"Terima kasih, ya, temanku" Saat layar mati, aku sudah tahu siapa sebenarnya dia. Iya, jangan bohong. Kau juga tahu. --- ## Sidik Jari Nafsu Setiap kali ucap "Cuma senior kampus" terlontar, pupil matanya berkelip 0,3 detik. Terlihat sepele, tapi getaran itu sidik jari yang sudah tiga tahun kami amati. Saat itu tubuhnya sedikit condong ke belakang, ibu jari kiri melintas ke telunjuk. > Mengapa aku tahu lebih dulu, lewat hati, bahwa semua tanda ini adalah lawan dari cinta? "Teman" itu mengirim pesan pukul 01.17 dini hari, "Hari ini kebablasan ngobrol, haha." Tapi aku melihat struk parkir menempel di kaca depan mobilnya saat ia ke kamar mandi: Jakarta Selatan, daerah tempatnya tinggal. --- ## Duet Min-seo dan Ji-an ### Kisah 1: Min-seo, 29 tahun, Account Executive di agensi iklan "Mas, aku mau tanya serius," kata Min-seo sambil duduk di ujung ranjang, mengeluarkan kacamata dari kotak. Kacamata kekasihnya, Jun-hyeong. Tapi sidik jari di lensa milik perempuan. Jun-hyeong berkata seperti biasa, "Habis rapat makan malam sama junior kampus." Kalau begitu, mengapa di bagian dalam bingkai kaca tersisa bekas lipstik? Tiga hari Min-seo menggali file cadangan KakaoTalk Jun-hyeong. Ia menemukan folder tersembunyi berisi foto buram. 24 Desember 2023, malam Natal. Foto Jun-hyeong dan seorang perempuan berpelukkan di depan minimarket. Min-seo tak bercerita pada siapa pun. Ia mulai mengintai Jun-hyeong malam demi malam. Latihan buka kunci ponselnya selama tiga menit. Menggulir obrolan perempuan itu dengan dua jari. Mengapa ia menjadikanku tersangka? ### Kisah 2: Ji-an, 34 tahun, mahasiswa pascasarjana Ji-an mencatat pola panggilan tengah malam suaminya, Min-su, selama enam bulan. 02.34 AM "Dekat kamu aku merasa tenang." 03.07 AM "Ah, cuma teman SMA" Setelah tutur suara reda, Min-su menuju kamar mandi. Ji-an memandangi punggungnya dalam selimut. Dalam sekejap cahaya senter, nama "Si Anu" muncul 17 kali di daftar panggilan. Malam itu Ji-an mengambil jam pintar Min-su yang tertidur. Jam itu ternyata merekam detak jantungnya secara real time. 19.15: 87 bpm 21.24: 124 bpm 23.02: 136 bpm Ji-an tahu persis jam-jam itu Min-su sedang jalan malam bersama seseorang. --- ## Rasa Manis Larangan Mengapa kita terobsesi mengupas balik kata "teman"? Para psikolog berkata: bukan soal cemburu atau curiga, melainkan variasi canggih dari rasa kekurangan. > Yang kuinginkan bukan kebenaran, melainkan kebenaran yang kupikirkan. "Dia" adalah garis larangan yang diberikan pada kita. Karena dia hadir, hubungan kita sudah melaju menuju kiamat. Tapi yang penting, kiamat itu kita undang sendiri. Sebab kita sudah tahu. Saat ia ucap "teman", kita sudah membayangkan ciuman pertama mereka. Tangan lembutnya membelai tengkuknya. --- ## Tanya Terakhir Kau masih ragu mau buka ponselnya atau tidak. Padahal itu tak lagi penting. Karena kau sudah membayangkan malam pertama mereka. Kalau begitu, yang tersisa apa lagi?
← Kembali