Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Kata Itu Masih Menjilat Tubuhku Selama Sepuluh Tahun

Satu kalimat mantan yang masih datang dalam mimpi untuk menjilat luka. Bukan rindu, hanya keinginan menghapusnya.

perpisahanrasa ingin kembaliharga diritabukenangan
Kata Itu Masih Menjilat Tubuhku Selama Sepuluh Tahun

“Kini tubuhmu sudah milik orang lain”

Saat suara pintu menutup masih tergema di telinga, itulah kalimat yang dia lontarkan. Seperti asap rokok menyebar di dinding putih. Aku terduduk di tempat itu. Telapak kaki telanjangku menempel pada marmer yang dingin. Aku masih ingat suhu saat itu.


1. Hyejin, 34 tahun

Atap gedung, waktu makan siang. Rekan seangkatannya, Jihwan, bertanya.

“Hei, masih ingat kata-kata sialan itu?” Hyejin menghisap rokoknya pelan. “Dia bilang hidupku hancur karena aku.” Dia memadamkan rokoknya. “Aku juga punya. Apa yang aku katakan dulu.” Dia menunjuk langit abu-abu dengan telunjuk tangan kirinya. “Aku takut menjadi sepertimu karena dirimu.” Kim Hyunsoo berkata demikian. Sepuluh tahun lamanya kalimat itu menjilat pelipis Hyujin.


2. Mijin, 29 tahun

Apotek. Setelah delapan tahun, Junhyeuk membuka pintu.

“Bu Mijin.” Tangannya gemetar saat menerima resep. Di balik sekat, bola mata Junhyeuk tersenyum. “Masih ingat apa yang saya katakan saat itu?” “Aku mencintaimu sampai gila.” Junhyeuk menjawab. “Itu benar-benar terjadi.” Mijin berbisik saat kembali ke ruang obat. Kalimat itu memang benar.


3. Aku

Sepuluh tahun berlalu. Kalimat itu masih tertancap dalam tubuhku. Setiap subuh saat mata terbuka, tengkukku terasa gatal. Di tempat lidah terlepas, kalimat itu menjilat.

Aku tak menginginkan pertemuan kembali. Hanya ingin kalimat itu lenyap. Menghapus satu baris itu agar tak pernah muncul lagi dalam mimpi, agar tak pernah terucap di pipi kekasih baru.


4. Di depan cermin

Hari ini pun aku berdiri di depan cermin. Menyentuh bawah mataku. Apakah ada lubang tempat kalimat itu keluar?

Kini tubuhmu sudah milik orang lain. Kutiru pelan. Ujung lidaku mengeras. Kalimat itu hidup dan bergerak di dalam tenggorokanku. Tak bisa dikeluarkan, tak bisa ditelan. Kalimat itu sudah menjadi dagingku sendiri.


5. Penutup

Hyejin masih merokok di atap gedung. Mijin masih mengucapkan kalimat itu tiga kali sehari di apotek. Setiap malam aku bergumam sambil menendang selimut. Jika bertemu lagi, bisakah kalimat itu dihapus? Atau justru akan lebih dalam terukir?

Aku tak tahu. Yang jelas, satu kalimat itu menjilat tubuhku selama sepuluh tahun.

← Kembali