“Kamu juga sudah nonton? Katanya Min-su dari kelas 3 punya USB-nya.”
Begitu tas pelajaran jatuh, anak-anak langsung berkerumun di pintu belakang, suara-suara tertahan. Aku belum tahu. Belum tahu bahwa dalam tong hitam kecil itu ada sesuatu yang sedang mendidih. Dan bahwa yang mendidih itu akan membakar jantungku lebih dulu, itu baru benar-benar tak kuketahui.
Dag! Kepala belakang perempuan itu menubruk tembok. 47 detik, hanya 47 detik. Layar laptop Min-su bergoyang di gubuk piknik tua yang runtuh di belakang kompleks kami. Saat tangan lelaki itu mencengkeram rambut—dadaku membuncah seperti mau meledak. Tubuhku belum tinggi, belum berisi, namun suara itu lebih dulu mematangkan bagian tubuhku yang tak kusadari.
“Udah lihat, kan? Itu beneran.” bisik Min-su. Aku hanya menelan ludah. Mulutku kering.
Sejak hari itu, Min-su terus memanggilku karena aku ‘sudah melihat’. Gubuk belakang bukit, kamar mandi warnet, lantai dasar parkiran apartemen. Layarnya semakin tajam, aku semakin gelap. Setiap 47 detik, tubuhku tahu: ini apa, mengapa ini panas, mengapa ini memalukan.
Kekang Tanpa Suara
Kelas 2 SMA, Jun. Seharian bersembunyi di ruang bawah tanah. Di jam istirahat pun, di rumah pun, dia seperti transparan. Ayahnya kerap kasar. Suatu hari, dari loteng bawah dia keluarkan juga USB hitam. Tapi berbeda dengan milik Min-su. Tokoh di layar terlalu kecil. Seperti anak SD. Jun berbisik.
“Aku juga pernah… sama anak seperti itu…”
Dalam titik-titik elipsis yang tak berujung, mata Jun berkilat—campuran takut dan terangsang. Aku melarikan diri. Setelah menutup pintu, aku tak pernah menoleh lagi. Dua tahun kemudian Jun lenyap ke lembaga pemasyarakatan anak, namun aku masih teringat derit besi pintu ruang bawah.
47 detik menjadi 47 menit, 47 jam, 47 hari.
Seo-yeon dalam Cermin
Mahasiswa baru, Seo-yeon bengkel teater. Di atas panggung ia lebih cemerlang dari siapa pun. Tapi begitu pintu kamar tertutup, lain cerita. Ia berbaring di depan cermin, menutup mata.
“Pertama kali lihat saat umur 12. Video itu ada di hp Mama.”
Kalimat “Aku ingin jadi wanita itu” terdengar lirih. ‘Wanita yang pura-pura terluka, yang tertindas lembut—kupikir kalau aku jadi dia, luka-lukaku akan diakui.’
Sejak saat itu aku tak lagi ke kamar Seo-yeon. Setiap matanya menatapku, usia 12-ku terpantul di cermin. Lantai tempat Seo-yeon berbaring seolah menjadi tempatku. 47 detik berubah menjadi 47 tahun yang datang menjemputku.
Layar yang Tak Berujung
Mengapa kita tergila-gila pada adegan itu? Buku psikologi berkata: ‘Otak yang belum matang menyesuaikan diri dengan rangsang.’ Tapi itu hanya setengah kebenaran. Yang memikat kita adalah tabu itu sendiri. Yang tak boleh dilihat, yang tak boleh dirasa. Di garis batas itu kami merasa diakui sebagai orang dewasa.
Tumbang 47 detik—itu adalah upacara dewasa kami.
Anak percaya: hanya dengan mematahkan larangan ia jadi dewasa. Namun bila pecahan kaca menancap di kulit, rasa sakitnya kekal.
Layar usia 12 tahun terus diputar walau kami sudah dua puluhan. Setiap kali perempuan baru, anak baru, derita baru—intinya tetap sama. Aku selalu berdiri sebagai penguasa adegan itu. Yang kuat di hadapan yang lemah dan terluka. Setiap 47 detik aku menjadi lelaki itu, sekaligus perempuan itu. Maka kini aku tak bisa lepas. Aku adalah adegan itu, dan adegan itu adalah aku.
Suara Pintu yang Tertutup
Pada detik ini pun aku tak sanggup mematikan video gelap itu. Tertutup mata pun terdengar kepala perempuan menubruk tembok, napas lelaki itu. Apakah aku benar-benar pernah menyaksikan adegan itu, ataukah aku tetap tinggal di dalamnya?
Suara pintu tertutup, derit besi, napas di cermin—semua sisa satu adegan. Dan sisa itu masih mengunci pintu hidupku. Tak ada kunci. Hanya derap langkah di luar, bisikan bahwa seseorang masih menuju ke mari. 47 detik menjadi 47 kehidupan yang mengikutiku.
Dan dalam 47 detik itu, aku masih berusia 12 tahun.