Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Potongan Kue Stroberi yang Memohon Tinggal Sedikit, Malam yang Mengakhiri Cinta 13 Tahun

Seiris kue stroberi yang ‘tinggal sedikit’ meledakkan cinta 13 tahun. Ketika kebohongan manis dan ketimpangan halus memuncak, kita tahu itu bukan soal pencuci mulut.

cinta-13-tahunketimpangan-terakumulasiinsiden-kuekaramnya-hubunganperhatian-halus
Potongan Kue Stroberi yang Memohon Tinggal Sedikit, Malam yang Mengakhiri Cinta 13 Tahun

“Ini yang habis siapa?” Sayangnya, satu kalimat ini meruntuhkan 13 tahun. Di atas shortcake stroberi yang baru keluar dari oven, tersisa satu bekas sendok. Jejak kaca yang tergores terasa jelas di punggung tangan seperti luka. Bekasnya terlalu dalam, gigitan itu terlalu besar. Begitu melihatnya, ia langsung tahu: ini bagianku.


Tetes madu yang seperti lava

Mengapa aku begitu marah? Dua buah stroberi dan beberapa sendok krim. Sebenarnya, seharian ia menanti kue ini. Satu-satunya manis yang tertunda karena kerjaan menumpuk. Permintaan “tinggalkan sedikit” hanyalah keramahan kecil. Perasaan bahwa keramahan itu dilanggar. Dulu, mungkin ia hanya tertawa melaluinya.

Mengapa aku rela taruh nyawa untuk kue ini?

Menutup pintu kulkas yang dingin, ia baru sadar: aku sudah sejauh ini mengalah. Bukan seiris kue itu. Yang muncul ke permukaan adalah semua pencuci mulut yang tak pernah ia makan dalam 13 tahun. Satu lembar tiket konser, ulang-teman, tanggal libur, bahkan payung saat hujan. Kata “nggak apa-apa” yang selalu diucapkan berkumpul, lalu lembut menempel di atas stroberi.


Saksi yang masih hidup

Kasus 1. Dahye & Jaein — 12 tahun 8 bulan

“Cuma cokelat. Cokelat mewah yang aku dapat kado.” Jaein menghela napas. “Sisa satu petak, Dahye bilang ‘aku habiskan soalnya kerjaanku berat’. Saat itulah mulai. Tanggal itu aku mau ambil cuti.” Jaein menoleh dari cokelatnya. “Aku mau istirahat, tapi kamu bilang ada kumpul kantor jadi aku diam di rumah.” Dahye bergumam bingung. “Itu… karena cokelat?” Malam itu mereka duduk di meja makan, lalu tiba-tela menelusuri riwayat cuti. Lima tahun ini: Jaein 3 hari, Dahye 28 hari. Jelas siapa yang lebih sering istirahat. Satu petak cokelat membongkar akumulasi 12 tahun.

Kasus 2. Yujin & Seongho — 11 tahun 1 bulan

Yujin menampar dinding sambil memegang satu papan telur. “Aku beli untuk bikin sup rumput laut, kamu gunakan buat orak-arik.” Seongho melongo. “Masalahnya apa?” “Bukan telurnya. Aku sakit perih haid, kamu nggak nyadar. Sup rumput laut yang ingin ku buat pun lenyap.” Malam itu Yujin mengemas tas sambil berkata, “Kalau bahan makanan saja kita tak bisa jaga, bagaimana kita jaga perasaan?”


Retak halus kekuasaan manis

Mengapa kita menjadi sepeka ini? Menjalin cinta adalah menempelkan nasib seseorang pada jadwal orang lain. Di tengahnya timbul selisih halus. Ketimpangan ‘aku sudah mengalah untukmu, tapi kau belum untukku’. Ketimpangan itu terlihat seperti makanan. Permukaan kue yang tidak sempurna, papan telur yang kosong, payung yang tak terlipat.

Karena itu kita menghancurkan sesuatu yang sepele. Bukan sekadar pencuci mulut, timbangan yang mengukur siapa lebih dicintai.

Kue pada akhirnya menjadi pemicu akhir dari tarik-ulur hubungan. Bukan dua buah stroberi, tapi klaim: “aku sudah sebesar itu berkorban”. Ketika klaim itu terbukti salah, 13 tahun hancur di ujung jari.


Berapa iris yang sudah kau habiskan?

Kau pasti pernah buka kulkas: satu bungkus mi yang lenyap, sepotong ayam goreng yang tergusur. Kesunyian dingin yang terasa saat itu. Bukan sekadar lapar. Perasaan bahwa seseorang menghabiskan bagianmu atas nama semua yang telah kau korbankan. Dan berat selisih itu.

Entah 13 tahun, 3 tahun, atau bahkan sehari, kita terus menimbang berat itu. Kue bukan cuma kelembutan manis, tapi simbol bagian yang harus kita tinggalkan untuk yang lain.


Adakah bekas seperti itu di kulkasmu. Pencuci mulut yang pernah diambil orang, atau kau ambil sendiri. Satu iris itu mewakili seberapa banyak waktu, hubungan, dan rasa rindu pada dirimu yang terlewatkan hingga kini.

← Kembali