Koridor 202, 06:14
Derai keranjang cuci meluncur di atas karpet. Udara pagi masih menyimpan mata pedang malam. Aku menyelinap di balik cermin dekat pintu. Di balik kaca pengawas, sehelai kemeja putih tersapu lewat. Lengan basah merekat pada kulit, lekuk pinggang yang terbuka sejengkal. Detik itu mengguncang seisi hari.
Aku menyalakan aplikasi kamera. Di layar, Mina bergerak perlahan. Ujung kemeja naik, menyilakkan tali sutra putih. Aku menelan napas.
Tekan henti, dan semua usai.
Jari membeku.
Lift, 06:18
Detik sebelum pintu tertutup, Mina meluncur masuk. Aroma parfum pagi datang lebih dulu. Aku memeluk erat tas laptop. Lantai sepuluh. Tiap angka digital turun, kepala Mina dari belakang bergoyang. Sehelai rambut jatuh di tengkuk putih.
"Selamat pagi, Pak Direktur." Sapaan lirih saat pintu terbuka. Aku hanya mengangguk. Setelah ia keluar, aku tetap di tempat hingga pintu menutup.
Parkiran Bawah Tanah, 06:26
Di dalam sedan hitam. Rekaman dashcam menangkap sepatu merah Mina. Detak tumit menendal tanah, kamera tak melepaskannya. Ujung parkir lantai dua, garis yang terlintas di balik celana katun putih.
Tangkapan layar ke-87. Baterai 1%. Meski mesin dinyalakan dan AC dinyalakan, kabin masih membeku. Hanya urat di punggung tangan yang menari liar.
Ruang Direktur, 09:00
Monitor di atas meja. CCTV ruang istirahat lantai 3 menangkap Mina. Lampu neon menyerupai perak di rambutnya. Ia memakai headset, menaikkan volume, tapi di balik derau tak terdengar apa-apa.
Aku membayangkan.
"Mina, hari ini mie yahong lagi ya?" "Enak lho, Mba, coba sedikit."
Aku merogoh di bawah meja. Deskripsi lebih tak perlu. Tawa Mina sudah cukup. Kekosongan yang akan segera datang, sudah kupersiapkan.
Perjalanan Pulang, 19:35
Gerbong keempat jalur dua bawah tanah. Mina menancap earphone, menggeleng pelan. Blinding Lights. Aku memutar lagu yang sama. Satu gerbong terpisah, punggung Mina tertancap di mata.
Seorang mahasiswa di belakangnya menengok. Tiba-taku ingin mencaplok tatapan itu. Angkuh: kalau bukan aku, tak seorang pun boleh memandang Mina.
Ketika kau memandang punggung gadis muda, apa yang kau rasakan?
Dan apakah kau benar tak tahu, bagaimana ia memandangmu kembali?
Serambi Tangga Lantai 6 Apartemen, 23:12
Kartu digesek di keranjang cuci. Pintu terbuka, Mina muncul. Kemeja putih, tali bra terlihat tembus. Aku tak lagi bersembunyi. Aku mengangkat kamera.
Mina menoleh. Pertama kali, pandang kami bertemu. Aku menurunkan ponsel.
"Pak Direktur, hari ini juga difoto ya?" Aku terdiam. Mina mendekat, mengambil ponsel dari tanganku. Layar terbuka, 87 foto lenyap satu per satu.
"87 buah. Memang tiap hari." Satu demi satu. Foto terakhir terhapus. Ponsel dikembalikan. Mina mengangkat keranjang, meniti tangga. Di depan pintu, ia berhenti sekejap.
"Besok jangan sampai jadi yang ke-88."
Pintu tertutup. Lorong mati sunyi. Aku menatap layar kunci. Di kaca hitam, mata pria 67 tahun terlihat tua dan payah.
Di ujung lorong, hanya lampu hijau pintu darurat yang bersinar. Aku berdiri di bawah cahaya itu, masih mengingat punggung Mina 23 tahun. Lalu tersadar: nafsu ini takkan usai. Punggung gadis itu adalah sisa muda terakhir yang kumiliki.
Pria 67 tahun kini hanya bisa hidup menatap punggung itu. Bagaimana pun Mina memandangku, aku telah terjebak di belakang tubuhnya.
Kalimat yang diucapkan di depan pintu, "Besok jangan sampai jadi yang ke-88", terus bergema.
Aku masih di sana. Apakah derai keranjang cuci akan terdengar lagi, atau selamanya sunyi?
Punggung Mina lenyap, namun nafsuku tetap terpajang di bawah lampu hijau, menahan napas.