“Tadi lihat rumah, mau sewa tahunan atau bulanan?” tanya Suji sambil melempar kontrak di atas meja makan. Pukul 7.20 pagi, ia masih belum siap mengikat dasi sambil mencicipi yogurt. > Akhirnya. Sendokku membeku seperti es. Aku teringat malam pertama sepuluh tahun lalu. Waktu itu ujung jari gemetar, kini jantung membeku. Tak seorang pun mengucapkan kata cerai, tapi satu lembar kontrak menggantikan seluruh diam. --- ## Termometer nafsu yang selalu kututupi Kami sempurnakan seni mengabaikan satu sama lain. Ujung jari yang saling menyentuh di pagi hari, tatapan yang bertemu di malam, sofa yang kami giliran tiap akhir pekan. Namun dinginnya udara kerap berubah menjadi obsesi diam-diam. Kalau dia pergi, bagaimana? Tanya itu menderu di balik selimut setiap malam. Tapi begitu mata terbuka, aku membisikkan: Tak peduli. Ketidakpedulian adalah hipnosis. Cara paling kejam menyembunyikan cinta. Kupikir, kalau kukatakan baik-baik saja, akhirnya memang akan baik-baik saja. --- ## Air mata di atas kontrak, kisah Hye-jin Hye-jin (35) mendengar kalimat yang sama dari suaminya, Min-su, di tahun kesembilan pernikahan. “Yang penting pembagian harta rapi.” Ia tertawa. Tiga tahun ini tiada satu pun napas mereka yang bercampur. Tapi mengapa kontrak di tangannya gemetar? Ujung pena Min-su terkulai saat menandatangani. Gemetar itu bukan kelemahan suaminya, melainkan kehancurannya sendiri. Setelah Min-su pergi, Hye-jin memeluk kucing karamel di balkon. Kucing itu selalu memihak padanya, kali ini ia menoleh sekejap, lalu menatap jendela. Binatang pun bersiap pergi. Pukul 23.47, untuk pertama kali dalam tiga tahun, Hye-jin mengirim pesan pada Min-su. [Boleh datang sekarang?] Tak ada balasan. Ia berlutut menangis di tempat itu. Air mata ini lebih panas dari semua yang pernah tumpah. Saat ia sadari: hari-hari berpura-pura tak peduli adalah bukti cinta sebesar itu. --- ## Min-ki dan Seo-yeon, api dalam ketidakpedulian Min-ki (40) dan Seo-yeon (38) sedang hidup terpisah. “Kita lanjut formalitas saja?” ujar Min-ki. “Pura-pura suami-istri cuma di depan rekanan atau orang tua.” Seo-yeon mengangkat bahu. “Oke.” “Kalau begitu, yang kau inginkan apa?” “Hanya… ingin bersamamu.” Cangkir di tangan Min-ki jatuh bergemuruh. Setelah sepuluh tahun, pengakuan panas itu akhirnya terucap. Sejak hari itu, tak ada lagi sikap acuh. Enam bulan kemudian, Seo-yeon menyebut kata cerai. Ia tahu Min-ki bertemu perempuan lain. Ia mengobrak-abrik kamar dingin Min-ki. Di bawah tempat tidur, ia menemukan kotak pos berwarna kuning. Di dalamnya cincin lamaran yang ia lempar lima tahun lalu. Di bagian dalam cincin, tulisan samar terbaca: Selalu Milikmu. --- ## Ketidakpedulian yang memelanggar tabu Ketidakpedulian adalah penyamaran paling mematikan dari obsesi. Untuk menyembunyikan suhu panas di awal pacaran, kami memakai topeng dingin. Itu cara menutupi rasa cemburu. Para psikolog menamakannya paradoks acuh. Semakin kita abaikan, semakin tajam sosok itu tersimpan. > Pada akhirnya, ingin menghapus cinta, kita justru mengukirnya lebih dalam. --- ## Dinginmu, upaya melindungi apa malam ini Kau pun tadi malam terjaga, tak bisa tidur karena tak mendengar napasnya. Payung yang ditinggalkan di depan pintu, secarik memo di meja makan bisa membuat jantungmu berdebar. Tapi kau tetap menengok. Berpura-pura tak peduli. Apa sebenarnya wujud dingin itu? Apa yang kau lindungi hingga hidup begini dinginnya? Malam ini, bisakah kau menjawabnya?
← Kembali