Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

"Sebelumnya bilang saja" — kata itu menjadi sidik jati yang tersimpan di tubuhku

Aturan sederhana 'kalau tidur dengan orang lain, kabari dulu' perlahan menjadi bukti yang runtuhkan aku dari dalam.

aturanpersetujuanrasa bersalahhancurnya hubunganetika

Rasa manis yang tertinggal di lidah

"Kau takkan pernah memberitahu, kan?" Junhyeok menutup matanya sambil menjilat punggung tanganku dengan sangat lambat. Napasnya yang lembap membasahi telingaku. Satu-satunya lampu bulat di langit-langit kamar hotel masih menyala—segala sesuatu tampak jelas, kecuali kami berdua yang justru kabur.

"Maksudmu memberitahu apa?"

"Kalau kau tidur dengan orang lain. Sebelumnya. Cukup lewat pesan singkat."

Saat itu aku mengira ini hanya permainan yang membuat senang. Bila lawan dari cinta adalah acuh, maka lawan dari cemburu adalah perduli. Logika sederhana itu meluncur di belakang tenggorokanku. Junhyeok menyediakan bingkai transparan, maksudnya membiarkanku menahan diri sendiri. Aku keliru mengira itu kebebasan.


Atau bukti

Klausul "cukup bilang sebelumnya" sebenarnya adalah izin untuk mundur selangkah. Bisikan sekaligus: "Sejujurnya aku tak apa bila kau tidur dengan siapa pun", dan permohonan: "Tapi aku tetap ingat siapa dirimu, jadi jangan sakiti aku." Kami sengaja membuat alibi.

  • Itu demi "hubungan terbuka sejati"
  • Demi menghargai otonomi pasangan
  • Sebab keputusasaan yang sopan lebih baik daripada kebohongan

Namun daerah yang dilafalkan kata-kata harus dijaga oleh tubuh. Di tengkukku, lipatan pahaku, ujung jariku, selalu tersisa batas yang tak terjemahkan. Maka pada akhirnya permintaan "beri tahu dulu" menjadi stempel tanggal rasa bersalah. Tertancap seperti nota kecil—bila dicopot, kulit ikut robek.


Jihye dan Eunji, dua malam

Jihye mengirim pesan pada Selasa dini hari pukul 02.14

"Aku sedang bersama orang lain. Bisa ketemu besok siang?"

Cahaya layar yang nyala lalu padam, seperti cairan meluncur di bibirku. Aku menggigilkan jari di dalam selimut selama setengah jam. Jihye kini berada di ujung jari pria tak dikenal, dan aku sama sekali belum siap berhadapan dengan fakta ini.

Akhirnya aku tertidur tanpa membalas, pukul 04.00. Begitu bangun, Jihye bertanya, "Tidak apa-apa?" Aku menjawab tidak apa-apa. Sebab aturan itu memang aku yang izinkan. Namun izin bukanlah kesiapan.

Eunji bahkan menolak pemberitahuan sebelumnya

"Kenapa kau tak bilang-bilang?"

"Sebab kalau kubilang, kita takkan tidur."

Kami sedang meneguk soju terakhir di kedai bawah tanah Yeonnam-dong. Eunji menggoyang-goyang sumpit di depan matanya, seolah gerakan itu sendiri bisa jadi pembelaan.

"Jadi aku bukan berbohong padamu, aku hanya menaati aturan yang kau minta."

Malam itu aku mencengkeram rambut Eunji dengan kepalan tangan. Wanginya asing, shampo yang tak pernah kucium. Sambil berciuman aku menjilat agar bau asing itu menjadi milikku. Kalimat ‘itu bukan dusta’ ternyata lebih kejam daripada dusta itu sendiri.


Mengapa kita terpikat pada aturan itu

"Beritahu aku sesuatu yang sebenarnya tak ingin kutahu."

Para psikolog menyebutnya bukti sosial. Kita terus memastikan betapa besar orang lain menginginkan kita, dan sampai sejauh mana mereka mampu menahan hasrat itu. Sejak kecil, tatapan orang tua—berapa lama mereka memandang, dan seberapa cepat berpaling—adalah lembar nilai pertama dalam hubungan.

Pada akhirnya, aturan "beri tahu dulu" adalah alat pengikat agar orang yang pergi pun tak benar-benar menjauh dariku. Aku ingin mereka membawa rasa bersalah. Agar rasa itu menjadi beban yang, bahkan saat mereka pergi, tetap terselimut di tubuhku seperti selimut tambahan.

Maka aku jadikan keputusahan mereka sebagai sidik jati milikku.


Pertanyaan terakhir

Akankau memberitahuku sebelumnya, atau kaukan diam dan tetap menjadi sidik jati seumur hidup?

← Kembali