“Pon kamu, sebentar.”
Jung-hwan diam-diam menyerahkan ponselnya.
Walau kereta bawah tanah goyah, layar tetap diam; hanya pupil Hye-jin yang tercermin di kaca gemetar.
Ia membuka folder ‘Baru Dihapus’, lalu menutup drop-down yang tak sengaja terbuka.
Dengan dua jari, ia perbesar satu video berdurasi 4 menit 21 detik, menekan lama.
Hapus.
Konfirmasi ulang.
Saat ikon tong sampah lenyap, ia menghela napas lega.
Jung-hwan baru menengok.
‘Apakah dia melihat, atau tidak?’
Bukan itu pertanyaannya.
‘Mengapa baru sekarang baru kau hapus?’
Layar Terkunci di Balik Cinta
Ponsel kekasih memang selalu begitu.
Tajam seperti peniti, sekaligus lembut seperti mimpi yang tak berdaya.
Satu kali swipe, semua privasi terbuka; namun sebagian besar pasutri menahan dahaga itu.
Hye-jin bukan tipe yang mengenyahkan hasrat.
Ia seperti daging beku yang baru akan dipanaskan—mendidih diam-diam seharian.
Jung-hwan tak tahu: setiap kali ia yakin Hye-jin mencintainya, gadis itu memutar tawa pria lain dalam kecepatan 0,25×.
Hidup yang Seperti Cuplikan
Sung-su.
Hari ke-31, pukul 02.17 dini hari.
Di motel nomor 302 dekat Stasiun Seoul, Hye-jin menggoyang tubuhnya seperti lilin.
Kamera terpaku di ketinggian mata, shutter berdetak tiap empat detik.
Yang pertama terekam: dahi Hye-jin di pantulan botol kaca.
Setiap kali alisnya mengernyit, ia berbisik pada diri sendiri: “Ini barang bukti.”
Barang bukti untuk siapa, sebenarnya?
Sejak itu, setiap pukul 02.17, ujung jari Hye-jin gemetar memanggil dirinya sendiri.
Video itu, hanya bernama ‘DSC_1734.mp4’, dipindahkan ke gDrive, lalu dihapus lagi, akhirnya tenggelam dalam folder tersembunyi.
Lubang di Dalam Lubang
Tiga bulan lalu, Hye-jin iseng mengeluarkan iPad tua Jung-hwan.
Begitu dinyalakan, layar memperlihatkan foto pakaian dalam wanita tak dikenal.
Sinkronisasi keliru?
Ia membiarkan foto itu tetap di sana.
Sejujurnya, ia mengulang-ulang tayangan itu—empat belas kali.
Pada putaran keempat belas, ia menggeser layar ke bawah, lalu mengambil tangkapan layar.
“Aku juga bisa,” bisiknya.
Mengapa, setelah menyaksikan pengkhianat, kita balik menghantam dengan cara yang sama?
Terlihat seperti pembayaran utang, padahal itu pembuktian eksistensi yang terpelintir.
Konfirmasi hidup yang sangat nyata: Aku masih bisa merasa sakit.
Manusia Transparan di Jadwal Cinta
Kisah cinta yang terlihat hanyalah notifikasi yang dipotong-potong.
Di antaranya mengalir pandang tembus, bau, dan suhu tubuh yang samar.
Hye-jin dan Jung-hwan tiap malam pukul delapan nonton film bareng,
Namun di tengah-tengah itu, Hye-jin teringat video 4 menit 21 detiknya delapan kali.
Jung-hwan pun begitu.
Setelah Hye-jin tertidur, ia menonton video 14 detik di kamar mandi.
Ia menutup mulut dengan punggung tangan agar kamera tak goyah.
Mereka mengisi kekosongan satu sama lain dengan ruang terdalam milik pasangan.
Gembala Emosi
Ahli psikologi menyebutnya pengkhianat balasan.
Menutup luka pasangan dengan luka baru.
Namun itu hanya nama indah; kenyataannya lebih gelap.
Saat dikhianati, kita berhadapan fakta: Aku tak lagi istimewa.
Untuk menanggung rasa itu, kita harus menodai diri sendiri—
Supaya tercipta keseimbangan: Aku seburuk dirimu.
Hye-jin menghitung titik itu dengan tepat.
4 menit 21 detik adalah batas kesabarannya.
Lebih lama, cinta runtuh; lebih sebentar, amarah belum matang.
Maka ia memusnahkan angka itu, namun jarum detik tetap berputar.
Di Balik Kode Layar
Mungkin kau yakin tak pernah membuka ponsel kekasihmu.
Kalau begitu, lakukan sekarang.
Saat ujung jari menyentuh layar, ingat angka apa yang muncul di benakmu.
Angka itu adalah hitungan mundur nafsu terdalammu.
Hye-jin masih terasa pahit di mulut saat melihat 1734.
Jung-hwan masih terjaga pukul 02.17.
Mereka bilang saling mencintai.
Seraya menggali lubang terdalam pada jiwa satu sama lain.
0,25 Detik yang Tak Berakhir
Yang kita sembunyikan bukan sekadar rahasia.
Itu laboratorium gelap untuk mencoba seberapa jauh kita sanggup mencemari diri.
4 menit 21 detik milik Hye-jin mungkin masih diputar di suatu tempat.
Mungkin di ponsel kita semua, jarum tersembunyi milik seseorang sedang berdetak.
Maka kutanya:
Malam ini, berapa detik yang telah kau hapus?
Dan apakah detik-detik itu menyelamatkan hubunganmu—
Atau justru menghabisinya?