“Tidak, ini benar-benar pertama kali”
Di ujung tangga bata bawah tanah kafe. Minwoo menyeretku seperti mendorong. Napas berbau asap rokok datang lebih dulu. Lalu, tiba-tiba pipiku bergetar seperti tersapu angin. Ini salah. Aku tak ingin terlihat bukan pertama kali. Tapi bibirku bergerak duluan. Minwoo, yang cukup tinggi, menunduk. Sebuah lampu senter gemerlapan menyinari celah kami. Saat itu, ujung jarinya menelusuri kulitku. Terlalu hangat, aku menutup mata. Lima belas tahun, detik pertama yang belum tersegel meledak seperti dosa.
Di luar nekat, di dalam gemetar
Tak teringat siapa lebih dulu. Yang kuingat hanya 0,3 detik ketika bibir Minwoo menutupi bibir atasku—tubuhku seketika mati listrik.
‘Kalau… ini benar-benar pertama kali bagaimana? Tidak, tidak. Aku sudah sering melihatnya kan. Di film, di novel, di cerita teman-teman.’
Tetapi dadaku tenggelam. Mengapa? Aku mendengar kata ‘murni’ melarikan diri dariku. Entah Minwoo tahu atau tidak, dia berbisik pelan.
“Memang ini pertama kalinya? …Benar. Kalau begitu pejamkan mata.”
Begitu mataku terpejam, gelap yang lebih pekat turun. Lalu napas Minwoo mengalir ke dalam diriku. Aroma melon manis. Bukan rasa rokok, bukan rasa kopi, rasa tak berbentuk.
Tiga ‘aku’ menari
- Aku luar: “Sudahlah, ciuman sekali dengan mahasiswa Minwoo tak akan membalikkan hidupku.”
- Aku dalam: Stempel hitam sudah ada. Bagaimana dengan fetis ciuman pertamaku?
- Aku pelindung: “Tenang. Tak ada yang tahu. Ini akan jadi rahasia kita berdua.”
Ketiganya saling dorong. Minwoo tetap bergerak lembut. Bintang di matanya menyentuh sudut mataku. Kau juga ingin ini menjadi pertama, ‘kan.
Saat itu, jari Minwoo menyisir rambutku. Terlalu mesra, air mata hampir keluar. Dan aku sadar: ‘pertama’ ternyata kata yang diciptakan belaka.
Kisah nyata 1: Hyejin, 24 th
Hyejin sedang nge-date tak resmi dengan pacar, Jaeyoung, hari ke-37. Tiap kali kencan usai di halte bus, ia menenggak leher menunggu reaksi Jaeyoung. Hari ini mungkin ciuman—atau tidak. Tidak, harusnya ditunda. Momen pertama harus spesial.
Tapi Jaeyoung hanya melambaikan tangan. Hyejin menghitung dalam hati: senyum tipis empat detik, kedipan mata dua detik, bibir sedikit terbuka… nol detik. Hari itu pun nol detik. Jaeyoung malah mengecek ponsel. “Sudah larut. Sampai jumpa besok.”
Pulang ke rumah, Hyejin rebahan, matikan-nyalakan ponsel. Algoritme YouTube melempar video ‘tips ciuman pertama’. Ia lewati. Sebagai pengganti obat tidur, momen pertama yang hilang berputar di kepala.
Kisah nyata 2: Doyun, 27 th
Enam bulan lalu, di pesta kantor, Doyun mendapat ciuman pertama dari senior Sejin. Persisnya, senior yang menciumnya. Di lorong belakang bar, tangan Sejin mencengkeram pinggang Doyun.
“Pertama kali? …Ya.”
“Kalau begitu ingat baik-baik. Aku kekasih pertamamu.”
Sejin tersenyum lalu lenyap. Keesokan harinya Doyun memerah bibir bertanya terus:
‘Itu memang ciuman pertamaku? Atau aku sudah kehilangan arti ‘pertama’ sejak berada di bar?’
Hari berikutnya, Sejin menepuk bahu Doyun santai. “Kemarin kecelakaan. Maaf.”
Saat itu, sesuatu lepas dari tubuh Doyun. Kata ‘pertama’ terjatuh pecah.
Mengapa kita terobsesi pada ‘pertama’?
Psikolog Robert Sternberg menyebut ‘pengalaman pertama’ sebagai efek korek api. Begitu sakelar terbuka, otak menyimpan ingatan itu seperti foto—menggigit. Namun yang terlewatkan satu hal:
Momen pertama bisa diplesetkan. Bukan kemurnian, melainkan detik yang seperti sandiwara bisa dipotong-potong.
Karena itu kita terus menekan tombol rewind. Ingin mengulang. Tidak, ingin memajukan.
Satu kalimat tersisa
Malam itu, pesan terakhir dari Minwoo berbunyi:
“Kita berdua bukan ciuman pertama. Tapi aku tetap ingin berdalih ini pertama.”
Aku mengangguk. Layar mati, dalam gelap aku sentuh bibir. Bekas ciuman masih ada.
Apa yang kau sebut ‘pertama’ saat ini?