Ia mandi semalam lalu merebahkan diri di ranjang. Piyama yang sama, bau handuk yang sama, posisi kaki yang menendang juga sama. Namun saat aku pejamkan mata dan kulit kami bersentuhan, aku tahu.
Lelaki ini bukan orang yang kukenal.
Bau baru yang pertama kumencium dalam dua puluh tahun. Sebenarnya bukan “bau”, terlalu samar untuk disebut demikian. Suhu yang naik dari pori-pori, kedalaman napas, sudut jari yang menggores—semuanya seolah lelaki lain menyamar. Seperti ia melepas topeng yang kutempelkan selama dua puluh tahun.
Pukul 03.17 dini hari, tak bisa tidur
“Kamu… berubah.” Aku mundur selangkah, ia tersenyum. Senyum yang dulu tak pernah ada—kelopak mata terkulai seperti layu. “Lelah sih,” jawabnya. Bukan lelah. Aku tahu betul wajah lelahnya selusin musim. Bukan soal kerutan baru atau rambut yang makin menciut. Sesuatu menghilang. Cara pandangnya padaku, titik diam pupil, kepekatan napas yang menahan diri. Saat lampu samping ranjang kumatikan, aku kembali merasakan gugup malam pertama kami—canggung, gemetar. Kini semua sudah tertebak, tubuhku justru mengeras seperti dulu. Suhu sama, mengapa terasa dingin?
Selaput tipis pernikahan yang tembus pandang
Kalau sudah dua puluh tahun, suami istri menaruh selaput bening di atas kulit pasangannya—selaput bernama ‘aku tahu’.
Dia orang yang sama. Aku mengenalnya habis. Tak ada lagi yang mengejutkan.
Tapi tadi malam selaput itu sobek. Keyakinan setipis plastik klip tiba-tiba menggelembung seperti buih, celahnya membiarkan udara asing merembes. Di kamar yang sama, aku berduaan dengan orang tak dikenal. Bukan sekadar “rasa cinta memudar”. Kami masih menampilkan wajah, suara, gerak yang persis sama. Namun ada yang bertukar posisi; seperti melihat diri sendiri di cermin, tetapi tidak tahu siapa bersembunyi di balik bola mata.
Pagi milik Sujin, suara Seungho
Sujin merinding saat mendengar suami Seungho berkata, “Ayo makan.” Kalimat yang biasa terdengar seperti rekaman orang lain. Sujin, ayo makan. Seperti mesin yang memutar cuplikan lama, nadanya menyimpang. Semalam Sujin bermimpi Seungho mencium wanita tak dikenal. Tersisa di telinganya pagi ini, menempel di belakang suara tersebut. Siangnya Sujin pergi ke arisan teman seangkatan. Ia bertemu pujaan masa SMA dua puluh tahun lalu. Otot punggung tangan, bau keringat leher—semua jelas. Tapi pulang ke rumah, tatap Seungho, Sujin tersadar: Orang tadi pagi juga bukan sosok dua puluh tahun silam. Wajah sama, perilaku sama, isi berbeda.
Mijin dan Jaehyeon, nafsu yang berbalik
Setiap kali bersetubuh dengan Jaehyeon—suaminya dua puluh tahun—Mijin selalu menengok ke samping. Jaehyeon masih menempelkan posisi tadi malam, tapi pandangannya terlalu sama hingga mencekam.
Tatapan yang terlalu identik membuatku tak bisa melupakan bahwa ia sedang melihatku.
Suatu malam Mijin meminta Jaehyeon memakai kain penutup mata. Setelah hitam melapisi bola mata, napas Jaehyeon terdengar seperti malam pertama mereka. Baru kali itu Mijin mendekati “suami asing”. Apakah di balik kain itu suamiku, ataukah seseorang yang tersembunyi selama dua puluh tahun?
Menjadi orang asing satu sama lain
Semakin lama berumah tangga, kita yakin telah ‘mengenal sepenuhnya’. Padahal itu ilusi. Sebenarnya kita hidup dalam ketidaktahuan utuh. Selama dua puluh tahun, momen-momen asing lewat begitu saja kita sengaja abaikan. Psikolog menyebutnya ketakutan pada keakraban—pemandangan yang tak terlihat karena terlampau dekat. Perubahan halus di antara pupil, suhu ujung lidah saat berciuman. Perubahan yang tak pernah diucapkan kini kita cium setelah dua puluh tahun.
Pertanyaan terakhir
Saat kau merasa orang itu bukan orang itu lagi, siapakah yang sesungguhnya kau ingat?
Sisa suhu di kulit? Atau dirimu sendiri, yang masih asing saat pertama kali kutemui dua puluh tahun lalu?