Saat mesin mati, yang kugenggam bergetar
Minhyuk mendorong tuas transmisi ke P. Mobil bergetar pelan lalu berhenti. Begitu mesin mati, suara kipas AC pun lenyap.
Dia duduk di kursi penumpang. Song Jisu. Rekan baru yang Minhyuk perkenalkan sebulan lalu. Blus kuning lemon itu membuka lekuk dadanya.
"Turun di sini saja ya?"
"Ya... ah, tunggu sebentar."
Tangan Minhyuk bergetar di atas setir. Sinar lampu jalan yang lewat menyentuh punggung tangannya. Ujung jarinya menekan kulit kemudi dengan keras.
Napas Song Jisu memburu. Ia mengangkat tas ke atas lutut dan menoleh. Kancing blusnya terlepas satu.
Selama 7 menit 30 detik tak ada kata terucap. Hanya napas kami berdua yang mengisi kabin.
Lemon dan asam laktat, serta tengkuk Minhyuk
Aku mengintip dari balik pohon ginkgo, lima belas meter dari mobil. Pukul 23.46. Anak-anak sudah tidur. Minhyuk mengirim pesan: "Mengantar Song Jisu sampi rumah."
Aku mengenakan sepatu dan keluar begitu saja. Kabin terlihat jelas. Song Jisu menunduk. Tengkuk Minhyuk condong ke arahnya. Aromanya yang kukenal baik—lotion peppermint usai mandi—lenyap.
Tapi malam itu Minhyuk mewangikan sesuatu yang lain. Aroma lemon bercampur asam laktat, bau keringat dan kulit yang bertemu. Itu bukan dariku.
"Terima kasih," kata Song Jisu. Tangannya menggagang pegangan pintu. Tapi pintu tak terbuka. Tiga detik, lima detik. Tangan Minhyuk menyentuh tangan Song Jisu sekilas.
"Ah... maaf."
Yunhui dan Jaehun di koridor lantai 11
Juni 2023, Yunhui berdiri di koridor apartemen lantai 11. Ia baru menerima pesan bahwa suaminya, Jaehun, terlambat. "Mengantarkan Sejin yang mabuk," katanya.
Yunhui tak bertanya. Ia hanya berdiri di depan lift. 23.52, lift terbuka. Jaehun keluar sendirian.
"Hei, kenapa di sini..."
"Tidak tahu... udara malam enak."
Dari leher Jaehun tercium Chanel Coco Mademoiselle. Wangi yang tak pernah Yunhui pakai. Jaehun menghindari pandang Yunhui. Matanya tertuju pada iklan wanita di dinding lift—bibir merah mengejek.
Sejak itu Yunhui makin pendiam. Setelah anak-anak tertidur, ia duduk di sofa ruang tamu menatap kekosongan. Jaehun merasa istrinya berubah. Padahal Yunhui baru mulai melihat lebih dalam.
Blackbox Sejin, dan hening Minsu
Musim panas 2021, Sejin membuka blackbox mobil suaminya, Minsu—hal yang biasa tak pernah dilakukan. Di layar, Minsu duduk bersama wanita: sahabat istri atasannya yang pindah dua tahun lalu.
4 menit 21 detik. Wanita itu berkata, "Waktu itu... terima kasih."
6 menit 15 detik. Wanita turun. Minsu diam di tempat, tak mematikan mesin.
Malam itu Sejin mencium leher Minsu. Tak ada bau apa-apa. Namun justru itu yang menakutkan: ketiadaan bau berarti tiada bukti apa pun terjadi.
Bagaimana udara dalam mobil bisa mendidih?
Hening bukanlah suara, melainkan getaran udara. Aliran udara di antara dua orang di dalam mobil membangkitkan gema denyut yang lama kami lupakan dalam pernikahan.
Tak ada kata, tapi banyak terucap. "Andai", "barangkali", "kalau saja".
Pernikahan adalah rentetan percakapan tanpa henti. Namun percakapan itu hanyalah pengulangan kisah yang sudah kami tahu: uang kursus anak, ulang tahun ibu mertua, daftar belanja.
Tapi mobil dengan wanita asing berbeda. Karena kita tak tahu apa-apa, segala kemungkinan bernapas hidup.
Bagaimana wanita itu melihat suamiku? Wujud apakah dia di matanya? Dalam sesaat itu, aku memandang suamiku dengan mata asing.
Karenanya kita memutar kembali 7 menit 30 detik itu tanpa ujung. Waktu itu tumbuh lebih besar, lebih dalam, lebih berapi-api dari peristiwa nyata.
Subuh saat Minhyuk pulang, dan ujung jari bergetar
00.18. Minhyuk masuk. Aku duduk di sofa. Apa katanya?
"Sudah lelah", "anak-anak tidur nyenyak?", "kenapa belum tidur."
Tapi aku tak menjawab. Minhyuk mandi, keluar. Setetes air dari rambutnya jatuh di lenganku. Tetes air yang dingin.
Saat tetes itu meresap, ujung jariku bergetar. Napas Minhyuk menyentuh telingaku. Udara hangat dari tubuhnya membelai pipiku.
Di ranjang, kami terbaring berjauhan 30 cm. Namun udara di sela 30 cm itu menggelora.
Tangan Minhyuk mendekat. Sekali, ujung jari menyentuh lalu lepas. Dalam getar itu, 7 menit 30 detik di mobil bangkit kembali.
03.12 dini hari, ujung jari masih dingin
Minhyuk tertidur. Aku memandang punggungnya, lalu bangkit.
Menuju dapur untuk minum, tapi kembali lagi ke kamar. Kuambil ponselku. Google Maps dinyalakan, posisi mobil Minhyuk dicek.
23.46, di jalan belakang taman. Di titik itu.
Ujung jariku masih dingin. Namun di bawah kulit dingin mengalir darah mendidih.
Ekspresi apa di wajah Minhyuk selama 7 menit 30 detik itu? Pandangan Song Jisu bagaimana?
Aku membayangkan hening mereka. Dalam hening itu aku menelanjangi Minhyek, Song Jisu, dan diriku sendiri.
Saat ini, udara dalam mobil masih hidup. Di ujung jari Minhyuk, di nafas Song Jisu, dan di ujung jariku.
7 menit 30 detik belum berakhir. Waktu itu terus tumbuh, lebih dalam, lebih panas, menelan kami.