Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Kalimat Tertutup di Tahun Ketujuh yang Menutup Malam Terakhir Suami-Istri

Usia pernikahan 7 tahun, satu kalimat di samping ranjang menutup malam terakhir mereka. Mengupas habis hasrat dan ketakutan yang tergenggam di balik kata itu.

pernikahankamar tidurpenolakanhasratpasangan
Kalimat Tertutup di Tahun Ketujuh yang Menutup Malam Terakhir Suami-Istri

Telapak tangan yang basah keringat merayap memasuki selimut. Ujung jari yang menyentuh pinggang Heesoo terasa dingin, sedangkan napas Minjae tetap panas.

“Mal ini tidak bisa.”

Sesaat, ranjang berderit seolah akan terpelanting. Tangan Minjae terhenti, lalu perlahan meluncur menuruni seprai. Punggung tangannya terasa berat seperti balok besi hidup, lalu lunglai seperti krustasea yang kehilangan tentakel. Dingin yang mengalir di punggungnya meresap ke paha Heesoo. Bukan hembusan AC. Suhu tubuh Minjae turun dengan cepat.

Heesoo menahan napas. Gemetar yang naik ke tengkuk menjalar ke bahu hingga ujung jari berkedip. Napas Minjae makin berat. Bukan napasnya yang membesar, melainkan suara napas yang meredup semakin nyaring. Sekali tarikan, udara tajam seperti pecahan besi tertancap di tengah paru-paru dan tak sanggup keluar.

Udara kamar pekat. Aroma body wash lemon dari kulit Heesoo bercampur bau rokok Minjae, menggantung seperti layar di atas ranjang. Di dalam sederetan bau itu, udara luar yang nyempil di celah jendela pun, uap humidifier dari dalam rumah pun, tak sanggup menembus.

Minjae menatap langit-langit. Heesoo mengikuti tatapannya lama. Di sekitar sakelar lampu, kotoran nyamuk menunjukkan jejaknya walau dalam gelap.

Saat itulah Heesoo menyadari jari kelingking kiri Minjae sedikit terangkat.

Jari itu selama tujuh tahun menggeser tali BH-nya, mengetuk lembut tonjolan di bawah dada, dan selalu yang pertama menemukan tengkuknya ketika Heesoo memejamkan mata.

Malam ini jari itu tak menyentuh tubuhnya, tak menyisir rambutnya. Ia hanya melayang di atas kehampaan seolah dihapus handuk, lalu lenyap jauh ke dalam selimut.

Heesoo mengingat urat di punggung tangan Minjae. Bila urat itu menegang, telapak tangan Minjae akan membelai pinggangnya dengan hati-hati. Bila urat itu kendur, Minjae akan mencium pipinya dan berbisik, “Capek?”

Kini urat itu tampak bening di bawah cahya LED putih. Seperti batang kapal yang berlayar di atas lautan es, ia tak menjamah tubuhnya, pun tak menjamah hasratnya.

Di ujung ranjang, jari kaki Heesoo bergoyang. Satu-satunya menyentuh betis Minjae. Namun lebih mirip percobaan mengukur jarak ketimbang sentuhan. Betis itu keras, tapi begitu disentuh sedikit bergetar. Getaran itu hanya 0,2 detik—listrik penolakan pertama dalam tujuh tahun.

“…Mal ini tidak bisa.” Heesoo hampir berbisik. Ia mencengkeram bibir agar kata tak terlepas lagi, agar tak menjadi kata yang tak bisa ditarik kembali.

Namun kata itu telah lahir. Ia menerjang udara kamar lalu menancap di dada Minjae seperti panah tajam.

Minjae memejamkan mata sejenak. Saat kelopak mata bertemu, aroma lemon dingin dari tubuh Heesoo menusuk hidungnya. Di dalamnya ada kulit, napas, dan sinyal akhir dari kita yang terakhir kali Heesoo berikan padanya.

Minjae perlahan membuka mata. Di dalam bola matanya masih ada Heesoo. Namun di situ pula ada guncangan yang hendak menghapus Heesoo.

Minjae tak menurunkan pandang dari langit-langit. Ia tak menatap Heesoo. Ia tak menatap hasratnya yang melayang di atas tubuh Heesoo.

Heesoo menghindar. Ia hanya menatap urat di punggung tangan Minjae. Ia berdoa agar urat itu tak menegang lagi, agar tak naik ke atas tubuhnya lagi.


Benang hitam melayang di atas ranjang. Itu rambut Minjae. Rambut itu turun lembut di atas pipi Heesoo. Tapi Heesoo menengok. Rambut itu lewat, lalu terbang menuju jam meja di samping ranjang. Jam menunjukkan pukul 01.17—waktu yang mengingatkan malam pertama mereka tujuh tahun lalu. Malam itu, Minjae menggenggam tangan Heesoo, “Besok aku masih di sampingmu.” Malam itu, Heesoo tertawa, “Bagaimana kalau lusa?”

Kini jam itu mencatat waktu penolakan pertama dalam tujuh tahun.


Minjae perlahan menoleh. Punggungnya menghadap Heesoo—lebar, tapi kini tembok yang tak lagi bisa memeluknya.

Heesoo menatap punggung itu. Punggung itu menanti sentuhannya. Tapi tangannya gemetar. Tangannya menjadi hantu yang melayang di atas punggung Minjae.

Tangan kiri Minjae turun ke sisi ranjang. Tangan itu lenyap jauh ke dalam selimut. Ia tak menyentuh tubuh Heesoo, tak menyentuh hasratnya. Ia hanya melayang di atas kehampaan, lalu lenyap ke dalam gelap.


Heesoo perlahan menoleh. Punggungnya menghadap Minjae—sempit, tapi kini pintu yang tak lagi terbuka untuknya.

Heesoo mendengar napas Minjae. Napas itu seperti ombak kecil yang melayang di udara kamar. Tapi ombak itu tak sampai ke tubuhnya.

Diam turun di atas ranjang. Diam memenuhi ruang di antara Heesoo dan Minjae. Diam menjadi titik akhir penolakan pertama dalam tujuh tahun.


Malam itu, di atas ranjang, Heesoo menatap tempat tangan Minjae turun.

Tak ada apa-apa di sana. Tak ada tubuhnya, tak ada hasrat Minjae. Hanya kekosongan penolakan pertama dalam tujuh tahun.

Heesoo perlahan memejamkan mata. Ia berdoa agar tangan Minjae tak naik lagi, agar tak mengusik tubuhnya lagi. Tapi tangan itu tak naik lagi. Tangan itu melayang di atas kehampaan, lalu lenyap ke dalam gelap.


Di sisi ranjang, tangan Heesoo gemetar. Tangan itu menanti tangan Minjae. Tapi tangan itu tak naik lagi. Tangan itu lenyap di ujung penolakan pertama dalam tujuh tahun, lenyap selamanya.

← Kembali