menulis namanya di punggung tangan Sejin sambil tersenyum. Ujung jari Yejin yang pernah melepaskan tangan itu bergetar. Sejin menggambar ulang ciuman pertama Yejin di punggung tangan Do-hyun. Seperti mainan yang sudah usai, kakak mengeluarkannya lagi.
Mengapa mengulang?
Seperti kata Freud, nafsu makin tajam bila terpendam. Garis keluarga terajut rapat seperti gulungan benang tebal, namun bila putus, jejaknya makin jelas. Jejak yang dirasa pada kakak pertama dihidupkan kembali pada kakak kedua. Bukan sekadar pengulangan, tapi ritual menarik masa lalu lalu membongkarnya. Lebih besar, lebih panas, merobek titik yang sama. Kali ini lebih diam, lebih hebat.
Aku berkata pada Suyeon. “Kali ini berbeda.”
Suyeon tersenyum kecil sambil miringkan gelas. “Kalau sama juga tak apa.”
Lampu kabin padam. Di dalam pupil masing-masing, kami menghapus siluet Sujin. Awal baru tumbuh di atas cerita yang sudah usai. Panggung terbuka lagi, kakak kedua memenuhi kursi kosong kakak pertama. Dan perlahan, sekali lagi.