“Jangan pakai celana hitam hari ini” “Hitam terlalu keras untuk auramu,” bisik Jae-woo pelan. Pagi yang kelabu, laki-laki itu duduk di samping ranjang, menyesap kopi. Ia sudah merapikan lima laci lemari pakaian berdasarkan warna: bra nude-pink tiap Selasa, celana satin beige tiap Kamis. Aku mengangguk, lalu berganti ke renda ungu. Saat itu aku berbisik dalam hati, ini pasti cinta. --- ## Anatomi Nafsu Jika kuingat kembali, saat itu adalah saat kasih sayam mengenakan topeng kekuasaan. Jae-woo ‘memilih’ pakaian yang ingin kupakai, dan kupercaya pilihannya adalah ‘izin’. Yang tak kupahami dulu: kontrol kerap dimulai dengan kalimat “ini demi kamu”. > Kenapa aku melepaskan warna hitam? Bukan karena warnanya. Aku khawatir dia kecewa. Dan kecewa bisa berubah dingin. Jadi, alasannya adalah takut. Ketakutan adalah variasi paling gelap dari cinta. --- ## Sejujurnya, itu bukan pacaran—itu pelatihan Ji-hye, 32 th, Asisten Manajer Marketing Sepuluh tahun lalu, Ji-hye bertemu Min-seok di perpustakaan kampus. Min-seok menyiapkan bekal makan siang vegan yang belum pernah ia cicipi: steak tempe, salad quinoa, yogurt almond. Setelah satu suapan, Min-seok berbisik, “Sayuran akan membuat kulitmu lebih bersih.” Awalnya ia tersentuh. Min-seok menawarkan mengelola rekening gajinya, dan ia menganggap PIN itu sebagai bukti cinta. Dua tahun kemudian, saat jamuan kantor ia makan satu potong udang goreng, pesan dingin datang: “Bau kamu menyengat. Mandi, hari ini tak usah bertemu.” Sejak hari itu Ji-hye memutuskan udang, babi, dan ayam. Sepuluh tahun berlalu, Instagramnya penuh salad pilihan Min-seok. Dari 400 komentar, 399 berbunyi “Wow, target tercapai”. Satu komentar tersisa berasal dari sahabatnya: “Masih mati kelaparan demi bajingan itu?” --- Su-jin, 35 th, Penerjemah Setiap pagi pukul 7.30 Su-jin menerima satu pesan KakaoTalk: “Hari ini ketemu siapa?” Ia mengirimkan jadwal ke pacarnya, Jun. Jika ada janji makan siang, Jun langsung mengetik, “Laki-laki? Maksimal 30 menit.” Awalnya ia menilai itu cemburu. Tiga tahun kemudian, Jun memasang perangkat remote di laptopnya tanpa sepengetahuan Su-jin. Jun memantau naskah yang ia terjemahkan secara real-time. Salah ketik muncul, langsung muncul pesan: “Baris 17, salah ketik. Kamu makin lambat.” Su-jin menjawab “makasih” di awal. Rasanya ada yang menjaga hidupnya. Suatu hari ia harus menghadiri pemakaman. Ibu teman SMA-nya wafat. Begitu mobilnya masuk halaman rumah duka, telepon Jun datang: “Kenalan pemakaman kok aku tak tahu? Kamu bukannya hari ini makan siang dengan atasku?” --- ## Mengapa kita terpikat? Psikolog Esther Perel berkata: “Sejak kecil kita diajarkan bahwa cinta berarti kontrol atas nama ‘keselamatan’.” Orang tua melarangmu keluar karena dingin, guru melarangmu memberontak. Jadi cinta identik dengan kendali. > Ketakutan lama membuat kita mengira kendali baru adalah bunga harum. Kita percaya kontrol adalah pengabdian yang dibalut obsesi. Dan bila kita berhenti percaya, dunia terasa terlalu lapang. Lapang membuat kesepian. Banyak yang lebih memilih penjara daripada kesunyian. --- ## Sayang, boleh kusebut namamu? Saat ini, barangkali seseorang menunggu pesanmu sebelum kau mengetiknya. Atau kau sudah merapikan lemari orang lain berdasarkan warna. > Saat membaca tulisan ini, satu wajah pasti terlintas. Jika orang itu masih membisikkan namamu, atau kamu membisikkan namanya, tanyalah sekali: yang tersisa di antara kita hari ini—apakah demi siapa, atau karena takut kepada siapa?
← Kembali