“Nanti aku ada kumpul-kumpul sama teman kuliah, takut pulangnya kelewat malam.”
Kalimat itu meluncur dari bibirnya sambil meletakkan ponsel—tepat setelah enam bulan kami bersama. Aku tersenyum, walau dadaku seperti disiram es. Lagi. Hari itu pun aku tak sengaja menemukan foto teman-temannya di Instagram. Di bawah cahaya kerlap-kerlip, meja penuh gelas, dan orang-orang yang tak pernah kutahu namanya. Di pinggiran foto, ada bayangan jari yang terpotong setengah. Jari itu—yang tadi malam tanpa arti kugigit—sekadar bayangan kabur dalam jepretan.
Kipas yang Terbelit
‘Aku takut ia memperkenalkanku karena khawatir aku terluka, atau justru khawatir aku akan mempermalukannya.’
Ia menyembunyikan diriku. Tapi alasannya tak sesederhana itu. Kalimat “Belum waktunya” sesungguhnya menjinjing pandangan ganda: kau istimewa, tapi juga memalukan. Ia membayangkanku di hadapan teman-temannya—apa yang akan kukatakan, ekspresi wajahku, pakaian yang kupakai. Dan dalam bayangannya, aku selalu perempuan yang agak kurang dan agak memalukan. Teman-temannya akan tertawa pelan, “Dia, lho? Serius?” Bisikan itu akan membekukan jantungnya seperti balok es.
Jihun dan Soyun
Jihun sudah enam bulan bersama Soyun. Soyun, 29 tahun, bekerja di start-up sebagai pemasar. Mereka langsung terjerumus ke ranjang sejak hari pertama, lalu menyusup ke tiap sudut rumah masing-masing. Namun di linimasa Jihun, nama Soyun tak terselip sepatah kata pun.
“Foto kita berdua sambil minum bir, yuk?” tanya Soyun.
Jihun membalikkan ponselnya sambil tersenyum. “Hari ini kita berdua saja, pelan-pelan.”
Soyun menatap bola mata Jihun dalam cahaya yang berayun. Di sana tergambar perempuan lain—wajah teman-teman Jihun menempel di wajahnya. Cermin cinta yang retak.
Struktur Kekuatan Rahasia
Terkadang, menyembunyikanku memberinya kekuatan yang menggelitik. Aku adalah rahasia dan hartanya. Sementara teman-temannya tertawa ribut di bar, kami meneguk nafas panas di atas ranjang. Keesokan harinya, ia menelepon seseorang, “Kemarin abis kumpul langsung pulang.” Saat itu ia menikmati kebebasan buatan dusta.
Aku diam-diam menerima struktur ini. Sebab aku pun menemukan hasrat aneh: semakin ia menyembunyikan, semakin aku membara. Begitu aku melangkah di depan teman-temannya, aku tak lagi menjadi rahasia. Maka setiap kali ujung jari dinginnya menjelajah tubuhku, aku menjerit lebih liar—di balik dinding yang tak dapat dilihat teman-temannya.
Selalu Ia Berdiri di Balik Dinding
‘Sebenarnya, aku takut pada salah satu dari ‘teman’-nya, kan?’
Ia membangun ruang yang tak dapat kumasukkan diri, lalu menjahit aku di situ. Aku bertanya, jika kelak berdiri di hadapan teman-temannya, menjadi perempuan seperti apa aku. Yang riang dan cekatan sehingga mereka terpana? Atau yang membuat mereka mendesah pelan, “Cuma segitu, ya?”
Aku pernah mencuri pandang daftar teman-temannya: dua belas orang. Di antara mereka ada wanita yang bercerita deras soal mantan, pria yang tahu selera lama sang kekasih. Begitu aku melangkah, aku akan menyaksikan siluet perempuan lain di sorot mata mereka.
Siapa Akan Memecahnya?
Ia tak menyembunyikanku karena belum waktunya. Ia menjaga api terdalam kami dengan menutup rapat-rapat pintu. Aku adalah rahasianya, ia adalah rahasiaku. Kami takut, seandainya melangkah ke kawan-kawannya, sorot panas itu akan padam.
Maka kini aku bertanya: Apakah kau ingin menghancurkan rasa takutnya yang menyembunyikanmu, atau justru ingin mempertahankan cinta yang terus membara di balik rasa takut itu selamanya?